Kisah Pilu Mahasiswa FSH UINSA, Dibalik Kemenangannya - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 25 March 2018

Kisah Pilu Mahasiswa FSH UINSA, Dibalik Kemenangannya

doc. Istimewa

Araaita.com - Tiga mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Ampel Surabaya berhasil tembus ke kancah nasional. Ketiga mahasiswa tersebut tak lain adalah Ulil Manaqib Prodi Hukum Keluarga, Abu Zulal Ma’in Prodi Hukum Tata Negara, Victor Albadiu Ratib Prodi Hukum Keluarga, yang merupakan anggota dari Law Debat Community (LDC) yakni sebuah komunitas yang dinaungi oleh DEMA FSH. 

Tiga mahasiswa yang menjadi delegasi UINSA itu berhasil meraih juara 1 lomba debat tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Tak hanya itu, FSH juga sempat meraih juara 1 lomba debat tingkat regional di Narotama Surabaya pada 2017 silam. Sebelumnya FSH pun demikian berhasil meraih juara 1 lomba debat tingkat regional Se-perguruan Tinggi Islam Jawa Timur  di Tulungagung tahun 2018.


Kendati keberhasilan yang didapatkan, tak lepas dari kisah-kisah yang memilukan. Kisah yang bermula dari seleksi pemberkasan hingga hanya terpilih 16 universitas di seluruh Indonesia.


Bagi yang tercepat mengumpulkan berkas, maka itu yang terpilih untuk dapat mengikuti lomba debat,” papar Ulil.


Bukanlah sebuah hadiah, namun sebuah anugrah atas kerja keras yang telah dilakukan oleh segenap tim untuk mempersiapkan segala berkas yang dibutuhkan dengan tepat waktu. UINSA pun lolos seleksi pemberkasan dan terpilih ke dalam 16 besar universitas seindonesia tersebut.


Segala persiapan pun sudah dilakukan jauh-jauh hari dalam kurun 1 bulan lamanya mereka telah mempersiapkan itu semua, baik dari segi teori, teknis, dan strategi. Tapi, dibalik persiapan yang telah terencanakan, tak lekang dari hambatan yang menghadang perjalanan mereka. 

Misalnya, sulit untuk berkumpul agar dapat berdiskusi bersama, lantaran kesibukan masing-masing anggota. Namun, hambatan tersebut tak lantas menghentikan usaha mereka, mereka  tetap berusaha berdiskusi di sela kesibukan yang ada. Hingga,  akhirnya mereka dapat meluangkan waktunya setiap minggu untuk diskusi mosi atau membedah tema debat.


Disamping itu, juga terdapat kisah memilukan lainnya. Keberhasilan yang mereka raih, tidaklah didapat dengan mudah, mereka banyak sekali mendapatkan kesulitan.  Berawal dari kisah perjalanan mereka menuju Yogyakarta. Perjalanan yang memang mereka inginkan sejak awal adalah dengan menggunakan bus.


“Awalnya kita sudah planning naik bus, tapi tiba-tiba pihak fakultas menyarankan untuk naik kereta api. Tapi pada akhirnya kita tetap milih naik bus,” ujarnya.


Namun naas, bus yang ditunggu sedari pukul 09.00 WIB tak kunjung datang. Setelah bertanya kepada petugas yang berjaga, mereka mendapat informasi bahwa bus jurusan ke Yogyakarta jarang adanya dan juga sering penuh oleh penumpang. Mereka pun disarankan untuk pergi ke terminal bus yang lain. Sayangnya di terminal yang lain juga demikian adanya, bus yang mereka tunggu-tunggu tak kunjung datang. 

Kekesalan serta Kekecewaan pun menyelimuti perasaan mereka. Mereka pun harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan bus tujuan mereka. Hingga bus jurusan Yogyakarta itu pun datang pada pukul 23.00 WIB. Dari kejadian tersebut mereka berprasangka bahwa mereka akan mendapat keberuntungan.


“Kami belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa untuk mencapai keberhasilan itu tak didapat dengan mudah. Banyak kesulitan yang harus kami hadapi, tapi Kami yakin bahwa kesulitan ini adalah pertanda baik. Eh ternyata benar kita dapat juara 1,” lirih Ulil Manaqib. (Ning)

No comments:

Post a Comment