Soesilo Toer, Penulis Humoris yang Ditipu Sang Kakak - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 19 December 2017

Soesilo Toer, Penulis Humoris yang Ditipu Sang Kakak

Soesilo Toer Saat Menyampaikan Materinya - doc. Aida/Arta

Araaita.com - Siang itu gedung Auditorium UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dipenuhi para mahasiswa, guratan senyum dari kulit yang tak lagi muda hadir tersemat di wajah narasumber, Soesilo Toer adik dari sastrawan Indonesia Pramodya Ananta Toer.  Berdiri di podium auditorium memberi semangat literasi bagi mahasiswa.

Soesilo Toer yang nampak sudah sedikit lemah di usianya yang kini menginjak 80 tahun bahkan masih sanggup berdiri tegak untuk mengisi acara seminar kepenulisan 'Mengukir Sejarah Dengan Aksara'  yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)  Arrisalah pada Senin, (18/12).

Lelaki kelahiran Blora,  Jawa Tengah dengan wajah bercambang putih dan tak lagi muda namun jangan menyangka dia tak mampu,  macam keladi tua-tua makin menjadi.  Semangat literasinya semakin membara.

Lantunan bait humoris keluar dari tutur katanya,  seperti pernyataannya saat ditanya awal mula merintis dunia kepenulisan,  Soesilo mengungkapkan bahwa ia menjadi penulis karena ditipu oleh sang kakak.

"Karena saya ditipu oleh Pram,  katanya saya mau disekolahkan jadi master,  dokter diajak ke Jakarta bukan jadi master malah jadi penulis,"  tuturnya sembari tertawa kecil.

Soesilo,  dengan sifat rendah hati dan sederhana tak menampakkan bahwa dirinya seorang yang bergelar tinggi,  lulusan S2 Universitas Lumumba dan S3 Institut Plekhanov di Rusia,  memilih untuk menjadi penulis, baginya ia harus hidup dengan menulis.
"Tulisan pertama saya dimuat yaitu saya  ingin jadi  jendral lalu saya kumpulkan menjadi komponen penting, yang sudah terbit saya tidak ingat yang  penting sampai saat ini saya masih menulis," ungkapnya saat diwawancarai crew araaita.com.

Lagi,  jiwa humorisnya muncul saat ditanya rahasia semangatnya di dunia literasi semakin jadi saat umur tak lagi muda.

"Karena saya semangat ketemu anda,  senyum anda sebagai guru saya,  yang utama itu semangat karenanya diawal tadi saya memberi semangat bukan selamat," katanya dengan wajah semangat.

Kritik terhadap sastra sangat melekat dalam jiwa Soesilo, hal itu dibuktikan dari pendapatnya yang menyayangkan salah satu buku yang berjudul ‘cantik itu luka’.

"Itu merusak bahasa,  bahasa sastra menjadi bahasa pasaran,  lingua franca.  Padahal Pram pernah mengangkat bahasa satra menjadi bahasa lingua franca,  ini dibalik lagi,"  ungkapnya.

Motivasi Soesilo pada generasi muda di era saat ini yaitu jangan jadikan menulis sekedar hobi saja.

"Jadikan menulis bagian dari hidupmu jika hanya sekedar hobi begitu anda makan kacang gurihnya hilang tidak nyaman dan jika kalian membaca ambillah manfaatnya," cetusnya.  (rurun)

No comments:

Post a Comment