Slogan Penulis, Brili Agung: Mengubah Patah Hati Menjadi Royalti - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 20 December 2017

Slogan Penulis, Brili Agung: Mengubah Patah Hati Menjadi Royalti

doc. Repro Internet

Araaita.com - Di gedung auditorium UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, tepatnya Senin lalu (18/12), tampak sekitar puluhan pasang mata mahasiswa dari pelbagai universitas menghadiri Seminar Kepenulisan dengan tema 'Mengukir Sejarah dengan Aksara'  yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)  Arrisalah UINSA.

Acara seminar itu dinarasumberi oleh Brili Agung Zaky Pradika (27) dan Soesilo Toer (81), adik Pramoedya Ananta Toer. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 10 pagi, Brili, sapaan karib Brili Agung Zaky Pradika, menjadi narasumber pertama saat itu.

Brili menyampaikan materinya dimulai dengan pengalaman-pengalaman yang pernah ia lalui. Pria kelahiran Purwokerto itu dikenal sebagai Authormaker, seperti yang dilansir dari laman resminya yakni karena visi hidupnya, “di tahun 2060, 7 dari 10 penulis di Indonesia ketika ditanya siapa gurunya, mereka akan menjawab Brili Agung.

Ia sudah melanglang buana ke seluruh pelosok Indonesia dan Asia untuk memberikan training di perusahaan multinasional. Ia juga mencetak puluhan penulis melalui salah satu lembaga miliknya, Inspirator Academy. Di sana ia menjadi guru untuk semua yang ingin menginspirasi lewat tulisan.

Pria yang kini memiliki tiga perusahaan penulis itu ternyata dulunya juga pernah menjabat sebagai Training Manager di Hotel Ritz-Carlton Jakarta. Ia juga bercerita kepada audien tentang apa yang pernah diimpikan dahulu kala.

Dahulu sebelum ia kuliah, ia bercita-cita untuk menjadi seorang dokter lantaran impiannya itu merupakan keinginan neneknya agar anak cucu neneknya menjadi seorang dokter. Namun ternyata dari sekian anak cucu neneknya itu tak satupun yang menjadi seorang dokter.

“Dulu cita-cita saya ingin menjadi seorang dokter, karena itu juga keinginan nenek saya pada anak cucunya,” cerita Brili kepada audien.

Kemudian saat masih SMA itulah ia bersikeras belajar dengan bersungguh-sungguh agar mendapat nilai yang ia inginkan agar bisa masuk perguruan tinggi favoritnya. Namun tak dapat dipungkiri, usahanya tampak sia-sia ketika ia diterima di jurusan perhotelan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

“Akhirnya saya coba saat SMA, saya belajar dengan tekun agar bisa masuk perguruan tinggi favorit saya. Teryata nasib berkata lain, saya diterima di Universitas Sebelas Maret Surakarta jurusan perhotelan,” sambungnya.

Ketika ia mengetahui hal itu, ia sadar bahwa ia tetap mensyukuri apa yang didapatkannya. Akhirnya ia mencoba menekuni hobinya sebagai penulis, walaupun mendapat pertentangan dari orang tuanya dan membuat ia diusir dari rumah oleh orang tuanya tersebut.

Waktu sudah berlalu, Brili kembali ke rumah pas ketika malam lebaran. Ia meminta maaf kepada orang tuanya karena sudah mengecewakan mereka. Namun, ia tak membawa tangan kosong, sebagai hadiah dari permintaan maafnya ia membelikan dua tiket terbang ke tanah suci untuk mereka berdua.

“Pak, Bu, saya minta maaf sudah mengecewakan. Saya belum bisa berbakti kepada bapak dan ibu,” lanjutnya sambil mencium tangan dan kaki kedua orang tuanya saat itu.

Dua tiket itu ia dapatkan hasil royalti dari buku-bukunya yang laku terjual. Alhasil, keharuan mereka pecah saat itu juga, merasa bangga terhadap anaknya itu. Lalu celetuk ibunya heran menanyakan dari mana ia mampu beli dua tiket itu.

“Uang dari mana kamu bisa membeli dua tiket ini, nak?” tiru Brili yang dikatakan ibunya pada saat itu. “Ini semua hasil dari royalti buku-buku saya yang laku terjual, bu,” ungkapnya dengan nada harunya.

Selain sebagai penulis dan pengusaha, ia juga aktif di bidang sosial. Salah satunya ia mendirikan sebuah Rumah Tahfidz Al Qalam di Banyumas. Sebuah Rumah Tahfidz gratis bagi yatim dan dhuafa. Rumah Tahfidz ini ia bangun dari hasil royalti Kitab Penyihir Aksara.

Dari situlah ia memegang teguh pedoman atau slogan yang ia kobarkan kepada para penulis, “slogan penulis adalah dengan mengubah patah hati menjadi royalti,” ujar pria yang memakai jas hitam tersebut. (Moh)

No comments:

Post a Comment