Ragaku Berbeda, tapi Impianku Sama - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 23 December 2017

Ragaku Berbeda, tapi Impianku Sama

doc.  Repro Internet

Sebut saja Feri. Anak berusia  kelas 5 SD pada umumnya. Ia hanya hidup berdua bersama ibunya. Hanya ibunya lah yang selama ini berjuang untuk bisa merawat Feri.


Mata Feri berkaca-kaca saat menatap teman-teman sebayanya sedang pergi ke sekolah.

“Bu, apa Feli tak tan pelah sa asakan olah eti eka?” (Bu, apa Feri tak pernah bisa merasakan sekolah seperti mereka?)

Tatapan Feri pada teman sebayanya memberi harapan besar bahwa ia juga mampu berprestasi tanpa harus sekolah formal seperti mereka.

Sebelum Feri berucap, ibunya sesegera mungkin mengusap kerlingan mata Feri agar tak sampai terjatuh membasahi pipinya. Dalam benak ibunya, sekolah umum biasa masih sanggup kuprjuangkan nak. Hanya saja, jika itu adalah ladang engkau dicaci maki oleh temanmu, hatiku akan habis tersayat jika melihat itu.”

“ Bisa, sangat bisa asalkan Feri mau berdoa dalam setiap sujud Feri.”

Feri dinyatakan sebagai anak berkebutuhan khusus, pengidap down syndrome lebih tepatnya sejak berusia 2 tahun. Wajarnya, umur 2 tahun adalah ketika balita mulai dititah (bahasa jawa: dituntun) tegak menopang tubuhnya. Berbeda dengan Feri, tulang kakinya mulai melengkung, badannya kurus, tulang geraham yang turun kebawah sedikit hingga air liur sering menetes dari mulutnya. Pandangannya kosong, tak selincah bayi yang ingin mengungkapkan rasa ingin tahunya lewat ocehan-ocehan lucunya.

“Mbak, lain kali anaknya diajari jalan. Jangan dimanjain terus, masak umur 11 tahun masih merangkak?.”

Tak sekali dua kali ibu Feri mendapati ucapan yang memojokkan fisik anaknya. Dan sesekali Feri pun kebetulan mendengarkannya. Banyak tetangganya yang menganggap bahwa Feri hanya terjangkit gizi buruk. Padahal, kromosom Feri memang memiliki kelainan.

“Tangan etih bu, Feli ati ita uat ibu enum. Talena, di unia ini yang mau engelin eli anya ibu.” (Jangan sedih bu, Feri pasti bisa buat ibu tersenyum. Karena, di dunia ini yang mau dengerin hanya ibu.)

Ibu Feri berbahagia, anak yang memiliki tumbuh kembang tak sama dengan anak pada umumnya, ternyata memiliki harapan mulia untuk ibunya. Dengan fisik yang serba terbatas dan bantuan kursi roda, Feri mengutarakan harapannya untuk bisa membuat ibunya tersenyum dengan prestasinya nanti.

Feri akan mengikuti perlombaan yang telah disarankan oleh valounter dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Kurang lebih 5 orang yang rutin hadir tiap sebulan sekali selama 3 hari. Mereka juga hadir untuk anak yang tidak bersekolah karena terhalang oleh biaya. Mereka berupa komunitas yang bergiliran hadir seiring berjalannya generasi. Dan salah satunya selalu ada yang memiliki keahlian dalam melukis. Hingga ibu Feri pun mempercayai mereka untuk dapat menggalikan kemampuan Feri.

Seharusnya, dokter juga menyarankan bahwa Feri membutuhkan terapi khusus untuk melatih ia berjalan tegak, terapi untuk meningkatkan kecerdasan motorik, dan bisa berucap seperti orang normal pada umumnya. Tapi apalah daya, usia ibu Feri sudah berusia 45 tahun saat melahirkannya. Selain menjadi petani, pabrik mana yang mau meneriamanya?.

“Feri, ini sudah larut malam. Tidurlah nak.”

“ Ntal ulu bu Feli uha ini bial anak peli Feli tetap belimpi adi intang untuk ibuya,,” (ntar dulu bu, Feri usaha ini biar anak seperti Feri tetap bermimpi menjadi bintang untuk ibunya)

Lidah yang sulit berucap jelas adalah salah satu kekurangan Feri. Harapan mulia seorang anak yakni (usaha Feri biar anak sepertinya tetep bermimpi menjadi bintang untuk ibunya) ujar Feri.

***

Selasa, 27 maret 2017

Feri telah membuktikan harapannya pada dunia. bahwa anak sepertinya memang sangat bisa untuk menjadi bintang bagi ibunya bahkan lebih. Siapa yang tidak bangga jika memiliki anak yang juara satu tingkat Nasional. Lukisannya memiliki harga jual tinggi di mancanegara.

“Jika kau mampu menunjukkan siapa dirimu, engakau akan lebih dihargai nak. Dan suatu saat nanti, jika tutup usiaku. aku akan tega untuk meninggalkanmu.”

“Tak uta atut bu, ata Allah ti ampin Feli.” (tidak usah takut bu, ada Allah di samping Feri)

Bagi Feri, ia tak akan pernah takut kepada siapapun. Selama ada Allah ia akan selalu terjaga. Feri juga bermimpi di suatu saat nanti lukisannya mampu membantu pengobatan terapi anak sepertinya. Agar tak sampai merasakan celaan  seperti yang didapatinya. Untuk teman yang kurang beruntung sepertinya, ia berpesan bahwa kalian diciptakan oleh Dzat yang sama. Bermimpilah, dan jika ada yang meremehkan, segeralah berdoa. Karena Ia lebih berkuasa mengabulkan doa diatas penghinaan mereka.


Oleh: Pipit Nur Aini
*Penulis adalah Mahasiswi Semester 1 Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment