Sisi Positif di Balik Pahit Getir Kehidupan - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 7 February 2018

Sisi Positif di Balik Pahit Getir Kehidupan

Judul buku : Pesantren Impian
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Asma Nadia Publising House
Tahun terbit : 2014
Cetakan : Pertama 
Jumlah halaman : 314 halaman
Peresensi : Arum Putriani

Asmarani Rosalba yang lebih dikenal dengan Asma Nadia merupakan salah satu penulis perempuan Indonesia yang sangat produktif. Ia sudah menghasilkan karya lebih dari 50 buku yang sebagian sudah difilmkan, salah satunya novel yang berjudul Pesantren Impian ini difimkan pada tahun 2016 dengan judul yang sama. Asma Nadia saat ini aktif memberikan workshop dan dialog kepenulisan ke berbagai pelosok tanah air, beberapa kota di Jepang dan Benua Eropa, hingga ke benua Australia, Amerika, dan Afrika.

Diisyaratkan dengan sebuah sub judul di sampul novel “Cinta, teka-teki dan kematian”, penulis berhasil membangkitkan rasa keingintahuan pembaca tentang teka-teki apa yang tersimpan dalam novel ini. Sekilas saat membaca kalimat tersebut, muncul pemikiran bahwa novel ini berisi kisah cinta seseorang hingga mengantarkan pada kematiannya. Akan tetapi ,apa hubungannya dengan pemberian judul Pesantren Impian? Asma Nadia dengan uniknya menciptakan ide imajinatif yang tidak mustahil terjadi di kehidupan nyata.

Dilihat dari ilustrasi gambar di bagian sampul, yaitu sesosok wanita berkerudung hitam yang sedang menutup separuh mukanya dengan topeng. Gambar tersebut menjadi simbol bahwa wanita tersebut sedang bermain dalam sandiwara kehidupan. Mimik wajah yang digambarkan dengan sorotan mata yang amat tajam seperti menyimpan banyak misteri dalam kehidupannya.

Dalam perjalanan ceritanya, penulis mengungkap berbagai tokoh dengan karakter-karakternya yang tidak cukup mudah dipahami hanya dengan sekali membaca. Permainan watak yang begitu menarik, yang semula dianggap baik ternyata kebalikannya.

Lima belas gadis dimunculkan sebagai santriwari di sebuah tempat penyucian diri yang disebut Pesantren Impian yang terletak disuatu pulau di pinggir Aceh. Masing-masing dari mereka hadir dengan membawa masalah yang berbeda-beda pula. Masalah Rini yang secara psikologis terganggu atas kehamilannya di luar nikah, Butet yang pernah menjadi pengedar narkoba sekaligus kaki tangan mafia obat-obatan terlarang dan menjadi tersangka pembunuhan, Ipung yang pernah melakukan aborsi hingga empat kali, Ita, Iin, Sissy, Inong, Ina, Evi dan enam gadis bermasalah lainnya.

Menjalani Kehidupan di Pesantren Impian membuat mereka sedikit melupakan masalah-masalah mereka. Kerena mereka disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di pesantren. Persahabatan pun mulai terjalin diantara mereka.

Mereka saling bekerja sama memecahkan masalah Rini. Sekian banyak lelaki terdekat Rini yang dicurigai dan dikumpulkan oleh sahabat-sahabatnya. Dari ayah tiri, paklik Kusno, hingga mas Bagus yang ia kagumi pun tidak menutup kemungkinan yang menjadi pelakunya.

Namun ketentraman yang mereka rasakan tak bertahan lama karena tiba-tiba Sinta dan Santi mengalami sakaw. Dan pada suatu malam Yanti terbunuh, membuat semua penghuni pesantren ketakutan dan was-was. Setelah malam itu, pesantren juga kedatangan penyusup, hal ini membuat Eni waspada karena memang dia seorang polisi. Ternyata penyusup itu datang lagi serta menculik Butet. Sebenarnya apa yang terjadi di pesantren impian? padahal sebelummya pesantren impian adalah tempat yang tenang, tentram dan damai.

Pesantren yang dikenal sebagai tempat pembersihan diri untuk menembus dosa itu ternyata juga dibangun dengan alasan yang sama, yakni sebagai satu-satunya cara Umar untuk menebus dosa-dosanya yang telah mencari rezeki dengan cara haram hingga keluarganya meninggal dalam sebuah kebakaran.

Permasalahan Rini yang berkepanjangan dipecahkan bersama sahabat-sahabat barunya hingga melibatkan Umar yang merupakan pemilik sebenarnya dari Pesantren Impian. Akhirnya, konflik tersebut terselesaikan dengan terungkapnya pelaku perbuatan keji itu yang sama sekali tidak diduga , yaitu paklik Kusno yang memiliki perawakan seperti wanita.

Novel ini berisi banyak inspirasi yang dapat memotivasi pembaca untuk tidak putus asa dalam menghadapi ujian-ujian kehidupan yang datang secara bertubi-tubi. Dari novel ini pula dapat ditemukan beberapa sisi positif yang dapat dijadikan teladan bagi pembaca. Masalah yang hadir tidak akan diujikan di luar batas kemampuan dan cara memecahkan masalah tersebut adalah dengan mengembalikan kepada Sang Pencipta. Namun harus dibarengi dengan usaha terlebih dahulu, salah satu usaha yang ditunjukkan dalam novel ini adalah meninggalkan hal-hal yang dekat kemungkinan untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Cara Asma Nadia menyembunyikan identitas tokohnya yang ia tuliskan dengan sebutan si gadis yang tidak lain juga merupakan Santriwan Pesantren Impia belum juga terkuak hingga akhir bab. Penulis seperti membebaskan pembaca untuk memberi nama sendiri kepada si gadis yang dimaksud. 

Hal itu merupakan bagian yang menarik sekaligus menjadi kelemahan novel ini, yang membuat pembaca harus mengulang lagi lembar-lembar sebelumnya untuk memecahkan siapa si gadis yang dimaksud. Akan tetapi, isi dari novel ini layak mendapat predikat A dari nilai-nilai pendidikannya yang dapat dijadikan teladan bagi pembaca.

No comments:

Post a Comment