Debu - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 17 March 2018

Debu

Dok. Repro Internet

Saat itu aku sedang bermain-main di belakang rumahku. Saat itu usiaku tujuh tahun. Belakang rumahku yang reot, semak-semak, gunungan rongsokan, dan kandang ayam menjadi temanku sehari-hari.

Siang itu Simbok sedang berjualan sayur hasil kebun. Simbok menjajakan sayur-mayur dengan cara berkeliling kampung, memikulnya dengan tas besar. Ditemani sepasang sandal kayu yang tak lagi bisa menopang keseluruhan kakinya, Simbok berangkat pagi-pagi sekali. Sedangkan saat itu, Bapak baru saja pulang dari mencari rongsokan. Sembari berjalan melewati pintu belakang, beberapa kali Bapak mengibas-ngibaskan topinya ke arah leher. Keringat membahasahi pelipis hitamnya. Bapak berjalan menuju gunungan rongsokan, kurang lebih lima meter di sebelah kananku. Kemudian ia menumpahkan apa yang ia bawa di tangan kirinya. Sekarung penuh rongsokan kini semakin menambah tinggi gunungan rongsokan kesayangan bapak. Bapak tersenyum puas.

Setelah Bapak meletakkan karungnya, Bapak berjalan ke arahku, “eh, yo ngeneki lee, panas-panas oleh rongsokan akeh. Mene Koe jaluk tumbasno opo?” (Ya, beginilah nak, panas-panas dapat rongsokan banyak. Besok kamu mau minta beliin apa?)

“Wes ndak usah to, pak.” (Sudahlah tak usah, pak)

“Halaah, mengko bengi, Ko Anjar arep njupuk rongsokan iki. Terus  sesuk, Bapak iki arep ng pasar karo Simbok. Mene tak tumbasno dolanan yo!” (Halaaah, nanti malam, Ko Anjar bakal ngambil rongsokan ini. Terus besok, Bapak mau ke pasar sama Simbok. Besok tak beliin mainan ya!)

Dorrr… dorr.. dor… dor… dor…

Tiba-tiba, dari ara selatan terdengar suara tembakan. Tak lama kemudian terdengar orang-orang berteriak. Diiringi langkah kaki yang semakin cepat, suara teriakan itu semakin menggema memekakan telinga.

“Allahuakbar… Allaaah..”

“Toloong…”

“Ayooo… Ayooo… dasar bajingan.”

Belum sempat aku mencerna apa yang sedang terjadi, sebuah tembakan lepas tepat di depan mataku. Ternyata mereka. Mereka para orang-orang yang datang jauh yang suka merampas dan menghancurkan seisi kotaku, memeras kekayaan alamku, membunuh para tetanggaku, serta menginjak-injak benderaku.

Saat itu aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Seketika tubuhku membeku. Ngeri. Ku lihat Bapak sudah terkapar di tanah. Darah mulai merembes dari punggung sebelah kirinya menuju tanah. Menyebar. Aku tetap terpaku. Aku bisa mencium bau anyir itu. Bapak tidak terpejam. Sambil meremas erat dada kirinya, Bapak mencoba bangkit, mencoba meraihku. Aku masih saja terpaku. Tangan Bapak masih menggapai-gapai ke arahku.

Seketika itu juga ku lihat tangan Bapak tak lagi menggapai. Detik itu, pandangannya kosong dan tangannya yang penuh darah itu jatuh tergeletak membentur tanah. Debu-debu berterbangan di sekitar hidungnya. Bapak masih bernapas. Napasnya tersengal.
Barulah ku tersadar. Aku menangis sejadi-jadinya. Ku rengkuh tubuh Bapak. Namun di menit itu juga, tak lagi ku lihat debu-debu berterbangan di sekitar hidungnya.

 Saat itu juga aku teringat kata Bapak. Hal yang diucapkan Bapak terakhir kali “Halaah, mengko bengi, Ko Anjar arep njupuk rongsokan iki. Terus  sesuk, Bapak iki arep ng pasar karo Simbok. Mene tak tumbasno dolanan yo!”


 Oleh: Dimas Ayu Nur Aini

No comments:

Post a Comment