Penguat dalam Diamku - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 16 December 2017

Penguat dalam Diamku

Sofie Adestia Mega*

22 desember adalah hari pahlawan terhebat di dunia. Pahlawan terbaik yang dimiliki oleh setiap orang. Pahlawan yang sangat berjasa dalam hidup seseorang. Dia adalah ibu. Selamat hari ibu sedunia.

Malam ini sudah aku persiapkan surprise untuk ibu dan dibantu oleh Ulfa keponakanku. Tahun ini aku berusaha semaksimal mungkin untuk tetap tegar walaupun tanpa kehadiran Ayah untuk merayakan hari ibu bersama-sama.

22 desember kurang delapan hari ke hari ulang tahunku dan ayah pergi setelah delapan hari ulang tahunku. Aku berusaha keras agar air mataku tidak pecah di hadapan ibuku

“Dila, sudah siap dimulai sekarang acaranya? Sudah jam 20:30 ini, ayo jangan terlalu malam”

“Iya fa, ini sudah siap” aku tarik nafas pelan-pelan.
Aku dan ulfa langsung bergegas menuju tempat ibu. Saat ini ibuku sedang nonton televisi bersama paman, saudaraku dan keluargaku yang lainnya

“Selamat hari ibu” kataku dengan membawa kue tar ke hadapan ibuku

“Terima kasih sudah menjadi orang tua yang sangat hebat untuk dia dan saudara-saudara dia. Terima kasih sudah menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuk dia, terima kasih sudah kasih Dila semangat untuk belajar, maafkan dila yang sering nyusahin ibu, suka buat ibu kesal dengan sifat dila yang masih manja. Semoga kita bisa bersama-sama terus ya bu sampai tahun depan, tahun depanya lagi, lagi dan lagi” ibu tersenyum mendengar perkataanku ini, baru pertama kali aku bicara seperti ini terhadap ibuku.

“Terima kasih juga sayang masih mau merayakan hari ini walaupun tanpa ayah, tetap semangat ya Dila sayang. hari ini ibu minta agar dila lebih kuat, lebih semangat, lebih dewasa, belajar hidup mandiri agar bisa hidup tanpa ayah dan ibu, dila siap?”

Perkataan ibu sebenarnya merupakan hal terberat bagiku tapi aku harus berusaha, tujuan utamaku adalah untuk membuat orang tuaku bahagia teruutama ibuku.

“iya bu, insya allah dila siap” aku menyanggupi kemauan ibuku, lagi-lagi ibu mengabadikannya dengan senyum. Syurga rasanya ketika melihat ibuku tersenyum setelah perayaan hari ibu ini selesai akhirnya lelahku hari ini terbayarkan dengan senyuman sang ibu.


******

Setelah tiga hari yang lalu mengikuti UAS, alhamdulillah hari ini kita dapat merefresh fikiran dengan libur panjang. Sekarang hari jumat hari dimana aku menemui ayah. Biasanya perasaanku lebih tenang jika sudah melakukan rutinitasku yang ini

Dihari ini aku benar-benar ingin mengadu kepada ayah atas perihal dihari kemarin. Hari dimana aku harus menyanggupi permintaan ibu, ayah harus tahu aku belum bisa apa-apa jadi mana mungkin aku melakukan hal itu sendiri. Ayah harus tahu untuk hidup tanpa ayah saja aku sering merasa kewalahan apalagi belajar hidup sendiri tanpa ayah dan ibu. Ayah harus tahu setiap kali aku menghadapi  masalah aku hanya bisa menangis dalam diam karena aku butuh penasehat seperti ayah jadi mana mungkin aku bisa kuat tanpa ayah dan ibu.

Apa ayah kira aku baik-baik saja stelah ayah beranjak jauh sejak tahun lalu? Tidak ayah. Banyak hal yang membuat dila takut. Di usia yang mulai beranjak remaja ini dila merasa takut, takut memulai pergaulan baru, dila takut salah, dila benar-benar takut untuk berbicara dengan ibu tentang pergaulan baruku itu. Ibu hatinya terlalu lembut, ibu pasti mengidzinkanku. Beda dengan ayah, ayah paing hebat dalam menjaga pergaulan anaknya, ayah biasanya membatasi pergaulanku. Ayah membuatkanku daftar aktivitasku. Sangat berbeda dengan saat ayah masih ada. Aku gak bisa mengatur aktivitas keseharianku tanpa ayah. Ayah, dila takut. Dila benar butuh ayah

Akan aku coba mengikhlaskan ayah. Aku sadar ayah tidak lagi bisa mendampingiku. Sedangkan aku masih saja membutuhkan orang yang telah hilang.


*****

Malam yang begitu sunyi, senyap sekali. Saat ini aku sedang duduk diteras depan rumah ditemani sound aktif untuk  memberikan suasana ramai dalam keheningan malam. Sesekali aku memejamkan mata barang kali ayah hadir didalam diamku malam ini.

“Darrrrr…darrrr…darrrr” suara itu sangat mengejutkanku, suara yang asalnya begitu dekat dan menghadirkan cahaya-cahaya kecil diatas langit seakan menambah keindahan bintang. Suara yang hadir itu adalah petasan. Aku melupakan sesuatu, bahwa sekarang tanggal 30 Desember yang artinya adalah hari kelahiranku.

“Happy Birthday dila sayang” suara lembut dari ibuku dengan membawakan aku kue tar yang bermotif menara eiffle. Gambar yang paling aku sukai, aku sangat ingin menginjakkan kaki disana.

“ibu…ibu ingat hari ini? Dila benar-benar terkejut, emzzz…. Makasih ibu sudah ingat hari ini. I Love you Mom

“I love you too dila, ayo tiuo dulu lilinnya jangan lupa berdo’a” ujar ibuku

Sebelum aku tiup lilin tidak lupa aku berdo’a. do’a dila hari ini “semoga dila menjadi wanita yang lebih baik lagi dari tahun sebelumnya dan dila bisa belajar makna hidup dari tahun sebelumnya. Aminnn” langsung saja lilin yang berangka 16 aku tiup

“tambah dewasa ya sayang, semoga semua keinginanmu tercapai, aminnn” dengan melempar senyum bahagia ibu juga memberikan aku hadiah. Ibu meminta aku untuk membuka kadonya. Setelah aku buka ternyata ibu memberikan aku ‘sajadah dan mukenah’. Mukenah yang diberikan ibu adalah mukenah yang harganya bukan main dari segi kualitas bahan termasuk bahan terbaik di Indonesia.

“tambah pintar dan semoga cepat tinggi. Hehehe” kata ulfa ngeledek

Ukuran tubuhku yang kecil atau bisa dibilang bogel ini sering kali dapat omongan orang.

Malam sudah mulai larut, mataku sudah mulai memerah, aku lelah sekali. Sesudah acara aku pergi menuju kamar, tak sengaja mataku memandang sesuatu yang melukiskan wajah seseorang yang tahun lalu ikut merayakan hari kelahiranku. Lelaki terhebatku, ayah.

Ayah, aku sudah cukup lama ditinggalkanmu. Sejauh ini aku mencoba menguatkan diri dengan mencoba berdiri dan melangkah tanpa ayah. Aku mencoba kuat untuk ibu dan agar ayah tidak khawatir lagi terhadap dila. Ayah dan ibu adalah alasanku untuk tetap tegar, kalian adalah penguat dalam diamku.

Sesekali aku memandang foto ayah pasti menetaskan air mata. Tanpa sadar ibu melihatku mulai tadi dari pintu kamar. Ibu menghampiriku dan mengusap kepalaku.

“Dila rindu ayah ?” kata ibuku

Aku mengangguk pelan dan menyandarkan kepala dipundak ibu. “iya bu, dila rindu ayah.

Bu, apa ibu tidak rindu pada ayah?”

Ibu menatap aku dengan air yang tergenang di bola matanya.

“Ibu tahu dila pasti sedih ditinggal ayah, ibu bukan tidak rindu ayah, ibu juga merasakannya. Ibu tersenyum agar kamu kuat sayang, agar dilanya ibu tetap punya semangat hidup. Jika ibu sedih dan terus larut dalam kesedihan, itu sama saja ibu membuat hidup dila suram. Tanpa ayah saja saat ini dila tidak mampu apalagi tanpa adanya semangat dari ibu. Ehmzzz…ini sudah sangat larut malam sayang, istirahat geh, Jangan nangis lagi. Selamat malam dila. Semoga ayah hadir dalam mimpimu sebagai hadiah ukang tahun darinya”

Malam ini pun aku tidur dengan penuh indahnya mimpi yang dihadiri ayah seraya berkata “HAPPY BIRTHDAY DILA AMELIA”


*BIODATA DIRI
Nama Lengkap                   : Sofie Adestia Mega
Jenis Kelamin                     : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir        : Sumenep, 30 Desember 2000
Asal Sekolah                      : Madrasah Aliyah An-Nur
Jurusan                              : IPS
No. Induk                            : -
Alamat                                : Galis Giligenting Sumenep Madura
Alamat Email                      : Adhestya2@gmail.com

No. Handphone                  : 083134566562

No comments:

Post a Comment