Antagonis Adakalanya Bersikap Manis - Araaita.com

Breaking News

Friday, 16 March 2018

Antagonis Adakalanya Bersikap Manis

Dok. Repro Internet

Buku rahvayana ini salah satu karangan Sujiwo Tejo. Pasti kalian tidak asing lagi mendengar namanya. Sujiwo Tejo sendiripun seorang budayawan yang pamornya sudah tidak bisa diremehkan lagi. Lagi lagi jiwo menuliskan cerita pewayangan dari negeri arya, ramayana. Tapi kali ini ia bukan menuliskan sesosok rama dan sinta, pasangan kekasih yang sering di agung agungkan itu. Melainkan se sosok rahwana, raksasa besar penculik sinta.

Pada umumnya kita pasti membenci peran si antagonis dalam sebuah cerita, ada yang menyalahkannya, bahkan di fikiran kita menetapkan bahwa peran si antagonis ini tidak akan memiliki kebaikan sama sekali. Sedangkan di dalam buku “rahvayana” ini si jiwo mengulas secara detail takdir dan alasan mengapa si rahwana ini memerankan peran antagonis.

Disini jiwo juga mengajak para pembaca mengolah pemikiran kita dan mengubah pandangan bahwa yang buruk tidak selamanya buruk, selalu ada makna yang tersembunyi di balik rahasia tuhan. Layaknya dua titik yang di tarik bersamaan hingga kedua titik itu saling terbentur dan membentuk sebuah segitiga. 

Tak lupa pula, perlu kita acungi jempol kepada raksasa “rahwana” si pemilik 10 kepala ini. Karena begitu besarnya rasa cintanya kepada sinta. Begitu sabarnya rahwana menunggu balasan cinta sinta dan tak pernah menyentuhnya , Padahal cukup mudahnya rahwana jika dia menginginkan hal itu. Secantik apapun cleopatra, rahwana tetap mencintai sinta. Si rama yang notabene suami sinta meragukan kesucian sinta sepulangnya dari argasoka. Begitulah tulusnya cinta milik rahwan yang dahsyat dan murni. 

Tapi tidak hanya itu saja yang terulas didalam buku “rahvayana” ini, si budayawan fikiran nyentrik ini memadu padankan tokoh pewayangan dengan dua dunia. Loncat ke tiap tiap abad dengan kesinambungan tokoh pewayangan itu. 

Disisi lain bagi para pembaca yang minim refrensi, jika membaca buku “rahvayana” ini susah dimengerti. Sebab dari judul sendiri kita bisa menilai bahwa buku ini bercerita tentang tokoh pewayangan, tapi buku ini sendiri pun juga ada tokoh tokoh filsafat yang di buat ada keterkaitan tentang dunia pewayangan. 

Kata kata yang digunakan oleh buku ini pun cukup dibilang kasar dan sedikit vulgar. Seharusnya buku ini juga disarankan hanya untuk orang-orang dewasa pembacanya.

Oleh: Nur Komariya

No comments:

Post a Comment