Teater Sabda Kritik Meikarta di UINSA - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 22 November 2017

Teater Sabda Kritik Meikarta di UINSA

doc. Moh/Arta

Araaita.com – Teater Sabda tampilkan sepuluh personilnya di perhelatan malam puncak Haflah Miladiyah ke-51 Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himapro) Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya pada Jumat kemarin (17/11).

Teatrikal dengan iringan musik yang berbeda-beda, satu per satu dari lima punggawanya mengawali jalan cerita mereka. Dalpo, sebagai mahasiswa rajin dengan jas almamater UIN Sunan Ampel Surabaya, berkaca mata, serta buku di tangannya sebagai bukti konkrit julukan yang disandarnya. Dia tidak sendirian, Ulfa yang memainkan peran yang sama turut menggandengnya. Jika ada mahasiswa yang rajin, maka mahasiswa nakalpun mengganggunya. Mereka adalah Kliwin, Dani dan Helos. Peran mereka bertiga hanya mengganggu Dalpo dan Ulfa.

Bagian kedua giliran Zulfa dan Della. Zulfa memerankan sebagai ibu rumah tangga yang suaminya berpenghasilan seadanya. Namun Della justru malah sebaliknya, ia menampilkan sebagai wanita karir yang suaminya kaya raya. Obrolan masalah rumah tangga menjadi bahasannya. Perbincangan itu berlangsung sekitar dua menit.

Jeda penampilan berlalu, seseorang yang mengenakan kaos polos dan celana pendek putih serta topi bundar khas seorang pedagang sayur-sayuran memulai bagian ketiga. Disusul dua ibu tukang rumpi, Alvi dan Ismi, memanggilnya untuk membeli sayurannya Ulum. Mereka bertigapun memulai obrolan dengan bahasa-bahasa aneh nan centil yang mampu memecahkan tawa para penonton.

Usai obrolan mereka bertiga, kini masuk sesosok pria pakaian rapi kemeja putih ditambah dasi hitam di dada seolah seorang pengusaha sukses. Namanya adalah Firman. Lalu diikuti oleh Fifah yang notabene teman lamanya memasuki panggung dramanya. Mereka berdua memulai percakapan, Firman yang saat itu menjadi pria mapan mencoba menggoda Fifah untuk menikah dengannya. Padahal Fifah sudah bersuami. Namun, rencana Firman digagalkan oleh tiga mahasiswa nakal tadi.

Setelah cerita kehidupan di dunia, Teater Sabda mengalihkan ke cerita akhirat. Adzan berkumandang dan selang beberapa detik, muadzin menginformasikan ada mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora yang meninggal menegangkan suasana.

Kebingungan para penonton pun menimbulkan pertanyaan apa yang akan terjadi di panggung drama itu. Empat orang yang menjadi roda kendaraan jenazah dengan menggotong jasad seseorang mengawali jalan cerita yang menjadi pamungkas drama tersebut. Kemudian Rachman, sebagai seorang kyai yang berperan untuk menalkin (mendoakan jenazah yang baru dikuburkan, red) jenazah itu.

Alhasil, suasana dramapun berubah menjadi mencekam. Prosesi talkin dan doa serta selawat melarutkan keharuan para pemain lain. Mereka bersedih dengan apa yang sudah dilakukan di dunia. Adegan itupun memungkasi teatrikal yang mereka sajikan.

Dari adegan terakhir itu, menjadikan alasan mereka memilih ‘Meikarta’ sebagai tema yang diusungnya. Rachman Affandi, mahasiswa semester lima Bahasa dan Sastra Arab itu mengungkapkan bahwa ‘Meikarta’ adalah rumah masa depan yang semua orang tempati setelah mati.

“Meikarta identik dengan rumah masa depan. Dan rumah masa depan yang sesungguhnya adalah rumah yang akan kita tempatikelak setelah mati,” ungkap Rachman yang berperan sebagai seorang kyai itu saat diwawancarai Minggu kemarin (19/11).

Segi filosofis dari penampilan mereka memberikan pesan bahwa semua yang ada di dunia pasti mati. “Semua yang di dunia pasti mati, hanya tinggal menunggu saja kapan waktunya,” imbuh pria yang memakai jubah putih dan sorban yang diikat di kepalanya itu. (Moh)

No comments:

Post a Comment