Direktur BNPT: 66,0% Rakyat Indonesia Paham Radikalisme - Araaita.com

Breaking News

Friday, 1 December 2017

Direktur BNPT: 66,0% Rakyat Indonesia Paham Radikalisme

doc. Bimbi/Arta
Araaita.com Rabu (29/11) Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation menggelar Seminar dan Bedah Buku di Auditorium Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Dalam acara tersebut menghadirkan empat pemateri dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Salah satunya, Brigjen Pol. Hamli, M.E selaku Direktur Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Hamli diberi kesempatan sebagai pemateri pertama dalam acara tersebut. Ia menyampaikan sebuah penelitian survey dari BNPT bahwa Indonesia memiliki tingkat radikalisme sedang.

“Kami melakukan survey nasional terhadap 32 provinsi, BNPT sudah melaunching tentang radikalisme Indonesia, dengan skor 55,12% itu berarti kita berada pada radikalisme sedang, dan yang tinggi itu adalah di dimensi pemahaman,”ungkapnya di atas podium Auditorium itu.

Lebih lanjut pria yang mengenakankemeja putih itu, ia menyebutkan bahwa ada tiga dimensi radikalisme yakni dimensi pemahaman, dimensi sikap dan dimensi tindakan. Ia juga menjelaskan bahwa di Indonesia yang paling tinggi adalah dimensi pemahaman yakni sekitar 66,0%.

"Di Indonesia dimensi pemahaman itu termasuk tinggi menurut survey BNPT, skornya sekitar 66,0%," jelasnya.

Kemudian, Hamli juga mengungkapkan mengenai hasil survey dari Wahid Institute di tahun 2016 tentang radikalisme guna mengimbangi hasil survey BNPT di atas. Hasil survey tersebut mengatakan bahwa dalam hal ini rakyat Indonesia memiliki 72%  anti radikal, 7,7% simpati pada radikalisme dan 0,4% pernah melakukan radikalisme.

"Kita masih merasa senang karena hasil dari Wahid Institute itu mengatakan bahwa rakyat Indonesia itu 72% masih anti radikal, 7,7% simpati, dan yang 0,4% itu pernah melakukan," tuturnya.

Jadi, Hamli berharap kepada para akademisi,khususnya mahasiswa untuk memperhatikan supaya 72% ini tidak sampai turun mencapai 50% atau 60%.

"Dan ini yang perlu diperhatikan oleh para akademisi bagaimana supaya 72% itu tidak turun menjadi 50% atau 60% tetapi kalau bisa ditingkatkan menjadi 80%,” pungkasnya. (Bim)

No comments:

Post a Comment