Jalan Hati - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 16 December 2017

Jalan Hati

Amrul Mubarok*

Sore yang damai itu tiba-tiba hancur karena masalah hak waris. Anak-anak ibu Rohini bersama ayah mereka saling mempertahankan keinginan mereka.

“Ayah ini bagaimana !, mana mungkin aku hanya mendapat 2 hektar  tanah saja.” Bentak syahrul, yang saat itu adalah seorang kepala desa.

“Ya itu memang jatahmu, sawah sudah kau miliki ! Apakah tanah saudara-saudaramu ingin kau renggut juga.” Bentak Tini putri sulung bu rohini.

Suami bu Rohini mengiyakan apa yang dikatakan Tini, dan ia pun tidak terlalu banyak bicara karena pipi nya yang kempong[1] itu sudah sulit untuk melakukan bantahan yang keras.

“Syahrul kamu itu sebagai laki-laki apalagi seorang kepala desa harus memiliki sikap bijak diantara saudaramu, jangan semena-mena. Hartamu juga banyak, kenapa kamu harus mengumpulkan apa yang orang tuamu punya apalagi mau merampas hak waris saudaramu.” sahut bu Rohini berusaha menenangkan suasana.

“Ibu jangan banyak bicara, diam saja disana. Nggak[2] tau apa apa aja ikut ngomong[3].” Dengan nada tinggi Syahrul membentak ibunya.

Seketika itu juga hati bu Rohini bagai tersambar petir, matanya pun berkaca-kaca. Dia ingin menampar Syahrul tapi tangan tua itu tak mampu melakukannya sebab syahrul segera memegangnya dengan kuat.

“Ibu, jangan kau lukai pipiku dengan tangan tuamu ini, sekarang duduk disana jangan ikut campur masalah ini.” Kata Syahrul dengan nada yang semakin geram.

Melihat ini suami pak Jono, dengan lirikan mata tua nya yang tajam melotot pada Syahrul sebagai tanda kemarahannya dan ia membantu istrinya untuk duduk di kursi ruang keluarga untuk menyaksikan musyawarah itu dari kejauhan.

Musyawarah itupun terus beralalu dan tak sedikit beberapa kata menghantam perasaan pak Jono sebagai seorang ayah.  Masalah itu belum selesai juga namun adzan maghrib sudah berkumandang di langit senja dengan iringan air mata yang terus mengalir dari mata bu Rohini. Mereka pun menyudahi  musyawarah yang penuh derita bathin orang tua itu dan mereka pulang kerumah masing-masing dengan wajah marah yang menyelimuti Syahrul dan Tini, sedangkan Jali yang saat itu sebagai putra bungsu dan sekaligus tinggal dengan kedua orang tuanya ini ikut pula merasakan siksaan batin yang diterima oleh orang yang sangat ia cintai. Di sisi lain, ibu Rohini yang hanya terdiam menyaksikan kejadian itu dengan air mata yang terus membanjiri pipinya. Hatinya pun terasa diiris-iris melihat kedua anaknya gila harta hingga berani dengan kedua orang tuanya. Namun pak Jono segera merangkul dan menenangkan hati istrinya tersebut.

“Sudah bu, sudah. Nanti juga pasti selesai. Jangan terlalu dipikirkan.” Kata pak Jono menenangkan.

“Tapi pak, aku kaget melihat semua ini, aku tidak menyangka jika anak-anakku bertengkar karena harta.” Jawab bu Rohini lirih.

“Sudah bu, ayo sholat dulu. Biar hati ibu tanang.” Rayu pak Jono.

Setelah sholat mereka pun menjalani kegaiatan seperti biasanya, namun ada yang berbeda dengan bu rohini, air mata nya terus mengalir memikirkan kejadian sore itu. Hingga semua tertidur ia masih nglamun[4] sambil meneteskan air mata. Akan tetapi keheningan malam itu tiba-tiba terpecahkan terdengar orang minta tolong.

“tolong, tolong, aduh sakit sekali.”

Ternyata suara itu adalah suara ibu rohini dari arah ruang keluarga, penyakit ginjalnya kambuh lagi. Segera anak yang tinggal bersamanya mencari kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit. Di sisi lain pak Jono memegang erat tubuh bu Rohini yang sudah tidak sadarkan diri lagi.

“Ibu!!! Kenapa bu!!, bangun bu bangun.” Teriak pak Jono resah.

Setelah jail  sudah dapat pinjaman mobil dia kemudian langsung memboyong ibunya ke puskesmas. Setelah sampai disana ternyata pihak puskesmas tidak sanggup, dan menyarankan untuk dirujuk ke UGD. Kegelisahan yang semakin menjadi-jadi terpancar dari wajah pak Jono. Heningnya malam itu menjadi bukti kegelisahan hatinya yang tak tahu mau berkata apa lagi dan apa yang harus ia perbuat kecuali kalam-kalam ilahi. Ditambah lagi mobil puskesamas itu sempat terhenti karena bannya bocor. Namun itu dapat terlalui dan merekapun akhirnya sampai di UGD. Ibu Rohini pun langsung dijemput suster rumah sakit dan langsung dilarikan ke ruangan ICU. Ia mendapat perawatn sangat intensif dengan segera. Kira-kira hampir 5 jam di ruang ICU, bu Rohini kemuadian dipindahkan ke kamar melati. Kejadian ini membuat pak Jono serasa menemukan cahaya terang jika bu Rohini akan segera membaik.

“Alhamdulillah, Alhamdulillah.” Terus ia ucapkan sambil menuju kamar bu Rohini

Hari demi hari berlanjut, tapi apa daya bila titah tuhan sudah tergariskan seperti itu. Malam itu anak-anak bu Rohini kumpul semua untuk membahas giliran menjaga ibu Rohini. Tetapi hal itu tidak ditemani pak Jono, sebab ia tidak mau meninggalkan orang yang dia cintai melawan penyakitnya sendirian.

“Ada apa sih jal, kamu kumpulkan kami?. Apa kamu tidak tahu kerjaanku banyak.” Tanya Syahrul kakaknya dengan sinis.

“Kamu itu!! Rumahku jauh. Butuh berapa jam kesini ini. Dan sekarang usahaku sedang banyak pesanan.” Tambah Tini

“Maaf mbak yu[5], maaf kang mas[6]. Mohonlah waktunya untuk menjaga ibu, kalian kan juga anak-anak ibu, kasihan bapak yang sudah tua itu harus menghabiskan

waktunya di rumah sakit terus menerus untuk menemani ibu.” Belas Jali.

“Kamu itu, kamu aja yang dekat yang jaga ibu. Ini uangnya!! Kalau butuh apa-apa bilang saja nanti saya transfer. Bisa kan terima transfer uang, jaman sekarang jangan jadi anak kolot[7] ya!!!

Jali hanya mengangguk-angguk dan hanya dapat menghela napas panjang mendengar jawaban itu, yang menjadi pikiran Jali. Setega itukah kakak-kakaknya pada orang tua mereka sendiri. Namun karena sayangnya pada orang tua ia meneria semuanya dengan ikhlas.

Setiap hari ia mondar-mandir sendirian mencari obat untuk kesembuhan ibunya, yaitu dengan mendatangi orang pintar dan para kyai. Serta tak lupa mengurus keluarganya di rumah. Tiap malam dan pagi ia lakoni tanpa mengeluh sekakan tubuhnya tak tersimpan kata lelah.

Usaha memang tidak menghianati hasil, ibunyaberangsur-angsur sembuh. Dan pada senin itu ibunya sudah diperbolehkan pulang. Namun sungguh kejam bagai musuh dalam selimut, ketika ibu Rohini sedang diapaph berjalan menuju kendaran untuk pulang, Tini dan Syahrul malah berdiskusi tentang hak waris.

“Tin, gimana nih warisannya. Ibu sudah tua, ayo segara kita urus.” Bisik Syahrul pelan.

“Yah yang kemarin itu kak, kan sudah adil.” Jawab Tini cuek.

“Loh-loh, ngawur saja kamu ini, tidak bisa. Aku laki-laki harus dapat banyak!!” Jawab Syahrul dengan nada agak keras.

“ Tapi selama ini, yang membiayai ibu adalah aku, jadi aku berhak dapat banyak jika ditotal-total lagi.” Jawab Tini cuek.

“Sudah kak, sudah.” Jail menenangkan

“Diam kamu!!, tidak punya uang aja banyak bicara, dasar melarat[8]!!” Bentak Syahrul.

“Kak, aku tahu kang mas adalah kepala desa dan mbakyu adalah pengusaha. Tapi tahu diri dan tahu temapt kapan hal ini dibicarakan.” Jawab Jali agak emosi.

Ibu Rohini yang dipapah suaminya mendengar semua itu, air mata pun tak bisa dicegah untuk berlinang. Kejadian itu seolah menggoncak bathinnya dan meremukkan jiwanya. Sehingga ia tiba-tiba drop dan pingsan. Sungguh malang, ibu Rohini harus dilarikan dan dirwat di ruang ICU lagi. Sebab penyakitnya semakin memburuk. Melihat ini pak Jono hanya dapat terpaku diam dengan linangan air mata yang mmebasahi pipi tuanya itu, Sesekali ia menhela napasnya, satu sisi melihat isterinya terbaring lemah tak berdaya, disisi lain melihat anak-anaknya yang gila harta. Dia merasa sangat sedih dan terpukul.

Duh gusti ingkang kuasa[9], apa salah hambamu ini. Kenapa anak-anakku seperti itu. Apakah aku gagal mendidiknya. Ampunilah dosa orang tua ini. Ya Allah Ampunilah aku.” Ucap pak Jono lirih penuh penyesalan.

Hari demi hari berlangsung, kadang-kadang kondisi ibu Rohini membaik kadang-kadang memburuk lagi. Hingga genap seminggu pada minggu malam pak Jono izin sama jail untuk cari makan dulu. Pada ssat it pula kondisi ibu Rohini drop. Jali berteriak-teriak memanggil dokter.

“Dokter tolong ibu saya, dokter, dokter, tolong ibu saya.”

Tim dokter datang segera, dengan segala kecanggihan alatnya mereka memeriksa ibu Rohini. Di sisi lain Jali hanya memandang kesedihan yang masih melekat di wajah ibunya yang anggun itu. Dokter memanggil Jali.

“Anda anak bu Rohini?”

“Iya dok, ada apa?” Jawab Jali yang penuh kekhawatiran.

“Tolong jaga ibu anda dengan ucapan kalimat-kalimat tuhan yang mulia, kami akan berusaha melanjutkan tugas kami.” Kata dokter.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menuruti perintah dokter, namun apa daya jika ajal sudah datang yang merupakan titah tuhan untuk setiap yang bernyawa. Ibu Rohini menghembuskan napas terakhirnya ditemani satu orang putranya dan para dokter.

Saat pak Jono kembali, ia bingung dengan yang terjadi disana.

“kenapa banyak dokter? Kenapa ibu rohini dibawa keluar? Dimana jail?.”

Dari arah belakang jail meraih bahu bapaknya dan mengajaknya duduk. Dengan penuh kasih sayang ia merangkulnya kemudian membisikinya dengan suaranya yang halus penuh perasaan.

“Bapakku tersayang, ibu sudah dipanggil Allah.”

Tubuh pak Jono gemetar bukan main seakan ia juga ingin mati pulamenemani isterinya.

“Oh Tuhan, istriku meninggal tanpa didampingi anak-anaknya, bahkan aku sendiri tak kau izinkan menemaninya disaat terakhir ia akan meninggalkan dunia ini.” Untaian kata lirih yang terucap dari mulut tua itu.

“sabar pak, sabar. Ini sudah takdir dari Tuhan.” Jawab Jali menennagkan.

Bapaknya berdiri dengan sisa kekuatan tuanya untuk menemui jenazah isterinya dan ia tidak mau dibantu siapapun ia ingin sendiri ia ingin membuktikan perjuangan terakhirnya kepada sang isteri. Sedangkan Jali segera menghubungi saudara-saudaranya. Mereka sangat kaget bukan main. Penyesalan terus terbayang, tetesan air mata terus berlinang, hingga proses pemakaman selesai.


[1] Sebutan jawa untuk pipi orang yang sudah sangat tua
[2] tidak
[3] berbicara
[4] Melamun dalam bahasa jawa
[5] Panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa jawa
[6] Panggilan untuk kakak laki-laki dalam bahasa jawa
[7] Ketinggalan jaman dalam bahasa jawa
[8] Tidak punya uang,miskin dalam bahasa jawa
[9] Oh Tuhan yang maha kuasa


*BIODATA DIRI
Nama Lengkap                     : AMRUL MUBAROK
Jenis Kelamin                       : LAKI-LAKI
Tempat, Tanggal Lahir          : SIDOARJO, 28 DESEMBER 2000
Asal Sekolah                        : SMAN 1 KREMBUNG
Jurusan                                : IPA
No. Induk                              : 8449
Alamat                                  : Ds. KEPER
Alamat Email                        : amrulmubarok7@gmail.com

No. Handphone                    : 083854382400

No comments:

Post a Comment