Belajar Hidup di Dunia Maya tapi Tenggelam di Dunia Nyata - Araaita.com

Breaking News

Friday, 26 January 2018

Belajar Hidup di Dunia Maya tapi Tenggelam di Dunia Nyata

Dok. Repro Internet
Malam tak kunjung usai, untuk menghentikan kesibukan yang melelahkan. Sebagai manager, Dani harus bisa memimpin seluruh staf supaya mengumpulkan pekerjaan sesuai jadwal yang dietentukan.

Rintikan hujan di luar membuat anak kedua Dani merindukan kehangatan suasana keluarga. Jika hanya sekedar minum teh hangat lengkap dengan biskuit kelapa di sampingnya itu tidak cukup. Siapapun juga bisa membelinya, tapi tutur kata Dani sebagai Ayah yang diucapkan melalui canda tawa itu jarang ditemukan Kevin.   

Klunggg,,. Suara nada dering Dani pertanda ada pesan dari group WhatsApp (WA) keluarga kecilnya.
“Ayah, sudah jam 12 lebih. Kapan pulang?” Pesan yang sengaja diketik Kevin unuk Dani.

Mungkin itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan Kevin untuk mempertemukan rindu. Pesan dari putra Dani yang masih kelas 1 SD.  Tak dihiraukan oleh Dani, supaya target menyelesaikan pekerjaan cepat terlaksana. Juga agar bisa lebih cepat pulang ke rumah sesuai harapan Kevin.

Dion teman sebangku Kevin, selalu dibawakan bekal nasi berbentuk kartun-kartun lucu dengan hiasan beberapa sayur segar. Tidak seperti Kevin, yang selalu disiapkan bi Minah sandwich sari roti dan susu milo berukuran sedang untuk dibawa Kevin sebagai bekal. Hal tersebut juga perintah bunda supaya, Kevin tidak mebeli jajan sembarangan di kantin sekolah.

Dahulu, sempat bunda akan membuatkan masakan khas untuk Kevin. Tapi yang terjadi malah teflon itu hangus hitam  dengan asap yang membuat Kevin batuk sesak. Bunda membiarkan teflon berada di atas kompor yang menyala dengan minyak goreng. Bagaimana tidak menimbulkan asap, saat membuka lemari kulkas untuk mengambil telur  ibu masih sempat  bercanda tawa dengan group WA alumni SDnya.

“Kevin, sebelum berangkat ke sekolah jangan lupa untuk menaruh tablet di samping adikmu. Agar ketika mbak Inem belum datang adikmu tidak keluar dari kamarnya.” Pesan Bunda di smartphone Kevin

“Ayah, kuota WIFI masih ada kan? Jangan sampai telat supaya ketika Keira melihat video di youtube tidak kehabisan.” Sahut Bunda di pagi hari melalui pesan group WA keluarga.

Bunda tak melupakan perannya sebagai ibu. Mendapatkan  pesan-pesan bunda berupa peringatan atau nasihat melalui WA. Profesi Bunda sebagai duta Negara di London, memberi mereka jarak untuk bisa bertemu bersama secara langsung.  Tetapi tidak menghalangi untuk saling memberi kabar kegiatan mereka masing masing. Juga tidak melupakan peran Dani dan Bunda, sebagai orangtua untuk menjadi tempat curahan hati anak-anak mereka. Saat kak Vino, dan Kevin membutuhkan solusi dari pengalaman  seiring bertambahnya umur yang mereka miliki.

Suatu ketika Kevin terbaring sakit. Tapi, besok ujian akhir semester masih dilaksanakan. Kevin tidak sempat mengikuti les dengan kondisi yang tak memungkinkan. Berdiri saja seperti bayangan lemari kamar ada tiga. Kevin mencari kak Vino melalui chat WA keluarga.  Supaya, bisa menjenguk ia di kamar sekaligus membantu belajarnya  menguasai materi matematika dan IPA untuk ujian besok.

“Cari saja di Youtube pembelajaran pasti lengkap di sana. Jika kesulitan menjawab soal IPA, copy paste saja dari pembahasan yang tersedia di Google. Simple bukan?”

Ketus kak Vino melalui pesan WA, menolak untuk menjenguk dan menemani belajar Kevin di kamar. Setumpuk tugas kuliah kak Vino mungkin yang membuatnya sering menyepelekan pentingnya belajar. Bahwa, tugas mampu meningkatkan potensi diri bukan malah mendorong melakukan plagiasi.

“Sebentar, Ibu akan melihat keadaanmu dengan vidio call via WA saja nak yaa.” Respon Bunda melalui pesan WA saat mengetahui Kevin sakit.

Sudah sering Kevin mendapatkan sikap seperti ini. Meski sekarang Smart Phone sudah canggih, untuk sekedar meluangkan waktu berkumpul bersama sudah dimusnahkan dengan teknologi genggam. Saling memberikan cinta dan kasih dalam kehangatan sebuah keluarga saja tidak. Seharusnya Bunda juga faham bahwa sakit Kevin hanya respon psikis. Dari kerinduan seorang anak kepada ibunya.

Umur Keira, adik kevin tidak terbilang kecil lagi jika sudah mengenal dunia maya. Jadi jangan kaget jika sudah belajar nge- vlog meniru youtube yang ditontonnya.

Baby sister Keira sedang mengambilkan susu di kulkas. Kiranya, Keira akan duduk manis menonton kartun di Youtube. Rasa penasaran Keira untuk bisa meniru tarian Baby Shark sangat mendorong keinginannnya untuk membuat video. Tablet I-Phone ia sandarkan di tiang meja tempat peristirahatan kolam renang. Musik Baby Shark ia tombol dan kamera siap untuk menangkap tariannya.

“Baby Shark dudu du..” Alunan nada lagu tersebut mulai memanjakan telinga Keira.

Menari ke kanan dan ke kiri, maju dan mundur sesuai keinginannya. Keira melupakan kolam renang di belakangnya. Kedalaman kolam yang tak pernah diizinkan Dani, meski hanya sekedar berjalan-jalan di pinggir.

Blungggggggg!!! 

Keira terpeleset masuk ke kolam renang. Kejadian  di pagi hari saat keluarga sedang beraktivitas di luar rumah. Terlebih lokasi dapur yang lumayan jauh untuk berjalan menuju kolam renang.

Ketika sampai di kolam renang, bi Inem terkejut. Segera membawa Keira ke atas,  mencoba menjepit hidung dan memberinya nafas buatan. Hingga akhirnya Keira tersadarkan.

Sesampainya Ayah mengantarkanku pulang ke rumah, Bi Inem melaporkan kejadian tadi. Spontan Kevin mengabarkan lewat group WA untuk Bunda dan kak Vino. Muak Kevin kembali lagi, karena respon bunda untuk segera melihat kondisi dengan vidio call.

“Kau  masih kecil belum memahami apa-apa. Bahwa dunia nyata itu sudah fana Keira, berani sekali sudah mulai belajar hidup di dunia maya. ” Gerutu Kevin  dalam hati sambil tersenyum kecil.


Terkadang, betapa bodohnya manusia yang diperbudak teknologi genggam. Memberi jarak, atas segala keajaiban yang dimiliki Tuhan. Pada setiap sentuhan kasih sayang yang kini, tergantikan dengan sederet manipulasi teknologi genggam. 


Oleh: Pipit Nur Aini
*Penulis adalah Mahasiswi Semester 1 Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment