Aku - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 16 December 2017

Aku

 
Alza Narohmah*
Menikmati hari-hari yang berlalu tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya posisi kita dan seperti apa dunia disekitar kita. Dunia ini terlalu luas untuk kita ketahui dan memahaminya bukanlah hal mudah. Banyak hal-hal sepele yang kadang membuat kita terjerumus dalam pikiran yang tak masuk akal. Segala macam yang ada di dunia membuat kita tersesat, jika kita sendiri tak mampu untuk mengerti situasi yang terjadi.

Hari ini aku menjalani hariku seperti biasa sebagai seorang pelajar tingkat akhir. Ya, aku duduk di bangku kelas 12 SMK dan namaku Ana. Hari ini merupakan hari dimana pelajar memulai aktivitas kembali setelah berguling dengan kebebasan di hari libur mingguan. Seperti biasa, hari ini diawali dengan upacara rutinan yang pastinya tak hanya di sekolahku, tapi juga sekolah di seluruh nusantara. Yang mana akan berlanjut dengan kegiatan jumpa fans dan juga berkabungnya para haters, ketika para guru memandu artisnya. Dan aku adalah salah satu haters dari sekian banyak artis sekolah, termasuk artis yang bernama matematika.

Biar kujelaskan. Yang ku maksud dengan artis sekolah adalah mata pelajaran yang sudah sering aku jumpai selama hampir 12 tahun. Dan aku, bukannya tidak menyukai semua pelajaran di sekolah. Dulu saat SD, aku termasuk anak yang rajin, bahkan sempat meraih beberapa juara di sekolah. Lalu saat SMP, tingkat prestasiku mulai labil ketika aku berada di kelas 8. Sistem di sekolahku itu, setiap kenaikan kelas maka akan ada perombakan kelas. Sehingga aku yang dulunya kelas 7C harus berpindah ke kelas 8A. Bukan hanya kelasnya, tapi juga penghuninya. Itulah yang membuat beberapa nilaiku turun karena terkejut dengan prestasi masing-masing anak. Tapi semua itu kembali normal saat aku di kelas 9. Aku juga masuk 10 besar dalam ujian nasional dari seluruh siswa disekolah.

Lalu sekarang, aku benar-benar merasa membuang uang. Mungkin karena pengaruh teman serta imanku yang kurang kuat, aku menjadi anak yang katakanlah ‘ndablek’. Tapi semuanya kulalui dengan santai meski banyak hal, entah itu senang atau justru masalah yang datang. Semuanya kuhadapi dengan siap hati. Dari semua itu, di waktu sekaranglah aku bertahan. Aku mulai mendapati hatiku berbicara dan menuntunku untuk berubah. Sejak awal ajaran tahun ini, aku mulai menekuni beberapa pelajaran yang masih mampu kuterima. Entah kenapa, sejak SMK aku menjadi anak yang lemot. Susah untuk menerima pelajaran, terutama matematika atau apapun yang memerlukan rumus. Menurut temanku, aku seperti ini karena kebanyakan MSG.

Meski aku tidak bisa menerimanya dengan cepat, aku berusaha untuk memahami apa yang diajarkan guru dan teman-temanku. Seperti hari ini, merupakan hal asing bagi teman-temanku, melihat aku mengerjakan matematika di jam istirahat. Dua temanku sempat mengajakku ke kantin, tapi hanya gelengan kepala yang kuberikan. Jangankan teman-temanku, aku sendiri pun kadang bingung melihat diriku yang mudah berubah sikap. Ya, aku memang anak yang moody. Jadi dalam sehari, aku bisa menjadi berbagai macam Ana.

“Dasar Jimong!” seru Maya. Ya, Jimong adalah sebutan dari Maya untukku yang dikutipnya dari salah satu nama tokoh di drama korea. Jimong adalah salah satu tokoh peramal di serial drama korea kerajaan. Aku hanya mendesis saat mendengarnya memanggilku seperti itu.

Salah satu hari di usia dunia telah terlewati. Sekarang saatnya pulang menuju first home in the world. Dimana aku akan menghabiskan sepiring nasi dan berbagai macam lauk yang dibuat ibuku. Seperti biasa aku pulang bersama Fania dan Dira. Kami selalu pulang bertiga meski nantinya di jalan kami terpisah oleh si kuda masing-masing.

“Yuk pulang. Dir, nanti malem aku ke rumahmu ya?”

“Ngapain Na?” tanyanya padaku.

“Nagapain lagi kalau bukan minta les matematika gratis. Hehe..” sergah Fania.

“Biar aja, lagian masa kamu gak mau bantuin aku sih?” kesalku pada mereka berdua.

“Bukannya dukung kek, mau tobat nih!” seruku makin kesal.

“Iya deh. Mau jam berapa?” tanya Dira.

“Pokoknya sekitar pukul 7 aku jalan. Pokoknya jam segitu deh.”

“Ya udah nanti chat aja.”

“Aku gak punya kuota. Tapi coba ntar aku pake hp adekku deh.”

Fania masih juga menggodaku yang masih kesal. Biar saja, siapa suruh merusak mood orang. Hari ini aku naik motor bebek bukan motor matic yang biasa aku bawa.


“Widihh, Ana naik motor bebek. Emang bisa?” tanya Fania.

“Kalau aku gak bisa, mana mungkin nih motor bisa keparkir cantik di sini sih?”

“Hehe. Iya ya. Ya siapa tahu, kamu minta bonceng bapak kamu, terus bapak kamu pulang naik angkot.”

“Udah ah terserah. Pokoknya ntar aku jangan ditinggal, soalnya masih baru bisa, jadi ntar aku pelan naiknya.”

“Tau deh nanti.” Tawa mereka pun pecah meninggalkan muka masam diwajahku.

Aku benar-benar pelan menaiki motor bebek ini. Padahal biasanya kami bertiga seperti orang yang sedang kejar-kejaran di jalan. Saling mendahului, karena sama-sama menaiki motor matic. Tapi kali ini, mereka benar-benar tidak ingat jika aku naik motor bebek, sehingga aku tertinggal sendirian. Kami memang satu arah pulang, tapi hanya aku yang paling jauh dan tidak satu wilayah dengan mereka.

Saat berhenti di lampu merah, aku terkagum melihat pemandangan jalanan di depan mataku. Tidak biasanya aku memperhatikan jalanan seperti ini. Ini pertama kalinya aku mengagumi jalanan yang penuh asap kendaraan. ku pandangi pepohonan yang berbaris rapi, memberikan kesejukan dalam tebalnya kabut asap kendaraan. Di depanku terlihat jembatan yang biasa ku lewati begitu saja. Dan aku melihatnya saat ini begitu indah hingga tak sadar bahwa lampu sudah berganti hijau. Mobil di belakangku membunyikan klaksonnya ketika aku belum tersadar untuk melajukan bebekku.

Di sepanjang jalan yang biasanya kulewati dengan cepat pun, kini aku memandang takjub pohon-pohon dari jauh. Seperti tersihir ketampanan oppa korea, aku tersenyum menatap tubuh berkepala hijau itu. Inilah yang sedikitnya membuatku bahagia. Meskipun aku buruk dalam pelajaran, tapi tidak sepenuhnya kesadaranku akan sekitar luntur. Aku sangat suka merasakan alam sejuk yang membuatku tenang. Dan biasanya, akan muncul beberapa kata yang harusnya langsung kutulis di buku jurnalku.

Malamnya aku benar-benar menepati ucapanku untuk datang kerumah Dira.

“Assalamu’alaikum. Dira.. Dira..”

“Wa’alaikum salam. Masuk yuk.” Ajak Dira. Aku bertemu ibunya Dira dan segera menyalaminya. Belum juga ku keluarkan bukuku, ibu Dira sudah kembali dengan suguhan yang tentunya membuatku senang.

“Mau mulai dari mana?” tanya Dira.

“Materi ini nih. Eh, Fania gak kesini?” tanyaku

“Gak. Mana mau dia kalau ada yang selalu ngajak chat.”

“Dasar!”

“Udah ah, mana soalnya? Ini tuh pakai rumus ini nih.” Dira mulai menjelaskan beberapa rumus yang tentunya tidak mudah untuk ku pahami secara kilat. Hingga pukul 9, baru ku putuskan untuk pulang. Aku berpamitan dengan ibunya Dira dan segera pulang, bukan takut dimarahi tapi takut jalanan sudah sepi.

*****

Menjalani kewajiban selama 5 hari dan beristirahat namun penuh kerjaan selama 2 hari. Hal itu terus terlewati sampai hari ini. Hari ini banyak jadwal kosong karena dewan guru sedang rapat. Aku, Fania dan Dira serta ketua kelasku, Toni, sedang bercengkerama sambil bercanda ria. Setiap kali kami berkumpul, pasti ada saja yang ku tanyakan yang mana akan membuat teman-temanku bingung dengan pertannyaanku. Seperti kejadian hari ini yang melahirkan kalimat ‘Sejarah kata lebih rumit dibanding sejarah dunia dan manusia yang sudah rumit’. Hal itu bermula ketika aku menanyakan kenapa pintu dinamakan pintu. Aku memang tipe orang yang akan menanyakan apa saja yang muncul di kepalaku. Dan perbincangan ini berlanjut hingga aku menanyakan beberapa maksud dari kata-kata yang lain.

“Bang.” Begitulah kami memanggil Toni.

“Kenapa lemari disebut lemari, padahal kan bentuknya kotak dan bahannya kayu?” tanyaku.

“Kenapa gak dinamain kotak atau kayu aja?” sambungku.

“Aduh, kalau Ana udah tanya kaya gitu. Udah deh, mending tinggal pergi aja.” Kata Dira.

“Bentar.” Pikir Toni.

“Lagian ngapain juga tanya hal begituan. Bikin pusing tau gak?” sambung Fania.

Tak puas hanya dengan satu pertanyaan, aku terus bertanya hal ini itu yang akhirnya membuat tawa mereka pecah. Tak perduli dengan respon yang ku dapat, aku hanya merasa nyaman seperti ini. Mungkin juga sebagai pengalih dari patah hati yang sempat melandaku. Saat akan pulang sekolah, pertanyaan aku ganti dengan sesi cerita. Dan seperti biasa, yang kuceritakan adalah kisah si drakula di rumahku.

“Fan, kamu tau gak, dari semalem aku tuh tidurnya gak jelas banget.’

“Maksdunya?”

“Aku tidur sejam, terus bangun lagi sejam, tidur lagi sejam, bangun lagi sejam. Terus kaya gitu, dan bangun itu aku cuma nangkepin nyamuk doang tau gak.”

“Halah biasa kamu. Kaya gak ada hal lain selain nyamuk.” Kata Dira.

“Heeh. Masa pas nelpon kemaren malem ya Dir, tiba-tiba ada suara tangan mukul lantai. Pas aku tanya, eh jawabannya habis nyium nyamuk.”

“Terus habis itu, dia tiba-tiba njerit ada tukang nasi goreng. Gini nih ‘heh ada tek-tek!’. Masa gitu?” sambung Fania pada Dira. Aku memang sering cerita kalau ada tukang nasi goreng yang sering lewat depan rumahku. tukangnya sering mukul-mukul wajan buat tanda, dan bunyinya itu ‘tek tek tek’. Jadi deh aku nyebutnya tek tek.
*****

Begitulah setiap hari aku melewati hari-hariku. Bukan hanya Fania dan Dira temanku, banyak sekali teman yang aku miliki. Apalagi di kelas aku termasuk kpopers yang akut dari kpopers yang lain. Dulunya aku juga mengikuti ekstra dance cover bersama dua temanku di kelas, tapi baru dua kali tampil, aku memutuskan untuk berhenti. Karena waktu yang kumiliki tidak seluang mereka. Cukup melihat saja aku juga masih senang, walau kadang aku merasa menyesal dan iri. Tapi inilah aku. Aku bukan orang yang tertutup, bahkan bisa dibilang sikapku sebagai seorang anak perempuan telah melampaui yang lain.

Banyak hal yang tidak bisa kukendalikan dari sikapku, terutama mulutku. Dan hal itu akan membuatku marah pada diriku sendiri dan menyesalinya hingga berhari-hari. Mereka yang membenciku, aku tahu itu. Mau bagaimanapun juga, memang seperti inilah diriku. Sekuat-kuatnya diriku untuk terkendali, selalu saja akan ada saatnya kesalahan itu lepas. Aku selalu mengatakan pada temanku untuk menjadi anak yang pendiam, tapi kenyataannya aku sendiri lupa telah mengatakan hal itu.

Menurutku hal yang paling sulit saat ini di dunia adalah mengatakan maaf. Aku selalu berusaha untuk berterima kasih atas segala hal yang menimpa diriku maupun bantuan dari orang lain. Tapi akan sangat kelu saat lidahku harus mengatakan maaf untuk kesalahan yang aku buat. Terlebih di depan beberapa orang yang membuatku sengaja menghindar.

Terlepas dari semua kekonyolan dan masalah yang aku ciptakan untuk diriku sendiri, aku tetaplah aku. Karena aku tidak bisa jadi kamu, dia ataupun mereka. Aku hanyalah aku, yang terlahir dengan segala sifat dan kekurangan. Selama tidak ada yang menyalahkan segalanya yang terlahir bersamaku, aku akan tetap menjadi diriku. Karena aku adalah aku.


*****

*BIODATA DIRI
Nama Lengkap                   : Alza Narohmah
Jenis Kelamin                     : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir        : Pekalongan, 09 Maret 2000
Asal Sekolah                      : SMK N 2 Pekalongan
Jurusan                              : Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)
No. Induk                            : 3886
Alamat                                : Ds. Wiradesa, Kec. Wiradesa, Kab. Pekalongan
Alamat Email                      : alzanarohmah@gmail.com
No. Handphone                  : 0857-1113-0368

No comments:

Post a Comment