Robohnya Modal Usaha - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 16 December 2017

Robohnya Modal Usaha

Marenda Dety Astiana*

Entah ada kejadian apa di hari itu, sampai-sampai air mata dan keringat seakan tak bisa di bedakan saat menyatu di pipi gadis remaja itu. Saat mendengar pesan yang di sampaikan oleh Laki-laki berkacamata dan sudah ber uban yang umurnya sekitar 40 tahun.

Nak, sini ayah mau bicara denganmu.” Kata pak Burhan dengan membuka senyum lebarnya.

 “Ada apa ayah, kenapa kau memanggilku dengan wajah ayah yang amat kelihatan sedih.?” Kata Anna penasaran.

Pak Burhan menarik nafasnya dalam-dalam dan ia berhenti sejenak, seakan akan beliau tak sanggup harus menjelaskan semuanya kepada anak gadisnya itu. Tetapi sanggup atau gak sanggup pak Burhan harus menjelaskan semuanya.

 “Begini nak, ayah mau bekerja di Singapura selama kurang lebih 1-2 tahun nak, ayah di tugaskan untuk mengawasi proyek disana. Seharusnya ayah sudah di tugaskan dari tahun kemarin, tetapi ayah pending dulu karena ayah menunggu kamu selesai lulus dari SMK ” Kata pak Burhan sedih, meneteskan air mata, karna tak sanggup harus meninggalkan anak gadisnya yang baru saja lulus dari SMK.

Tak terpikirkan sedikit pun dalam pikiran Anna, ayahnya  akan jauh meninggalkanya. Memang, dari kecil ia tak pernah berpisah dengan pak Burhan yang sekaligus orang tua tunggal Anna. Ibunya meninggal saat tak kuasa menahan pendarahan saat melahirkan Anna.

 “Sebenarnya aku tak ingin berpisah dengan ayah,  baru saja aku lulus dari SMK sudah ayah tinggal ke luar negeri.” Kata Anna murung menundukan kepala.

 “Sebenarnya ayah juga berat untuk meninggalkanmu sendirian disini, ayah sangat menyayangimu nak.”

Anna diam tak bisa berkata apa-apa, seakan-akan ia tak ingin  kalau harus berpisah dengan ayahnya. Suara tangis tersedu-sedu keluar dari kelopak matanya.
 “Sudah nak jangan nangis lagi.” Kata pak Burhan sambil mengusap air mata anaknya.

Selama ayah pergi di Singapura, ayah sudah mempersiapkan modal usaha untukmu. Modal itu sebagai bekal buatmu selama ayah tidak ada disini. Ayah harap selama ayah tidak ada disini, kamu bisa menjaga diri dengan baik dan bisa menjalankan modal usaha yang sudah ayah beri ke kamu.” Kata pak Burhan sekali lagi, tersenyum sambil mengusap rambut kepala anaknya. 

“Modal usaha, modal usaha berupa apa ayah.?” Anna bertanya kepada ayahnya, ia juga bingung usaha apa yang akan di berikan kepadanya.

“Modal usaha itu berupa toko busana,”

 “Tapi ayah, aku gak bisa menjalankan usaha itu sendirian.”

“Ayah yakin kamu pasti bisa.”

“Bagaimana mungkin aku bisa menjalankan usaha itu, Anna belum pernah ber wirausaha ayah.” Jelas Anna dengat wajah merengut.

Pak Burhan tertawa kecil sambil tersenyum.

“Bagaimana mungkin kamu tidak bisa berwirausaha?, kamu juga lulusan dari SMK, pastinya sudah di bekal i oleh gurumu tentang berwirausaha. Apa kamu lupa, kalau kamu juga pernah Praktik Kerja Lapangan. Dan pastinya sudah punya pengalaman dalam bekerja maupun berwiusaha.”

“Iya ayah aku tau, tapi pengalaman kerjaku gak seberapa banyak seperti wirausaha lainya.” kata Anna.

“Sudah jangan mengelak omongan ayah nak,, coba kamu fikir kalau nggak ngejalanin usaha ini, memangnya kamu bisa bertahan hidup selama ayah di Singapura?”

“Nggak bisa kan,,,? Coba kamu fikir lagi baik-baik nak.” kata pak Burhan lagi.

“Iya dehh, aku akan menjalankan usaha toko busana yang ayah beri padaku.” kata Anna dengan terpaksa.

Akhirnya anak gadis pak Burhan itu setuju kalau harus di tinggal oleh ayahnya di luar negeri, dan harus menjalankan modal usaha yang sudah di berikan oleh ayahnya. Ia harus menjalankan usahanya sendiri, karena pak Burhan sengaja tidak memperkerjakan pembantu. Semua itu beliau lakukan untuk membuat anaknya mandiri. Keesokan hari, pak Burhan bersiap-siap untuk berangkat ke singapura. Anak gadisnya membantu membawakan barang-barang ayahnya ke bagasi taxi.

“Ayah hati-hati ya di jalan.”

“Iya nak, kamu juga jaga diri dan kesehatanmu baik-baik nak.”

“Iya ayah pasti, Love You Dad. Sampai di Singapura, jangan lupa membeli semir hitam rambut kepala. Biar kelihatan keren kalau gak ada ubanya yah.“ kata Anna bercanda sambil ketawa lepas.

Hahahahahahahaha,,,, kamu bisa aja nak. Walaupun sudah ber uban, ayah masih kelihatan muda dan ganteng kok.” kata pak Burhan ketawa.

Mereka terlihat ketawa lepas, bergurau dan bercanda. Sampai lupa jadwal penerbangan 2  jam lagi akan berangkat. Entah tiba-tiba apa yang ada di dalam fikiran pak Burhan sehinggga ia ingin sekali untuk menyampaikan pesan buat anak gadisnya itu. Ia takut kalau anak gadisnya itu tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. Akhirnya ia pun memberi pesan kepada anak gadisnya itu.

“Nak, ayah berpesan padamu.”

“Apa itu pesanya ayah.?” Tanya anak gadisnya.

“Ayah berpesan, kalau kamu pergi ke toko usaha nanti jangan sampai kamu terkena sinar matahari. Dan sebelum magrib harus sudah ada di rumah.” kata pak Burhan.

Oh iya, pasti Anna akan menurut i pesan ayah barusan.” kata Anna mengangguk anggukan kepala.

Laki-laki berkacamata itu tersenyum pada anak gadisnya itu.

“Fahami apa maksud dari pesan ayah barusan nak, dan jangan sampai kamu salah faham tentang pesan ayah barusan.”

“Tenang saja, Anna pasti faham apa yang ayah maksud.”

Jadwal penerbangan pak Burhan 2  jam lagi akan di mulai, pak Burhan segera menuju Bandara dan meninggalkan anaknya. Dan 1-2 tahun yang akan datang mereka akan bertemu kembali. Beliau tak menyangka kalau ia harus meninggalkan kedua gadisnya sendirian. Semua ini pak Burhan lakukan juga untuk mendidik kedua anak kembarnya untuk mandiri dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berwirasaha.

Air mata menetes membasahi kedua pipi laki-laki berkacamata itu di dalam taxi sambil memandang jalan raya yang ia lihat dari dalam jendela pintu taxi.

Semoga anakku baik-baik saja selama aku tinggal di Singapura, dan semoga bisa menjalankan pesan dariku.” Kata pak Burhan dalam hati, yang sebenarnya gak tega untuk meninggalkan anak gadisnya itu.

Pak Burhan memang sengaja memberikan modal usaha kepada anaknya, itu semua agar anaknya bisa hidup mandiri selama beliau tinggal di Singapura. Pada akhirnya Anna menjalankan amanah dari ayahnya, ia pun juga menjalankan modal usaha toko busana yang di berikan oleh ayahnya. Anna menjalankan usahanya sendiri. Sepanjang hari ia melakukan apa yang sudah menjadi kewajibanya. Anna juga tak lupa dengan pesan yang di beri oleh ayahnya. Bulan tersenyum menyaksikanya yang bisa hidup dengan mandiri. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan tak terasa semua begitu cepat. Anna yang sedang menuju kios toko busananya ia duduk melamun di dalam taxi, hanyut dibawa perasaanya. Seakan-akan ada sesuatu yang terpikirkan dalam pikiranya itu.

“Aku tak menyangka, bagaimana  usahaku bisa bangkrut seperti ini.?” Kata Anna sangat penasaran sambil memegang buku laporan keuangan toko busananya itu. Ia melamun lagi dan tiba-tiba di kagetkan oleh suara dering handphone yang terdengar dari dalam tasnya itu. Ternyata ia mendapat telepon dari ayahnya, yang setelah lama berminggu-minggu ia tak pernah menelpon anaknya. Kemudian Anna menerima telepon tersebut.

“Hallo ayah,, apa kabar.? “

Hallo nak,, kabar ayah baik. Kalau kamu sendiri bagaimana.?”

“Kabarku disini baik-baik saja ayah.”

Alhamdulilah,, bagaimana dengan modal usahamu.?”

“Aku sudah menjalankan usaha seperti yang ayah suruh, ini lagi On The Way kios toko yah.” Anna membohongi ayahnya, ia meyakinkan ayahnya bahwa usahanya baik-baik saja. Padahal usahanya mengalami bangkrut di ujung tanduk.

“Besok lusa ayah akan pulang ke indonesia, ayah sangat rindu denganmu. Sekaligus ayah juga ingin melihat hasil modal usahamu selama ayah tinggal di singapura.” kata pak Burhan.

Anna tak menyangka kalau ayahnya akan ke Indonesia besok lusa. Tangan anna gemetar sambil menggigit jarinya, karna ia takut kalau ayahnya tau bahwa modal usahanya telah bangkrut.

“Apaaa,,, besok lusa ayah ke Indonesia.? ” Anna terkejut dengan suaranya menggelegar membelah angkasa. Pak sopir taxi melihat cermin, yang berada tepat di atasnya menghadap ke wajah anna. Ia di kagetkan dengan suara anna yang sangat kencang. 

“Iya nak, lusa ayah akan ke Indonesia.”

“Iya ayah, hati-hati besok lusa dalam perjalanan kesini..” Kata anna dengan wajah panik, keringatnya menganak sungai. Karena ia takut ayah marah gara-gara modal usaha tokonya bangkrut.

Matahari mulai menunjukan pergantian hari, dari siang ke malam dan malam ke siang. Pak Burhan menelfon anna dan memberitahu bahwa ia sudah berada di bandara Soekarno Hatta. Ia duduk di lobby bandara sambil melihat ramainya bandara banyak orang keluar masuk  menuju gerbang pesawat. Ia duduk melamun sambil menunggu anak gadisnya datang untuk menjemputnya.

“Ayaaaaahhhh... “ teriak Anna dari kejauhan.

Anna memeluk erat ayahnya, sudah lama mereka tak pernah bertemu. Setelah salam kerinduan, mereka segera pulang. Di tengah perjalanan mereka berhenti di salah satu restaurant yang terletak di tengah kota yang sangat ramai di kerumungi banyak orang. Mereka hendak makan siang bersama, setelah sekian lama mereka tak pernah makan bersama.

Oh ya bagaimana dengan modal usahamu.?, sehabis makan ayah ingin lhat hasil usahamu selama ini.” Kata pak Burhan sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya.

“Baru saja kita bertemu dan makan bersama, tapi ayah langsung ngomongin tentang usaha.” kata Anna dengan wajahnya yang panik.

“Apa salahnya ayah menanyakan tentang usaha itu.?!”

Sangat salah!.”

“Letak salahnya dimana nak.?”

“Seharusnya kita bergurau,bercanda,tertawa bersama. Bukan malah membahas usaha terlebih dahulu!”

Iya-iya ayah tau, maafkan ayah.”

“Iya gapapa yah, Alhamdulilah usahaku lancar dan tak ada masalah sama sekali yah.” Kata Anna, ia selalu menutupi tentang usahanya yang bangkrut.
“Bagaimana ini, aku takut ayah tau kalau usahaku mengalami kebangkrut an.” kata Anna lagi dalam hati. Wajahnya nampak seperti orang linglung kebingungan.

Setelah selesai makan di restaurant, mereka segera melanjutkan perjalannya untuk pulang. Sebelum itu pak Burhan ingin mampir ke kios toko busana milik Anna terlebih dahulu. setelah sampai di kios toko busana milik Anna, pak Burhan sangat kaget sekali melihat hasil usaha Anna.

Mana usahamu Anna, yang kau bilang baik-baik saja.?’’

Ya ini usahaku yah.”

Ini yang kau namakan usaha.? “ kata pak Burhan dengan nada suaranya yang tinggi menggelegar. Anna tak menyangka kalau ayahnya bisa naik darah seperti itu.

Ayah tak menyangka kalau usahamu bisa sebangkrut ini.”

Semua ini bangkrut juga karna ayah.” bentak Anna.

Bagaimana bisa, kamu yang jalanin usaha ini. Bagaimana bisa ayah yang membuat semua ini bangkrut.?” kata pak Burhan dengan matanya yang membuka lebar.

Iya, ini semua gara-gara ayah, usaha ini bangkrut juga gara-gara ayah.”

Ini usahamu, ini ke bangkrutan mu. Kenapa kau jadi menyalahkan ayah seperti ini.?

Apa ayah lupa,, ini semua karena pesan ayah waktu mau pergi ke Singapura dua tahun yang lalu. Ayah berpesan kalau pergi ke kios toko jangan sampai kena sinar matahari, dan sebelum magrib harus sudah ada di rumah.” jelas Anna sambil merengutkan wajahnya.

Terus,,, ada yang salah dengan pesan ayah.?’

Gara-gara pesan ayah, aku ke kios sepanjang hari memakai taxi, karna aku takut kena sinar matahari. Dan pulangnya, aku menutup kiosku lebih awal karna aku takut keburu magrib. Pulangnya pun aku juga memakai taxi, karena saat kiosku tutup masih nampak  sinar matahari. Itu semua aku lakukan sepanjang hari selama dua tahun. Coba ayah fikir, setiap hari memakai taxi, dan menutup kios lebih awal. Apakah tidak menghabiskan dana,,? Dan kehabisan dana itu lah yang membuat usahaku bangkrut seperti ini. Ini semua juga gara-gara pesan ayah.”  

Pak Burhan tersenyum setelah mendengar penjelasan anak gadisnya itu.

Kenapa ayah jadi tersenyum.?’’

Apa ada yang salah jika ayah tersenyum.?”

Tidak, Lalu kenapa bisa tersenyum seperti itu.?”

Ayah bukan tersenyum”

Lalu apa,,?”

Pak Burhan menarik nafasnya pelan-pelan.

Ayah cuman nggak habis fikir, ternyata selama kamu menjalankan usaha ini, kamu nggak faham dengan pesan ayah.’’ kata pak Burhan sambil ketawa nyingir.

Emangnya kenapa yah.?’’

Ayah menyuruhmu untuk tidak terkena sinar matahari itu supaya kamu berangkat ke kios toko lebih pagi sehabis shubuh. Kan sehabis shubuh belom terlihat sinar matahari. Terus ayah juga menyuruhmu untuk pulang sebelum magrib, itu supaya kamu tutup kiosnya sekitar pukul 17.00. kan jam segitu matahari sudah tenggelam. Bukan malah kamu berangkat kesiangan dengan naik taxi dan menutup kios lebih awal teros naik taxi juga. Pantas saja bisnismu bisa bangkrut seperti ini.’’ kata pak Burhan menggelengkan kepalanya.

Maafkan aku yah, yang dari awal tak memahami apa maksud pesan ayah.”

Tidak bisa memaafkanmu nak!”

Jadi ayah tak mau memaafkanku?”

Bukan seperti itu maksudnya.”

Lalu,,,,,,?”

Pak Burhan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

Ayah akan memaafkanmu, Jika kamu mau memperbaiki usaha ini sampai semuanya benar-benar membaik.”

Iya ayah pasti, Aku pasti menjalankan usaha ini dengan baik dan melaksanakan pesan ayah dengan benar.” kata Anna tersenyum lebar.

Dan pada akhirnya Anna memperbaiki usahanya, sepanjang hari ia berangkat menuju kios sehabis sholat shubuh dan menutup kiosnya sebelum magrib sekitar pukul 17.00. Ia melakukanya setiap hari, pada akhirnya usahanya benar-benar sukses mengalami peningkatan. Pak Burhan ayahnya, bangga kalau anak gadisnya bisa berubah dan bisa menjalankan usahanya dengan baik. Kita bisa mengambil pelajaran dari cerita pak Burhan dan anak gadisnya itu. Bahwa kita jangan terlalu terburu-buru dalam memahami pesan dari seseorang. jika kita salah memahami apa maksud seseorang itu, kita juga yang rugi. seperti cerita pak burhan dan anak gadisnya itu. Satu pelajaran lagi yang bisa kita ambil, kita harus bekerja keras dalam melalukan hal apapun. Dan sudah selayaknya dalam setiap usaha kita harus selalu berakit-rakit kehulu, berenang-renang ke tepian...


*BIODATA DIRI
Nama Lengkap                   : Marenda Dety Astiana
Jenis Kelamin                     : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir        : Blora, 25 Februari 2000
Asal Sekolah                      : SMK YPM 3 Taman Sepanjang, Sidoarjo
Jurusan                               : Akuntansi
No. Induk                            : 99231750119
Alamat                                : Wonocolo RT 18 / RW 06 Taman Sidoarjo 61257 Jawa Timur.
Alamat Email                      : marenda.astiana22@yahoo.com

No. Handphone                  : 089626080093

No comments:

Post a Comment