Ayah - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 16 December 2017

Ayah

Nining Nur Yanti*

Ayah bilang, anak laki-laki itu tidak boleh menangis. Sesakit apapun rasa yang diderita, anak laki-laki harus kuat menahannya. Air mata memang bukan simbol kelemahan seseorang. Bukan pula hal yang memalukan jika kita benar-benar merasa ingin menangis. Tapi Ayah selalu mengajarkan pada ku, bahwa aku harus bisa menahan tangisku meski aku merasakan rasa sakit yang luar biasa sekalipun. Ayah bukannya ingin mematikan emosi ku. Ayah hanya mengajari aku untuk menjadi kuat. Sehingga kelak, jika aku sudah dewasa, aku bisa menjadi Ayah yang kuat seperti Ayahku saat ini.

Namaku Althaf Rifqie Abrisam. Ayah bilang, namaku berarti sebagai seorang laki-laki yang lemah lembut. Aku pernah bertanya padanya mengapa dia tidak memberikan aku nama yang berarti kekuatan, keperkasaan, dan hal-hal yang menggambarkan laki-laki yang kuat, padahal beliau selalu bilang jika sebagai laki-laki aku harus selalu kuat. Jawaban yang Ayah berikan jauh dari apa yang aku pikirkan. Beliau bilang, jika aku harus menjadi laki-laki yang lemah lembut. Kuat bukan berarti perkasa dan keras. Percuma jika hanya kuat dalam fisik saja. Manusia akan lebih berguna jika mampu menggunakan kecerdasan otak dan kekuatan hatinya daripada hanya kekuatan fisik. Ayah lebih berharap jika aku kuat dalam hati dan jiwa ku. Maka dengan begitu, seluruh raga ku pun akan senantiasa kuat.

Ibu ku sudah meninggal. Ayah bilang, beliau meninggal ketika melahirkan ku. Aku juga pernah bertanya apakah Ayah menyesal memilikiku, sosok yang telah merenggut nyawa perempuan yang dicintainya. Ketika itu, Ayah memarahiku. Ia bilang jika tidak pernah sekalipun dalam hidupnya ia berpikir bahwa kematian Ibu adalah kesalahanku. Jika Ibu meninggal, semua itu adalah takdir Tuhan yang harus diterima. Itu juga bukti rasa cinta Ibu kepadaku, beliau berjuang untuk memperlihatkan dunia kepadaku meski diirnya harus meregang nyawa untuk itu. Ayah mengikhlaskan kepergian Ibu, dan tergantikan dengan kehadiranku yang akan menemani hidupnya.

Tidak pernah sekalipun dalam ingatanku, 12 tahun aku bersama Ayah aku melihatnya menangis. Beliau selalu tampak bahagia. Sinar wajahnya selalu cerah dan bersemangat, meski keadaan kami tidak selalu baik. Kami hanya tinggal bertiga dengan Nenek dari pihak Ibu disebuah rumah kecil di dekat kebun sawit seorang Tuan tanah kaya raya. Hidup di zaman perang bukan perkara mudah. Ayahku hanya prajurit biasa. Ia bukan jenderal, atau prajurit berpangkat tinggi lainnya. Namanya pun mungkin tidak ada yang tahu. Bekerja mengabdikan diri bagi Negara adalah hal yang selalu dipegang teguh oleh Ayah. Ayah sama sekali tidak menuntut pengakuan atas perjuangannya. Cita-citanya untuk kebebasan begitu besar. Kehidupan kami tidak terjamin. Sebagai pribumi, apalagi rakyat rendah seperti kami, untuk tidur tenang saja sulit. Kami harus siap sewaktu-waktu melarikan diri ketika para orang-orang Barat itu datang dan berusaha mengambil kami.

Sekarang, umurku sudah 17 tahun. Lima tahun sudah Ayah pergi jauh untuk berperang. Aku tidak tahu dimana lokasi pastinya. Selama lima tahun itu pula aku selalu menunggunya. Berharap suatu hari Ayah pulang dengan senyum cerah sambil mengabarkan kemenangan Negeriku. Aku tidak pernah sekolah, tapi aku bisa membaca dan berhitung. Selama Ayah pergi, aku bekerja sebagai pembantu di rumah seorang ningrat. Seorang Tuan tanah kaya raya pemilik kebun sawit yang sebagian lahannya boleh kami gunakan untuk bertempat tinggal. Anak majikanku sangat baik. Tuan muda cerdas yang selalu berbagi ilmunya padaku. Sekarang, aku tinggal sendirian. Dua tahun setelah Ayah pergi, Nenek ikut-ikutan meninggalkanku. Beliau meninggal karena batuk darah yang sudah lama di deritanya. Aku tidak tahu nama penyakitnya. Aku tidak bisa mengobatinya, karena kami hanya orang miskin. Untuk bisa makan saja sulit, apalagi berobat. Sejak saat itu, Tuan ku menyuruhku untuk tinggal di kediamannya.

Masih terbayang diingatkan ku ketika Ayah pamit untuk pergi. Aku tidak menangis saat itu. Menahan rasa sakit mati-matian hanya agar terlihat kuat didepan Ayah.

“Althaf, Ayah pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, Ayah akan segera pulang. Jaga dirimu baik-baik. Kau satu-satunya harta Ayah yang berharga.”  Ujarnya sambil membelai puncak kepalaku. Kupejamkan kedua mataku ketika usapan lembut itu mengalirkan desiran menenangkan didadaku. Aku selalu merasa aman dan nyaman ketika Ayah melakukan ini.

Aku mencium punggung tangan Ayahku. Tubuhku bergetar, aku merasakan badanku melemas tiba-tiba. Ayah memberikan senyum terbaiknya. Sebuah pelukan hangat Ayah berikan untuk perpisahan kami. Ini mungkin yang terakhir, tapi aku tidak pernah berharap begitu. Aku… meski sulit, aku berusaha percaya, beliau pasti akan kembali, dan kita akan bena-benar bersama dalam kedamaian yang haqiqi.

“Ayah, janji? Benar-benar akan pulang?” Tanyaku ragu. Meski saat itu aku masihlah anak kecil, tapi aku tahu bahwa resiko seseorang yang berangkat perang adalah mati. Terbersit perasaan tidak rela di sudut hatiku, khawatir bahwa Ayah tidak akan pulang selamanya. Takut bahwa ini adalah pertemuan terakhir kami. Tapi aku berusaha keras meyakinkan diriku, berusaha kuat seperti yang Ayah katakan. Aku meyakinkan diriku bahwa Ayah akan pulang, beliau akan menepati perkataannya. Pantang bagi laki-laki mengingkari janjinya sendiri.

Ayah berjongkok. Menyamakan tingginya denganku. Ia menatapku dengan lembut, meraih tangan kananku dan menggenggamnya dengan erat.

“Ayah berjanji, kita akan bertemu, dan bersama lagi. Ayah akan segera pulang.” Beliau mengaitkan kelingkingku dengan miliknya sendiri, kemudian mengusap dahiku.

Aku mengangguk. Menguatkan hatiku, meyakinkan diriku bahwa semua ini akan berakhir. Aku terus memandang Ayah yang berjalan menjauh dari rumah hingga beliau hilang dari pandangan. Saat itu, air mataku mengalir. Sesaaat setelah sosok Ayah hilang tertelan tikungan jalan. Aku menunduk, menahan diri untuk tidak berteriak. Rasa sakit ini benar-benar menghancurkan pertahananku. Aku lemah. Aku bukan laki-laki kuat seperti yang selalu dibicarakan oleh Ayah. Setelah bertahun-tahun aku menjaga hatiku, membentengi jiwaku agar menjadi kuat, saat itu semua penghalang hancur lebur oleh perasaan sakit ku sendiri. Aku baru merasakannya. Ditinggalkan itu… semenyakitkan ini. Rasa seperti ini kah yang dirasakan Ayah ketika Ibu meninggal? Mengerikan sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ayah saat kelahiranku. Kehilangan orang yang dicintainya, lalu mendapat beban mengurus anak sepertiku. Setidaknya saat ini, aku masih bisa berharap Ayah akan pulang. Tapi beliau dulu, sudah tidak memiliki harapan apa-apa lagi untuk bersama Ibu.

Aku menangis. Terduduk di emperan rumah kecil tempat kami tinggal. Nenek menghampiriku, beliau menangis sambil mengelus bahuku untuk menenangkanku. Sakit sekali. Aku berharap Ayah tidak akan lama, jadi kami akan bisa bersama lagi.

Kejadian lima tahun lalu itu selalu membayangiku hingga saat ini. Ah… lima tahun sudah berlalu, dan sampai detik ini aku tidak pernah tahu bagaimana kabar Ayah. Apa dia baik-baik saja? Sejak keberangkatannya, aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya. Ayah seperti raib, hilang ditelan bumi.  Atau sebenarnya Ayah…… Ah, sudahlah, aku harus percaya bahwa Ayah akan baik-baik saja ditempatnya. Ayah, aku merindukanmu. Kuharap kita akan segera bertemu lagi.

*****

“Kau disini, aku mencarimu sejak tadi.” Aku terkejut ketika mendengar suara Tuan muda. Aku berbalik. Mengingat soal kepergian Ayah membuatku melamun hingga lupa waktu. Daritadi aku hanya disini, di halaman belakang rumah Tuan Pramana. Pagi tadi aku sedang membersihkan halaman belakang rumah Tuan Pramana sampai akhirnya aku duduk istirahat di bawah pohon mangga dan malah mengingat Ayah.

Aku segera mendekat kepada Tuan muda Aditya, membungkukkan badan dengan sopan. Aku sudah bekerja disini sejak umur 13 tahun, dan selama itu pula lah Tuan Aditya yang selalu mengajariku membaca dan menulis. Bagi rakyat jelata sepertiku, bisa sekolah hanyalah angan-angan belaka.

“Maaf, Tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku seraya menunduk dalam.

Aku mendengar helaan napas dari Tuan muda. “Jangan menunduk dihadapanku, aku tidak suka diperlakukan seolah derajatku lebih tinggi.”

Aku tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran Tuan muda Aditya. Jika para bangsawan lain akan berlomba-lomba untuk menjadi “yang paling dihormati” maka Tuan Aditya berbeda. Ia tidak pernah mau diperlakukan selayaknya statusnya sebagai seorang ningrat. Ia tidak suka dengan rasa hormat berlebihan yang diberikan oleh orang-orang sejenis kami—para rakyat kecil. Bahkan Ayah Tuan Aditya sendiri, yaitu Tuan Pramana akan benar-benar marah jika ada pelayannya yang berani mengangkat kepalanya didepan beliau.

Sejak awal, jika saja Tuan Aditya tidak mencegahnya, aku tidak akan mungkin masih bekerja disini. Tuan Pramana tidak menyukaiku karena aku berteman dengan Tuan Aditya. Sebenarnya, Tuan Pramanatidak pernah membenciku di awal aku bekerja disini, beliau malah memperlakukanku dengan baik. Apalagi sepeninggal Nenek. Aku menjadi sebatang kara dan Tuan Pramana memeprlakukanku lebih dari ia memperlakukan pelayan-pelayannya yang lain. Semuanya akan tetap seperti itu jika saja aku tidak berteman dengan Putranya. Ketika aku tahu dampak dari pertemanan kami, aku berusaha keras bersikap layaknya pelayan rendahan kepada Tuan Aditya. Ini semua aku lakukan hanya agar harga diri beliau tidak di jatuhkan oleh para saingannya sesama ningrat. Berteman dengan pelayan adalah aib. Itulah yang aku tahu dari informasi Pak Budi, tukang kebun disini. Aku hanya ingin membalas budi baiknya dengan tidak menghancurkan reputasinya dikalangan bangsawan lainnya.

Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti situasi. Meski Tuan Aditya selalu menganggapku bocah ingusan yang tidak mengerti apa-apa karena beliau empat tahun lebih tua dariku, tapi aku tidak merasa begitu.

“Saya hanya bersikap selayaknya, Tuan.” Ujarku pelan. Aku masih enggan menatap matanya. Aku harus berusaha bersikap seperti yang seharusnya pelayan lakukan.

Aku mendengar Tuan Aditya mendecih, ia pasti kesal dengan kelakuanku. “Apa Ayahku memarahimu lagi?” Tanyanya.

Aku diam. Daripada memarahi, Tuan Pramana lebih tepat disebut mengancamku. Aku harus berusaha bersikap sebagaimana seharusnya, atau aku akan diusir dari sini. Lebih baik berada disini daripada hidup dijalanan. Dijalanan lebih berbahaya daripada disini. Aku takut… aku tidak bisa bertahan di jalanan, orang-orang berkulit putih itu pasti akan menangkapku dan membunuhku, padahal aku masih menunggu Ayah pulang. Aku memang penakut, aku bukan laki-laki kuat seperti yang dibilang Ayah.

“Tidak Tuan.” Jawabku singkat.

Tuan Aditya mendekat kearahku, menarik kerah bajuku sehingga membuatku mendongak dengan paksa. Ini pertama kalinya Tuan Aditya melakukan hal kasar kepadaku. Apa beliau semarah itu dengan sikapku?

Aku menatapnya dengan raut wajah terkejut. Aku sempat melihat dia tersentak saat melihat wajahku. Ada apa? Ia kemudian melepaskan cengkramannya, dan berlalu pergi melewatiku begitu saja. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Tuan muda tentang sikapku, tapi aku merasa ini sudah benar. Aku membereskan alat-alat kebersihan yang aku gunakan kemudian mengembalikan ketempat asalnya.

Aku hendak berbalik saat kurasakan seseorang menepuk bahuku pelan-pelan. Aku menoleh, melihat Nona Khalifa berdiri dibelakangku dengan senyum manisnya. Dia adalah adik dari Tuan muda Aditya.

“Jangan memikirkan kakak, terkadang dia memang kurang bisa mengendalikan emosinya seperti itu.” Ujarnya pelan.

Aku menunduk dalam. “Tidak apa-apa Nona.” Jawabku tak kalah pelan.

Kalau boleh jujur, Nona Dyah Ayu adalah orang yang kusukai, dia sangat baik. Pasti menyenangkan memiliki sosok adik sepertinya. Entah sejak kapan aku menyukai sosok gadis lemah lembut yang selalu membelaku sama seperti Tuan muda Aditya. Nona Dyah Ayu satu tahun lebih muda dariku. Dia cantik dan anggun. Senyumannya mempesona. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang datang untuk melamarnya. Banyak bangsawan muda yang jatuh cinta kepadanya, namun Tuan Pramana sepertinya belum mau menyerahkan putrinya kepada orang lain. Lagipula, Nona Dyah Ayu sendiri selalu menolak setiap laki-laki yang datang untuk meminangnya.

“Ada yang anda butuhkan Nona? Kalau tidak ada saya akan kembali bekerja.” Ujarku pelan.

Nona Dyah Ayu menggeleng. “Tidak ada. Sekali lagi, maafkan kakak ku ya.”

Aku hanya mengangguk kemudian kembali menunduk ketika Nona Dyah Ayu berbalik dan masuk kedalam rumah.

*****

Aku memejamkan mata. Malam ini adalah hari yang sama seperti lima tahun yang lalu. Malam ketika Ayah pergi dan berjanji bahwa ia akan kembali secepatnya. Aku mendongak, memandang langit kelam dengan taburan bintang-bintang disana. Apakah Ayah masih berada ditempat yang sama denganku? Atau… Ayah telah meninggalkanku dan menjelma seperti bintang-bintang disana?

Ayah, banyak hal yang menggelisahkan terjadi akhir-akhir ini. Ketakutan dan rasa cemas yang tak wajar sering mengiringiku ketika aku mengingatmu. Aku takut jika Ayah telah jauh. Aku bertemu dengan banyak orang yang tidak semuanya baik. Terkadang sikap mereka adalah palsu. Pencitraan. Tapi aku bisa apa? Aku tetap bertahan meski terkadang aku mengeluh seperti ini. Bercerita sendirian ditengah malam. Berharap hembusan angin akan membawa rasa rinduku pada Ayah. Ayah, kuharap kau tidak kecewa kepadaku. Aku bukan anak laki-laki kuat seperti yang Ayah harapkan dulu.

Ayah, aku tidak tahu apakah waktuku menunggumu masih panjang. Aku juga tidak tahu apakah masih banyak disana yang kau perjuangkan kehidupannya. Banyak impian yang ingin kugapai. Impian yang mungkin akan membuatmu bahagia memiliki ku sebagai pengganti Ibu. Impian dimana kita bebas melakukan apapun tanpa terkekang status sosial. Tetaplah kuatkan aku dengan do’a-do’a mu. Meski mungkin entah kapan Ayah akan kembali. Aku, Althaf Rifqie Abrisam akan selalu menunggumu, sampai saat Ayah datang dan menepati janjimu.

Hari dimana Ayah pergi, adalah hari yang selalu kuingat bahkan melebihi ingatanku terhadap hari kelahiranku sendiri, yang itu juga berarti hari kematian Ibuku. Aku tidak pernah tahu wajah Ibuku. Waktu itu, Nenek bilang wajah Ibuku mirip denganku, tapi aku laki-laki, jadi aku tidak mampu membayangkan baagimana rupa Ibuku. Tapi aku percaya, cinta Ibuku tidak akan pernah hilang meski beliau telah pergi. Cintanya yang menenangkan hati ku selama ini, serta cinta Ayah yang selalu menguatkanku.

“Kau menangis lagi?”

Aku tersentak. Sosok Tuan muda Aditya tengah berdiri dibelakangku. Wajahnya yang datar seperti biasa serta raut wajah dingin yang selalu berhasil mengintimidasiku. Selama apapun aku mengenalnya aku tidak pernah mampu untuk berani menatap raut wajahnya yang seperti itu.

Ketika aku merindukan Ayah, aku akan duduk sendirian di teras belakang rumah Tuan Pramana dan melihat bintang-bintang. Setiap kali aku mengingat Ayah, tanpa sadar aku selalu menangis. Aku larut dalam lamunanku sendiri hingga saat aku tersadar aku sudah menangis. Di usiaku yang ke tujuh belas tahun, aku masih suka menangis sendirian padahal aku adalah anak laki-laki. Aku malu jika sampai Ayah tahu tentang kebiasaan ku ini. Hanya mengingatnya saja membuatku menangis, bagaimana jika suatu saat aku menerima kabar jika Ayah telah pergi? Aku tidak mampu membayangkannya.

“Jangan melamun dimalam hari, aku sedang mengajakmu bicara, Althaf!” Aku kembali tersentak. Telapak tangan kanan Tuan muda Aditya menepuk bahuku agak keras.

Aku tersadar dan segera berdiri kemudian membungkuk dengan sopan. “Ma—maafkan saya Tuan.” Ujarku memelas.

Aku mendengar Tuan Aditya mengehela napas. Aku hanya berani menatap kakinya saat ini. Setelah peringatan keras Tuan Pramana waktu itu.

“Duduklah, tidak perlu membungkuk seperti itu.”

Hanya perasaanku atau memang nada suara Tuan Aditya berubah melembut? Beliau duduk disampingku. Sejenak, keheningan menemani kami berdua. Aku larut dengan perasaanku sendiri pun dengan Tuan Aditya. Sepertinya, memiliki seorang kakak sepertinya adalah hal yang menggembirakan. Beruntung sekali Nona Dyah Ayu.

“Tahukah kamu jika aku juga membenci sistem bangsawan seperti ini?”

Aku sedikit kaget dengan kalimat yang barusan ia katakan. Memang, sejak awal Tuan Aditya membenci perbedaan, tapi aku tidak tahu jika ia sampai membenci sistem ini. Kupikir, sistem ini menguntungkan bagi orang – orang sepertinya. Aku tidak menjawab pertanyaan beliau karena kupikir itu hanya pertanyaan retorik yang tidak membutuhkan jawaban.

Tuan Aditya terkekeh pelan. “Kalau bisa, aku juga ingin ikut berjuang bersama ‘mereka’. Aku ingin ikut memperjuangkan kebebasan kita sendiri. Bukannya hanya duduk manis dilayani seperti ini. Sistem ini benar-benar kubenci.” Beliau menghela napas lelah.

Aku terdiam. Memang benar apa yang dikatakannya. Sistem seperti ini menurutku juga tidak adil. Kami para rakyat bawah diwajibkan untuk berjuang sementara mereka para bangsawan hidup nyaman. Orang sepertiku hanya bisa menunggu kepulangan keluarga tercinta dengan segala ketidak pastian yang ada. Mungkin, bisa saja selama hidup kami hanya menunggu sesuatu yang semu. Apa yang terjadi disana tidak ada yang tahu. Sama seperti aku yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Ayah.

“Jangan pernah melepaskan ingatanmu pada keluargamu yang pergi. Aku memang tidak tahu rasanya karena keluargaku semuanya ada. Kuharap kau bersabar.”

Aku tersenyum. “Saya tahu. Terima kasih, Tuan.” Ujarku tulus.

Ini menenangkan. Hanya kalimat-kalimat sederhana seperti itu mampu menenangkanku. Cinta orang tua ku selalu menyertaiku. Tuan Aditya beranjak dan masuk kedalam rumah. Ia memang tidak merasakan rasa sakit yang aku alami. Tua Aditya adalah penggambaran yang sempurna sebagai seorang manusia. Berasal dari keluarga terpandang, cerdas, dan disukai banyak orang. Apa yang kurang dari itu? Tapi kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya merupakan perasaan sebenarnya yang keluar dari dasar hati kecilnya. Aku masih diam disana, menikmati suasana malam yang semakin dingin. Aku memang tidak tahu kapan Ayah akan pulang, aku juga tidak tahu apakah Ayah masih bersamaku atau sudah pergi. Tapi, ada satu hal yang melebihi keyakinanku tentang rasa sakit menantikan hal yang tidak pasti. Hatiku masihlah milikku. Masih aku yang berhak atasnya. Sekarang, aku hanya perlu bersabar. Bangkit pelan-pelan. Hingga nanti saat Ayah kembali pulang, aku akan menyambutnya dengan perasaan yang menyenangkan.

—Meski entah kapan beliau akan kembali.



*BIODATA DIRI
Nama Lengkap                   : NINING NUR YANTI
Jenis Kelamin                     : PEREMPUAN
Tempat, Tanggal Lahir        : JAYAPURA, 25 DESEMBER 1999
Asal Sekolah                      : SMA NEGERI AMBULU
Jurusan                              : IPA
No. Induk                            : 9389
Alamat                                : JL. FLORES DUKUH DEMPOK, WULUHAN, JEMBER
Alamat Email                      : Seijuurokun@gmail.com
No. Handphone                  : 085230193253

No comments:

Post a Comment