Menghargai Perbedaan Menciptakan Kedamaian - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 28 February 2018

Menghargai Perbedaan Menciptakan Kedamaian


Dok. Internet

"Bukan Negeri Kualat" salah satu kutipan dari sebuah stasiun televisi yang menggambarkan sebuah berita penganiayaan terhadap tokoh agama yaitu seorang pastur, berita yang sedang hangat dibincangkan di Negeri ini, Indonesia dan naasnya pelaku tersebut adalah seorang mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan masyarakat, kasus yang belum diketahui motifnya tersebut berlangsung selang beberapa minggu setelah kasus penganiyaan terhadap ulama. Apakah keduanya saling berkaitan? Jika memang iya betapa mudah kita diprovokasi, dimana janji kita untuk ikut serta merawat toleransi antar umat beragama untuk membangun bangsa ini.

Indonesia dengan beragam agama, etnis, budaya, suku, bahasa dan keragaman lainnya dan disatukan oleh bhineka tunggal ika, memang sudah sepantasnya untuk menyongsong kedamaian. Lantas bagaimana kita bisa memulainya? Seperti sebuah pepatah oleh Mahatma Gandhi "if you want to make peace in the world, you have to start with children" (jika kamu ingin menciptakan perdamaian di dunia, kamu bisa memulainya dari anak kecil)

Ilmu perdamaian, menurut saya memang sudah sepatutnya mulai diajarkan sejak kecil,  dengan menciptakan indonesia damai yang merawat toleransi di masa yang akan datang harus dimulai sedini mungkin. Bagaimana caranya kita mengajarkan nilai-nilai perdamaian kepada anak-anak agar mereka faham bahwa "different is not enemy" perbedaan bukan musuh, selanjutnya dimulai dari diri sendiri bagaimana kita tidak mudah terprovokasi oleh para pengadu domba yang mengkotak-kotakan tembok pemersatu bangsa Indonesia.

Sangat mudah bagi Negara yang ingin meruntuhkan Indonesia hanya dengan satu kunci, yaitu memecah belah umat beragama yang begitu beragam di Negeri ini. Sepatutnya hal itu menjadi penyemangat kita agar semakin kuat membangun benteng perdamaian yang kokoh menuju Indonesia tahun 2045, yang mungkin semuanya akan sangat canggih bahkan hanya karena pertikaian di media sosial berujung perang antar agama. Ingatlah untuk bersatu tidak harus sama

Prasangka-prasangka negatif terhadap perbedaan etnis, agama, status ekonomi, sosial hingga bahasa  harus dihapuskan, bersama untuk mengatasi konflik, menolak kekerasan yang ada, mengakui kesalahan dan saling memaafkan itulah beberapa point penting yang harus kita tancapkan dalam diri kita, melalui hal tersebut kita mampu merawat toleransi di bawah bhinneka tunggal ika. betapa indahnya dunia ini ketika semua umat manusia saling memahami dan tidak berprasangka buruk terhadap perbedaan. Karena setiap agama mengajarkan kedamaian. Sebab itu pahamilah agama lain karena dengan itu kita akan mampu menghargai perbedaan bukan untuk menggoyahkan kepercayaan. Innama a'malu binniat.

Terakhir saya mengutip dari pemikiran Turki Syekh Baiduzzaman Said Nursi bahwa yang layak dimusuhi bersama adalah permusuhan itu sendiri. Jika seluruh umat memegang prinsip itu maka tidak ada permusuhan di atas muka bumi ini.


Oleh: Ayu Kamalia Khoirun Nisa'

No comments:

Post a Comment