Untukku 25 Tahun Kedepan - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 16 December 2017

Untukku 25 Tahun Kedepan

 
Ica Ariska*
Aku benci bagaimana caraku menjalani hidup. Banyak orang memandangku sebelah mata hanya karena aku tidak menjalani apa yang menurut mereka adalah terbaik. Temanku, saudaraku, sepupuku, bibiku, dan masih banyak lagi. Aku hidup dilingkungan yang serba tertata. Mulai dari dimana kau akan bersekolah, bagaimana kau harus bergaul, bagaimana kau harus melakukan ini dan itu. Semua itu bertolak belakang dengan keinginanku. Dulu aku hanya remaja perempuan yang terlalu egois untuk mematuhi semua peraturan tidak tertulis itu.

Sebagai contoh, dulu banyak orang memaksaku untuk melanjutkan pendidikan di SMA karena nilai UN SMP ku terbilang lumayan. Tapi aku menolaknya dengan alasan aku mungkin bisa lebih mandiri dan dewasa jika aku melanjutkan ke SMK saja. setelah aku mengambil keputusan itu, tiba-tiba munculah rumor kalau nilai UN SMP ku adalah hasil kecuranganku sehingga aku tidak berani melanjutkan ke SMA. Meskipun itu semua tidak benar, aku tetap tidak bisa menghentikan omong kosong yang sudah terlanjur menyebar ke telinga-mulut tidak bertanggung jawab. Dan masih banyak hal lain lagi.

Empat tahun yang lalu aku menunda kuliah untuk bekerja. Dan orang-orang mulai mencibir keputusanku. Mungkin sebagian dari kalian akan setuju dengan mereka. Untuk apa aku lebih mendahulukan pekerjaan daripada pendidikanku? Sedangkan saudaraku yang lain sudah hampir menyelesaikan pendidikan S1 mereka. Jika kalian tahu, aku bukanlah anak yang lahir di tengah keluarga kaya yang tidak perlu memikirkan masalah keuangan. Meskipun orang tuaku sanggup membiayai kuliahku sekalipun aku akan tetap memilih jalan ini, karena aku tidak mau membebani mereka. Dan hasilnya sekarang aku sudah berhasil menyelesaikan pendidikan S1 ku dengan hasil kerja kerasku sendiri.

Sekarang aku bekerja di sebuah instansi. Meskipun aku bukan pegawai negeri sipil seperti saudara atau sepupuku yang lain, gajiku lebih dari cukup untuk membiayai kehidupanku sendiri, bahkan aku bisa membantu ekonomi keluargaku. Disaat seperti ini masih banyak orang yang selalu mencibirku. Aku sudah kenyang dengan omongan mereka yang selalu menyesalkanku karena tidak menjadi pegawai negeri sipil juga. Ya mereka benar. Aku juga menyesalinya sekarang. Mungkin jika aku mengikuti keinginan mereka saja dari dulu tidak akan seperti ini hasilnya. Aku iri melihat saudara-saudaraku yang selalu berangkat kerja dengan seragam dinas mereka masing-masing. Aku iri melihat masa tua mereka yang terjamin. Aku menyesali keegoisanku di masa lampau. Jika dulu aku melanjutkan pendidikan ke SMA saja, jika dulu aku langsung meneruskan kuliah saja meskipun orang tuaku harus kerja keras. Jika saja aku memilih bidang Pendidikan sama dengan saudara-saudaraku. Jika saja aku tidak egois dan berakhir menjadi pegawai kantoran biasa seperti ini. Dan masih banyak kata "jika" lainnya dikepalaku. 


Kini aku lebih menutup diri dari lingkunganku. Aku malu karena tidak se-sukses saudara atau sepupuku yang lain. Aku mulai sering absen di acara-acara keluarga karena aku benci jika ditanya "bagaimana pekerjaanmu?" aku tidak suka dengan cara mereka melontarkan pertanyaan itu. Menurutku itu bukan pertanyaan, tapi cibiran yang dilontarkan secara terang-terangan.

Suatu hari, saat aku berkemas karena baru saja pindah rumah, aku menemukan banyak barang-barang lamaku ketika aku masih bersekolah. Aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk membongkar barang-barang lamaku untuk ber-nostalgia. Semuanya masih utuh seperti dulu. Lalu aku menemukan sebuah tas berwarna merah jambu yang seingatku adalah hadiah dari nenekku saat aku berusia 8-9 tahun. Aku membuka resletingnya yang berkarat. Aku menemukan sebuah amplop yang juga berwarna senada dengan kertas yang ada didalamnya. Aku mulai membukanya dan membacanya secara seksama.

"Jika aku punya mesin waktu, aku ingin sekali menemuimu. Aku ingin melihat bagaimana rupamu. Apa kau terlihat seperti ibu saat masih muda dulu? Apa kau terlihat keren seperti ayah yang selalu sibuk bekerja? Aku ingin sekali melihatmu dengan memakai seragam yang biasa di pakai ibu kepala sekolah di sekolahku. Aku ingin menjadi seperti ibu kepala sekolah yang bisa mengatur sekolahnya sesuai dengan keinginannya sendiri. Jadi jika aku menjadi kepala sekolah nanti, aku akan menghapuskan pr di sekolahku, jadi murid-muridku nanti bisa bermain saat pulang sekolah tanpa harus memikirkan pr yang di berikan ibu guru disekolah. Hehe... Dari: aku umur 8 tahun. Untuk: aku 25 tahun lagi."

Bibirku menyunggingkan senyum, namun mataku tidak berhenti meneteskan air mata. Aku merasa bersalah pada diriku sendiri. Andai aku bertemu dengan diriku 25 tahun yang lalu, apa yang harus ku katakan? Aku hanya akan membuatnya kecewa karena tidak berhasil mewujudkan mimpinya. Orang-orang disekitarku benar. Aku bisa saja berakhir menjadi seorang guru atau bahkan kepala sekolah sekalipun jika aku menuruti kata mereka. Sekali lagi, aku merasa seperti jatuh kedalam lubang yang tidak berdasar.

Keesokan harinya sepulang bekerja. Aku duduk diruang tamu rumahku masih dengan setelan kantorku. Aku menghabiskan waktu untuk membuat alasan agar aku bisa lolos lagi dari acara keluarga yang akan dilaksanakan minggu depan. Aku sudah cukup frustrasi dengan pekerjaanku jadi aku tidak mau lebih terbebani lagi dengan urusan keluarga yang tidak ada habisnya seperti ini.

Aku berjalan di depan rumah nenekku. Kurasa ini adalah acara keluarga. Disana ada saudara ku yang sedang berlari-larian. Aku duduk di teras belakang rumah sambil merenungi nasibku yang sekarang. Tapi..... Ada yang aneh. Aku melihat wujud saudara-saudaraku yang masih kecil sedangkan aku tidak berubah sedikitpun. Orang tua, paman dan bibi, dan yang lainnya terlihat lebih muda. Aneh. Tiba-tiba seorang anak perempuan keluar dari rumah nenekku dengan membawa tas merah jambu yang mirip seperti milikku. Tunggu! Itu aku? Dia keluar dari rumah sambil berlari-lari kecil dan tanpa sengaja menabrakku. Dia berhenti sejenak lalu mendongak kearahku.

"Kau mirip sekali dengan ibuku. Apa kau salah satu bibiku? "
Aku menggeleng

"Lalu?"

"A.. Aku.... Aku adalah pemilik tas kecil yang bawa itu" ucapku sambil menunjuk tas kecilku. Aku berjongkok dan memegang kedua bahu diriku yang masih kecil.

"Dengar, jika kau mau menjadi seperti ibu kepala sekolah di sekolahmu maka turuti saja apa kata orang-orang di sekitarmu. Jangan pedulikan keinginanmu. Lakukan saja apa kata orang-orang disekitarmu meskipun kau tidak suka. Setuju? " sambungku dengan serius.

"Kau.. Kau adalah diriku 25 tahun lagi?! "
Aku mengangguk lemah.

"Wahh..... Hebat!  Aku baru saja menulis surat untukmu. Tapi kenapa kau benar-benar ada disini?"

"Aku kesini untuk mengubahmu agar tidak berakhir sepertiku yang sekarang ini."

"Sebenarnya kau tidak perlu mengubah apapun. Aku bangga denganmu yang sekarang"

"Apa?"

"Aku bangga denganmu karena kau tetap menjadi dirimu sendiri. Kau tidak peduli bagaimana orang-orang menentangmu. Kau tetap menjadi diri sindiri disaat banyak orang yang berusaha mengubahmu. Aku benar-benar bangga pada diriku sendiri. Aku tidak perlu menjadi ibu kepala sekolah jika aku harus membohongi diriku sendiri. Meskipun kau kesini untuk memperingatkanku, aku akan tetap melakukan apa yang sudah kau lakukan. Ya.. Karena sejujurnya aku ingin menjadi diriku sendiri"

Aku memeluknya, (diriku sendiri dimasa lalu) dengan berurai air mata. Ya benar. Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri. Tidak perlu menjadi pegawai negeri sipil, tidak juga sebagai kepala sekolah, aku hanya perlu menjadi pegawai kantoran yang percaya akan dirinya sendiri.

Aku memejamkan mataku sejenak dan saat membukanya lagi aku hanya memandang dinding-dinding ber cat putih dengan furnitur yang sama dengan ruang tamuku. Tunggu. Apa aku sudah pulang? Aku merasakan ada bekas air mata di sisi wajahku. Aku masih mengenakan setelan kantor yang terakhir kali kupakai. Jadi semua yang kualami tadi hanya mimpi? Tapi semua yang kurasakan tadi begitu nyata. Bahkan aku masih ingat bagaimana aku memeluk diriku yang kecil. Mungkin mimpi ini adalah jawaban atau sebuah petunjuk.

Sejak saat itu, aku tidak lagi absen dari acara keluarga. Aku selalu percaya diri menjawab pertanyan mereka yang terdengar seperti cibiran. Aku tidak lagi iri dengan seragam PNS saudaraku. Aku tidak menyesali apa yang sudah kulakukan, karena aku hanya perlu mejadi diriku sendiri.



*BIODATA DIRI
Nama Lengkap                   : Ica Ariska
Jenis Kelamin                     : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir        : Surabaya, 24 Juli 2000
Asal Sekolah                      : SMKN 1, Surabaya
Jurusan                              : Adm. Perkantoran
No. Induk                           : 26881/1944.100
Alamat                               : Kedung Baruk XVI/9b
Alamat Email                     : icaariska24@gmail.com

No. Handphone                 : 083830317797

No comments:

Post a Comment