Keluargaku Prioritas Yang Nomer Satu - Araaita.com

Breaking News

Friday, 15 December 2017

Keluargaku Prioritas Yang Nomer Satu

dok. Istimewa
“Mbak, kapan pulang,” pesan ibuku via WhatsApp. “Ndak tau bu, minggu ini masih ada acara,” jawabku dengan bangga. “Yasudah jaga kesehatan jangan lupa makan,” balasnya dengan memberi emoticon senyum. Begitulah pesan singkat ibuku setiap waktu sampai aku bosan membacanya.

Beberapa minggu ini sangat melelahkan bagiku, dimana aku harus pontang-panting mempersiapkan sebuah acara yang sangat penting dalam organisasiku. H-2 persiapan hampir 75%, saat itu aku sedang berbelanja untuk persiapan logistik di pasar grosir Surabaya.
*****
Ditengah perjalanan pulang, handphoneku berbunyi:
Kring....“Assalamualaikum,”.  “Waalaikumsalam, ada apa,” jawabku. “Mbak Kakek meninggal, nanti malam pulang ke pekalongan,” pintanya. “Tapi bu, acaraku gimana,” egoku. Karena aku menjadi koordinator pada acara tersebut, sehingga banyak hal yang harus ku persiapkan. Sementara dari kesekian anggotaku tak banyak memahami akan jalannya acara esok.

“Pulang mbak, tiket sudah tak belikan,” nadanya memelas. “Iya aku pulang, aku izin ketuaku dulu” jawabku terpaksa. Aku pun pamit dengan ketua organisasiku. “pak maaf aku  gak  bisa ikut acara, kakekku meninggal dan ibu memaksaku pulang, nanti siapa yang mengurus semua persiapan?,” ucapku sambil memberikan semua peralatan beserta rundown acaranya

“iya hati-hati, gak usah khawatir masih ada anak-anak yang membantu mensukseskan acara,” jawabnya sambil tersenyum terpaksa. Semua anggota devisi acara ku telfon satu persatu, sambil memohon dengan berbagai cara agar mereka mau menggantikanku. Sampai pada akhirnya ada satu yang bersedia menggantikan posisiku yaitu Vita.   

Malam harinya aku bertemu dengan ibuku di stasiun pasar turi Surabaya. Sedangkan ayahku sudah di lokasi lebih dulu untuk mengurusi jenazah kakekku. Di kereta, aku terus memantau sejauh mana perkembangannya. Sembari terus mencari kabar tentang keadaan di rumah, aku juga terhubung dengan Vita untuk menjelaskan jobdisk yang seharusnya ku lakukan.

Ibuku menghela nafas besar dan berkata. Mbak makanlah.. jangan hp’an terus”. Tapi, ku tetap melihat handphone, seakan- akan tak ada yang  berbicara padaku.  
*****
Dini hari, kami sampai di stasiun pekalongan dan langsung ke rumah untuk memberikan salam terakhir kepada kakekku.

Bughhhh,” suara benturan lantai. Ibuku pingsan ditempat, tak kuasa melihat ayahnya yang tiada. Selang beberapa menit aku menyusul ibuku, karena aku tak makan seharian. Ibuku dengan sergap memberi pertolongan, padahal kondisinya sangat lemah pasca melihat kakekku meninggal.

Setengah jam aku tak kunjung sadar, ibu menelfon dokter untuk segera memeriksaku. Kemudian, dokterpun menganjurkan untuk membawaku ke rumah sakit. Ibuku terpaksa meninggalkan kondisi rumah yang sedang berduka dan menemaniku dirawat di rumah sakit dekat rumah.

Saat sadar yang kucari adalah benda kesayanganku. “Bu, handphoneku mana?”. “Istirahat mbak, gak usah main hp dulu,” jawabnya dengan nada agak tinggi. “iya bu sebentar lihat ada yang tanya atau gak,” balasku memaksa. “Ini, di kasih tau orang tua ada aja jawabnya,” ucapnya menggerutu sambil memberikan handphoneku.

Kubuka handphone, 15 panggilan tak terjawab dari Vita. Kutelfon balik dia dan ternyata dia mengabari bahwa dia benar-benar tidak bisa menggantikanku. Lantas aku telfon ketuaku, dan ia pun menenangkanku. Tenang, pasti ada jalan,” jawabnya seraya mengakhiri panggilan teleponku..  
*****
Pagi hari sarapan telah dihidangkan, dengan telaten ibu menyuapiku sambil menasihatiku dengan halus. “Mbak, Ibu tiap hari nyuruh kamu makan itu biar kamu sehat. Kalau gini yang ngerasa sakit kamu sendiri”. Air matanya mengalir deras melihat kondisiku yang terbaring lemah diranjang.

Aku pun terdiam dan semua perbuatan yang kulakukan pada ibuku tiba-tiba berputar dalam benakku. Terutama ego yang kuutamakan, tetapi dengan mudah ibu memaafkanku.
Tok.. tok... Ayahku masuk ruangan.

“Semua keluarga sudah berkumpul, ayah mau dikebumikan beri penghormatan terakhir untuknya biar fina aku jaga,” ucap ayahku sambil menatapku lesu.  “Ayah dan ibu kesana saja, biar aku sama adik. Kan adik nggak boleh ikut ke makam,” jawabku.

“Ndak, ibu mau jaga kamu. Nanti kamu kenapa-napa,” ucapnya hawatir. “Bu, sudah banyak yang ibu korbankan padaku. Dan ini salah satu cara menebus semua kesalahanku. Aku juga berjanji mulai saat ini akan makan tepat waktu, dan akan ku tinggalkan kegiatan jika ibu menginginkanku pulang,” kataku sambil menangis penuh sesal.


Ayah dan ibuku seketika memelukku dan berkata. “Aku bangga memiliki anak sepertimu,” ucapnya menangis sekaligus tertawa. Moment inilah yang paling membuatku bangga, dimana aku dapat melihat orang tua tertawa bahagia dalam duka karena melihatku akhirnya dapat memprioritaskan keluarga di atas segala sesuatu

OlehArifah Syarofina
*Penulis adalah Mahasiswi Semester V Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment