Hadiah Tuhan - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 16 December 2017

Hadiah Tuhan

Riezma Prasiwi*

“Dukkk!!!”

Suara stempel yang dipukulkan di kuitansi pembayaran sekolahku. Cap basah, hangat, dan terlihat jelas. Aku bersyukur akhirnya uang sekolahku terlunasi. Sekolah yang penuh dengan kenangan remaja. Sekolah yang penuh dengan perjuangan mental dan batin. Namun, kini saatnya aku berpisah dengan sekolahku tercinta ini.

“Nak Fatimah mau kuliah di mana?” kata Pak Aklis, petugas TU. Begitu hafalnya beliau padaku. Mungkin aku adalah siswa yang langganan ke ruang tata usaha sekolah. Bukannya untuk apa-apa, melainkan untuk ditagih pembayaran sekolah. Kalau tidak, malah mendapat uang dari sekolah bilamana aku memenangkan perlombaan.

“Saya belum tahu, Pak,” kataku dengan ragu. Sebenarnya bukan keraguan, tapi ketidakmampuanku menjawab pertanyaan itu. Ingin aku menjawab jujur, tapi tak ingin beliau menanggapinya dengan perasaan berbeda.

Loh, kok belum tahu? Seleksi masuk PTN beberapa minggu lagi kan? Nak Fatimah itu kan juga pandai matematika, ikut olimpiade juga, harusnya ingin masuk PTN favorit kan?” kata Pak Aklis.

“Hmmm iya, Pak. Pak maaf saya harus pulang dulu. Terima kasih,”

Aku segera keluar dari ruang tata usaha. Melangkahkan dua kaki mungilku ini menuju halte bus. Teriknya matahari menyilaukan pandanganku. Gemuruh angin seperti ingin membisikkan seusuatu, menyapu kerudungku yang telah usang oleh waktu.

“Ahh.. busnya sudah datang,” gerutuku dalam hati.

Aku segera menaiku bus kota yang kecil itu. Tak pedulikan sempit, bau, panas, ataupun malu, karena itulah kebiasaanku, menumpangi bus kota untuk ke tempat yang kutuju. Kali ini aku takkan kemana-mana, cukup pulang ke gubuk kecil keluargaku. Keluarga yang juga kecil seperti rumahnya. Hanya aku dan ibuku. Aku adalah anak semata wayang. Ayah dan ibuku telah bercerai tiga tahun yang lalu. Ayahku pergi meninggalkan kami lantaran ingin mencari istri yang tajir. Sampai saat ini ayahku tak pernah lagi menengok kami lagi.

“Nak, sudah sampai,” kata seorang kernet yang membuyarkan lamunanku. Aku memberikan uang dua ribu rupiah padanya. Lalu aku beranjak turun dari bus.

Langkah kaki ini rasanya ingin berhenti, tak sanggup melewati jalan dan perkampungan ini. Tapi demi ibuku aku rela melakukannya. Bagi warga kampung, aku dan ibuku sudah tak dianggap sebagai tetangga lagi. Aku heran dengan mereka semua. Hanya karena ibuku janda cerai saja dipermasalahkan. Bukan hanya itu, masalah bahwa aku akan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi sudah menjadi gosip. Bak gosip presiden Arab yang datang ke Indonesia, gosipnya beredar luas.

“Permisi,” kataku sambil menundukkan kepala, melewati beberapa tetanggaku yang sedang ngobrol. Rasanya aku ingin cepat-cepat melewatinya, tetapi…

Salah satu tetanggaku berkata, “Oh, Fatimah. Masih sekolah? Liburan kayak gini kok masih sekolah? Bukannya sudah libur, kan?”

Loh, sekolahnya Fatimah kan nggak selesai-selesai. Palingan masih lima tahun lamanya. Duh anak perempuan zaman sekarang itu kalau sekokah tinggi-tinggi,”

“Iya. Harusnya sekolah itu SMK nanti terus kerja, bantuin ibunya di rumah. Eee malah ngabisin uang ibunya buat sekolah,”

Aku menghela napas, menyapa mereka, lalu pergi meninggalkannya. Hahhh… sudah biasa. Mungkin telingaku sudah kebal mendengar perkataan mereka. Hampir setiap hari, setiap bertemu, pasti ada saja komentar yang ditujukan padaku dan ibuku.

“Assalamu’alaikum.. Buk..”

“Wa’alaikumsalam, Fatimah. Sudah pulang ternyata. Ibu sudah masak telur dadar untuk kamu. Ngomong-ngomong, bagaimana pembayaran sekolahnya?” kata ibu.

Aku mengeluarkan kuitansi dari dalam tas, lalu memberikan pada ibu.

“Ini Buk, semuanya sudah beres. Buk, aku ngomong sesuatu sama Ibuk”

“Ada apa, Nak?”

“Buk, apa aku itu anak yang durhaka sama ibuk?”

Lho, jangan bicara seperti itu. Pasti tadi habis dengar perkataan tetangga ya?”

Aku hanya mengangguk, lalu berkata “Tapi aku kasihan sama Ibuk. Ibuk udah banting tulang demi biaya sekolahku. Untuk pelunasan SMA saja ibu meminjam atasan ibu kan? Kalau aku kuliah, aku pasti menambah beban ibu saja. Kata tetangga memang benar. Lebih baik aku mencari pekerjaan saja, Buk”

“Fatimah, jangan dengarkan kata-kata mereka, Nak. Kamu kan bercita-cita sekolah sampai S-2 dari kecil kan, Nak? Kamu harus perjuangkan cita-citamu itu, Nak. Jangan sia-siakan keberuntungan yang datang kepadamu. Ibu sangat senang memiliki anak yang pandai seperti kamu. Yang harus kamu lakukan  adalah belajar. Urusan uang biar ibu yang memikirkannya.”

Aku hanya menunduk dan diam seribu bahasa.

“Sekarang ganti bajumu, lalu makan. Setelah itu belajarlah yang rajin, Nak! Ujian masuk PTN tinggal beberapa minggu lagi. Tuhan pasti menolong kita. Percayalah, Nak,”

Aku pun masuk ke kamarku. Tiba-tiba…

“Tok.. Tok.. Tok..”

Terdengar suara orang marah di luar sana. Apa mungkin itu ibu pemilik kontrakan? Jangan-jangan ibu pemilik kontrakan menagih uang sewa. Aku pun menguping pembicaraan ibu dan ibu pemilik kontrakan. Ternyata benar, ibu terlambat membayar uang kontrakan selama tiga bulan. Ibu pemilik kontrakan meminta aku dan ibu untuk segera pergi meninggalkan kontrakan ini. Aku menghampiri ibu yang terduduk menangis di belakang pintu. Wajahnya terlihat sangat sedih dan bingung.

Sambil memeluknya, aku berkata, “Sudah, ibu jangan menangis. Ibu kan masih punya Fatimah. Fatimah akan selalu jagain ibu, kok.”

Kami segera mengemasi barang-barang. Aku dan ibu tak tahu harus kemana. Kami tak punya siapa-siapa di sini. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di masjid  yang jauh dari perkampungan. Dinginnya malam merasuki jiwaku. Aku hanya bisa memohon pada Yang Maha Kuasa. Aku tak tahu rencana apa yang direncanakan-Nya. Aku masih punya ibuku, bintang yang mentinari hatiku. Ibuku adalah semangat bagiku. Aku harus bangkit demi ibuku.

Hari mulai fajar. Ayam jago berkokok. Adzan pun berkumandang. Aku dan ibu segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh. Hingga akhirnya sang fajar mulai menunjukkan wajahnya yang kuning bagaikan buah jeruk. Aku dan ibu memutuskan untuk pergi ke rumah atasan ibu, Bu Ria. Ibu bekerja di tempat Bu Ria untuk menjajakan kue keliling.

Sesampainya di rumah Bu Ria, kami diperlakukan sangat baik, seperti keluarga sendiri. Atasan ibu sangat baik. Kalu tidak, beliau fidak mungkin meminjami ibu uang untuk pelunasan SMA-ku

“Nak, ibu mau jualan kue keliling dulu. Sekarang kamu belajar saja di sini,” kata ibu.

“Buk, aku ikut ibu jualan saja. Lagian aku sudah memutuskan enggak kuliah dulu. Aku enggak tega sama kondisi kita yang seperti ini. Untuk tes PTN aku juga harus ke kota, butuh uang yang banyak. Ini keputusanku, Buk. Ibu nggak usah khawatir. Selebihnya kita serahin sama yang di atas.”

“Ibu bangga sekali sama kamu, Nak”

Tiap jalan, gang, rumah-rumah telah kami lewati untuk menjajakan kue. Aku baru menyadari. Ternyata seperti inilah jerih payah ibuku untuk membanting tulang demi diriku. Ibuku melawan teriknya matahari yang sangat menyengat untuk menjajakan kue setiap harinya. Aku bangga padamu, Ibu.

Tiba-tiba… “Sreekkkk..”

“Ibukk…” teriakku.

Aku segera menghampiri ibuku yang tergeletak di pinggir jalan karena terserempet mob. Kue yang dibawa tumpah tak tersisa. Ibuku hanya terdiam memandangi kue yang berserakan di jalanan. Tapi untunglah ibuku baik-baik saja.

“Maaf, Ibu tidak apa-apa? Maafkan saya yang lalai dalam mengemudi, Bu,” kata seorang wanita di belakangku.

Ibuku menjawab, "Saya tidak apa-apa."

Aku menoleh, terkejut. Ternyata wanita yang menabrak ibuku menggunakan mobilnya adalah guru Matematikaku, Bu Asta

“Bu Asta,” kataku.

Lho, Fatimah. Ini ibumu? Fatimah, maafkan Bu Asta yang lalai mengemudi. Ibu tidak sengaja sama sekali.”

“Tidak apa-apa, Bu”

“Oh ya, Fatimah. Kebetulan sekali kita bertemu. Kemarin ibu ke kontrakanmu tapi ternyata kamu sudah pindah. Kok sepertinya mendadak sekali pindahnya. Ada masalah apa?" tanya Bu Asta.

Aku dan ibuku menceritakan semua masalah kami kepada Bu Asta. "Tapi ngomong-ngomong, ada apa Bu Asta hendak ke rumah kami?" tanyaku.

"Ibu punya berita bagus buat kamu,”

“Berita apa, Bu?” tanyaku penasaran.

“Selamat ya Fatimah, kamu mendapat beasiswa kuliah di Universitas Kota fakultas Matematika. Beasiswa itu kamu dapatkan karena kamu pernah juara olimpiade matematika. Maafkan ibu, karena info ini juga sampai ke ibu baru kemarin. Semoga berita ini bisa meringankan beban kalian selama ini”

Aku memandangi Bu Asta dan ibuku tak percaya. Apakah ini benar? Apa aku tidak bermimpi? Ya Tuhan, Engkau sangat baik. Ini memang rencanamu. Ini memang hadiah darimu.

"Ini bukti beasiswamu, Fatimah. Oh ya, kebetulan saya punya rumah kosong di dekat kampus kota. Kalau ibu dan Fatimah berkenan, silakan pakai saja rumah itu. Tidak usah sungkan. Oh ya, dan ini sebagai ganti rugi kue yang berserakan akibat kelalaian saya, Bu," kata Bu Asta.

Ibuku menjawab, "Aduh Bu Asta, terima kasih sekali atas bantuannya. Semoga Tuhan yang membalasnya."


Aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa kuliah tanpa menjadi beban ibuku. Aku harus belajar lebih giat. Ingatlah pepatah, "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China". Jangan pedulikan kata-kata orang. Aku harus bangkit, demi ibuku, untuk menjemput hadiah dari Tuhan.


*BIODATA DIRI
Nama Lengkap                  : RIEZMA PRASIWI
Jenis Kelamin                    : PEREMPUAN
Tempat, Tanggal Lahir       : BANTUL, 24 SEPTEMBER 2000
Asal Sekolah                     : SMA N 1 BANTUL
Jurusan                             : IPA
No. Induk                           : 11474
Alamat                               : Jalan Gatot Subroto No.7 Mandingan RT 01, Ringinharjo,
Bantul, Bantul, DIY 55712
Alamat Email                     : riezma.prasiwi@gmail.com
No. Handphone                 : 083877935069

No comments:

Post a Comment