Lost - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 16 December 2017

Lost

Dian Puji Rahayu
Pagi ini aku dan tiga orang sahabatku akan pergi menjajah hutan belantara. Ingin berkemah menikmati libur panjang. Kami sepakat untuk berkumpul dirumahku.

"Hai Nad."

"Chika, Rendy, Vino. Pagi banget datengnya. Aku aja belum selesai prepare."

"Iya nih Nad. Kita excited banget."

"Biasa aja kali Rend. Ini kan udah jadi rutinitas kita setiap long weekend."

"Tapi kali ini aku lebih excited dari biasanya Nad."

"Udah kamu prepare dulu sana."

"Iya Chika bawel."

Sekitar 30 menit aku sudah siap untuk segera bergegas menelusuri jalanan hutan yang berkelok. Rintik hujan kecil menemani perjalanan kami kali ini. Lokasi kali ini cukup jauh. Ini pertama kalinya kami berempat menelusuri hutan diluar provinsi. Maka dari itu kami sangat excited. Setelah naik bus sekitar 7 jam, kita melanjutkan perjalanan menggunakan mobil jip untuk menelusuri jalur hutan. Jalurnya cukup curam. Lumayan bahaya untuk ditempuh. Tapi kami tidak patah arang. Kami terus mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda.

"Kayaknya disini cocok buat camping."

"Iya Vin. Tempatnya lumayan bagus." Timpal Rendy

"Ya udah, kita pasang tenda disini aja ya. Lagian udah mulai gelap nih."

"Bener tuh kata Nadine. Daripada ngulur-ngulur waktu."

View disini sangat indah. Rerumputan membentang luas. Disini juga ada Danau. Cocok sekali untuk berkemah. Semuanya tersedia di alam.

"Vin, kamu sama Chika cari kayu bakar ya. Aku sama Nadine cari air bersih."

"Siap bro. Yuk Chik."

"Eh, disitu ada danau tuh Rend."

"Oh iya Nad. Ya udah kita kesana yuk."

Aku mengangguk mantap. Memberikan isyarat bahwa aku menjawab 'iya'

"Biar aku yang ambil yah. Kamu diem aja disitu."

"Siap kapten."

Tidak butuh waktu lama untuk mencari sumber air ini. Disini sangat sejuk udaranya. Ingin rasanya disini untuk selamanya.huuuhhh.

"Sedang apa kalian disini?"

Ternyata masih ada orang yang tinggal disini. Lelaki tua yang sangat keriput kulitnya.

"Kita lagi nyari air kek. Kita disini lagi camping. Kakek tinggal disini?"

Aku mencoba mengajaknya bicara.

"Ini siapa Nad?"

Aku mengangkat bahuku mendengar pertanyaan Rendy.

"Sebaiknya kalian jangan camping disini. Hutan ini sangat berbahaya. Banyak pemuda yang camping disini dan kembali kerumah tanpa nafas. Bahaya bisa mengancam kalian kapan saja."

"Selagi kami berhati-hati, mungkin saja tidak ada bahaya kan kek."

"Terserah kalian. Yang penting kakek sudah mengingatkan."

Dari pertama kami masuk kedalam hutan ini, aroma-aroma janggal memang sudah tercium. Dari jalanan yang sangat berbahaya, binatang liar yang terlihat. Bisa saja bahaya datang kapanpun. Mungkin kakek itu benar.

"Apa sebaiknya kita pulang aja Rend? Aku takut ada apa-apa."

"Udah lah Nad. Selagi kita hati-hati, bahaya pasti gak ada. Believe it."

"Okay. Kita ke tenda yah."

Aku pikir aku dan Rendy sudah cukup lama di Danau. Bahkan hampir setengah jam kita disana. Dan aku pikir, Chika dan Vino sudah menanti di tenda. Tapi saat aku datang ke tenda, mereka bahkan tidak ada.

"Chika sama Vino dimana ya Rend? Perasaan kita udah lama banget deh di Danau. Jangan-jangan yang dikatakan kakek tadi bener lagi. Atau jangan-jangan.."

"Sssstt. Kamu kenapa jadi begini si Nad. Positif thinking okay. Mungkin mereka lagi santai kali."

"Semoga aja ya."

Huft. Ternyata benar. Dugaanku salah. Chika dan Vino terlihat memikul banyak kayu bakar. Mungkin karena repot membawanya jadi mereka lama.

"Chikaaa."

Aku langsung teriak dan memeluk Chika. Untung saja mereka gak papa.

"Kamu kenapa si Nad. Lebay banget deh."

"Aku kira kamu sama Vino udah.."

"Udah apa? Kamu tuh ngawur banget ya. Gila tau gak."

"Abis aku parno tau. Tadi ada kakek-kakek di Danau katanya hutan ini berbahaya gitu."

"Oh ya?. Jangan dipercaya itu mah. Di cuma mau ngusir kita secara halus. Mungkin dia gak suka kalo kita camping disini."

"Maybe."

"Udah gelap nih. Buruan nyalain api unggunnya."

Malam ini terasa hangat. Persahabatan yang sudah terjalin 10 tahun lamanya. Terasa sangat indah. Alunan gitar ikut andil dalam situasi ini. Kami berempat berdendang ria dan akhirnya tertidur pulas.

Aku terbangun dari tidurku, tenggorokan ini seperti sungai yang mengering. Aku mengambil secangkir air untuk mengguyur tenggorokanku.

"Chika, kamu kenapa? Kok bangun si."

"Aku pengen pup nih. Aduuhh. Gak bisa ditahan Nad. Aku pergi dulu ya cari toilet."

"Chika jangan keluar sendirian. Hati-hati yaa"

Aku kembali membenarkan posisi tidurku. Merangkul boneka beruang kesukaanku.

Sampai akhirnya, matahari sudah muncul kembali. Celotehan burung terdengar sangat merdu. Mataku masih merem melek.

"Chika? Chika dimana? Kok belum balik si."

Aku sangat panik. Entah apa yang terjadi dengan anak malang itu. Aku langsung keluar tenda dan membangunkan Rendy dan Vino ditendanya

"Rendy, Vino..bangun"

"Ada apa si Nad."

"Chika gak ada ditenda Rend, Vin."

"Lagi cari angin kali." Vino menjawab dengan santai tanpa ada rasa panik sedikitpun.

"Tadi malem Chika mau cari toilet katanya, aku udah cegah. Tapi dia lari kenceng banget Vin. Dan sampai sekarang dia belum balik."

Air mataku sudah tak terbendung lagi. Aku khawatir dengan keadaan Chika.

"Oke. Sekarang kita cari Chika. Kita mencar aja ya. Aku kearah sana. Dan kamu Nad, kamu sama Vino kesana yah. Oke. Come on."

"Chikaaa"

Kami sudah berusaha berteriak sekuat tenaga. Tapi sampai hari berganti lagi menjadi malam, Chika belum juga ditemukan.

"Vin, gimana ini? Udah malem. Aku takut."

"Kita balik ke tenda aja ya. Mungkin Rendy udah nemuin Chika."

"Oke"

Saat kami sampai di tenda, ternyata Rendy belum ada. Pikiran buruk langsung mengahantui pikiranku. Kenapa semua ini terjadi? Andai saja tadi kami mendengarkan perkataan kakek tua itu dan bergegas pergi, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.

"Rendy gak ada Vin. Apa jangan-jangan dia juga hilang lagi."

"Kamu jangan ngomong gitu dong Nad. Positif thinking oke. Coba telfon deh."

Tuutt... Tuuuttt tuuttt.

"Gak aktif Vin. Gimana dong. Aku takut."

"Gini aja deh. Kamu tunggu sini jangan kemana-mana, biar aku yang cari mereka berdua."

"Tapi gimana kalo kamu juga ikut ilang. Aku gak mau Vin. Aku gak mau sendirian."

"Percaya deh Nad. Aku pasti balik. Okay. Tenang aja."

"Okay. Jangan lama-lama yah."

Hari hampir berganti, sudah 5 jam Vino pergi dan belum balik juga. Aku sendirian, takut. Jam di handphone hampir menunjukkan pukul 12 malam. Membuat bulu kuduk ini merinding. Aku mencoba berbaring dan memejamkan mata.

"Nadieeenn."

Mataku langsung terbangun saat mendengar teriakan seseorang. Aku yakin itu pasti Chika. Aku memberanikan diriku untuk mencari sumber suara. Langkahku sedikit hati-hati. Agak takut dan gelisah. Tapi, langkah kakiku menuntunku sampai di rumah tua. Dan aku yakin teriakan tadi dari arah sini. Aku mencoba masuk dan mencari tahu. Kubuka pintu rumah perlahan. Nampaknya rumah ini sudah lama tak berpenghuni. Tidak ada lampu yang menerangi. Lantai juga sangat kotor. Aku mencoba memanggil Chika tapi ternyata..

"Surprisee."

Aku tidak percaya. Mereka semua ada disini. Bahkan mamah dan papah kami juga ada disini.

"Hahahh. Ada apa ini? Kalian ada disini?"

"Happy birthday yah Nad. Aku selaku kapten camping kali ini mau minta maaf udah ngerjain kamu."

"Jadi kalian cuma ngerjain aku? Jahat banget si. Aku khawatir beneran tau. Tapi akting kalian oke banget."

"Iya dong. Kita"

Perjalanan ini kami akhiri dengan pelukan hangat. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti mereka.

*BIODATA DIRI
Nama Lengkap : Dian Puji Rahayu
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir : Cilacap, 12 Oktober 2002
Asal Sekolah : SMPN 02 Sampang
Jurusan : -
No. Induk : -
Alamat : Paketingan, Jl. Ori RT 03/02 No.308B
Alamat Email : dianrahayu1210@gmail.com
No. Handphone : 08994246790

No comments:

Post a Comment