Film Dokumenter A-Simetris, Ungkap Fakta Kelapa Sawit - Araaita.com

Breaking News

Friday, 30 March 2018

Film Dokumenter A-Simetris, Ungkap Fakta Kelapa Sawit


Doc. Ning/Arta
Araaita.com - Istiqosah dan nonton bareng film dokumenter A-simetris. Film ini adalah film kesembilan dari hasil perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru setelah film “Samin vs Semen”, “Kala Benoa”, dan “The Mahuzes”, yang diselenggarakan oleh PKPT IPNU IPPNU UINSA di Auditorium pada pukul 18.00 WIB (28/3).

Acara tersebut turut mengundang dosen hukum Universitas Airlangga Haidar Adam dan FKNSDA Surabaya Wahyu Eka Setyawan sebagai pemantik diskusi. Dalam kesempatan kali ini, Acara tersebut menarik perhatian banyak mahasiswa dari berbagai universitas. Seperti Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Trunojoyo Madura, dan Universitas Pertanian Nasional.

Film dokumenter yang menjadi topik diskusi pada malam adalah salah satu film yang menceritakan dan menggambarkan dampak industri perkebunan penghasil devisa terbesar, yakni 239 triliun. 

Namun, dibalik penghasilan yang besar justru terdapat kisah derita para petani kelapa sawit. Lahan petani yang direbut, sungai mereka yang dicemari oleh limbah pabrik. Serta hutan mereka yang dibakar, hingga peristiwa kebakaran hutan dan asap kabut demikian berdampak berbahaya bagi kesehatan.

Setelah pemutaran film, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Haidar Adam sebagai pemantik pertama, menyampaikan bahwa film A-simetris tersebut dapat dikaji dalam dua prespektif, yaitu prespektif konstitusional dan prespektif gerakan mahasiswa. 

Dalam hal ini, demikian pula disampaikan, bahwa kebijakan terkait hak lingkungan yang dibuat oleh pemerintah tidak diterapkan sebagaimana mestinya pada kebijakan lingkungan konstitusi yang ada.

“Mahasiswa harus sadar dan lebih melihat keadaan yang terjadi di lingkungan sekitar. Serta warga negara harus paham hak-hak dan kewajibannya. Namun, sebelum itu harus paham apa konstitusi ?,” terangnya.

Dalam hak-hak tersebut, terdapat berbagai macam kategori. Seperti halya, Hak Warga Negara, Hak Asasi Manusia, Hak Fundamental. Begitu juga dengan konstitusi. Terdapat Kostitusi Normatif, Semantik, dan Nominal.

Beralih pada Wahyu Eka Setyawan sebagai pemantik kedua, menyampaikan bahwa dalam film tersebut kerap digambarkan terjadinya proses proletarisasi struktural dan sistematis. Industri yang menciptakan dunianya. Hingga menimbulkan dampak yang negatif, salah satunya, yakni terjadi perpecahan budaya.

“Manusia juga membutuhkan alam. Selain itu, kita juga harus tahu mana yang harus dilindungi dan mana yang harus dimaksimalkan,” jelasnya. (Ning)

No comments:

Post a Comment