Sehelai Kain Yang Dipermasalahkan - Araaita.com

Breaking News

Friday, 16 March 2018

Sehelai Kain Yang Dipermasalahkan

Dok. Repro Internet
Kampus Islam yang Islamophobia, sebuah kutipan dari artikel yang menggelitik dan membangkitan gairah saya untuk menulis terkait ini, sudut pandang tersebut mempertanyakan mengapa cadar dipermasalahkan di kampus Universitas Islam Negeri? Khususon kampus TERCINTA Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) sebuah kampus yang memegang falsafah Islami tidak seharusnya melarang cadar. Namun titik permasalahannya bukan disitu.
Banyaknya argumen yang berbeda-beda dari kalangan mahasiswa hingga petinggi kampus membuat kita sendiri sebagai mahasiswa, bingung dan kadang menelan sesuatu berita dengan mentah-mentah tanpa ditabayyun terlebih dahulu, lalu banyak yang menjudge bahwa iya itu salah, ataupun iya itu benar. Tidak mencari yang salah lagi benar namun tugas kita sebagai mahasiswa adalah mencari solusi dari permasalahan disekitar kita.
Apa gunanya label agent of change menempel dalam diri kita wahai mahasiswa penenun bangsa? Jika yang difikirkan hanya soal diri sendiri kapan kita kaya, kapan kita bahagia. Eh apalagi jadi mahasiswa kok nyari aman dengan main netral-netralan. Jadi kapan mau pengabdian? Jadi fungsi mahasiswa adalah merubah masyarakat (abdi sosial) bukan hanya sebatas penambahan ilmu dengan dalih aku lagi memperbaiki diri untuk bekal jadi calon istri/imam. *eh boleh saja, asal tidak lupa dengan fungsi mahasiswa sesungguhnya.
Dari argumen mahasiswa, ada  sebagian yang setuju pelarangan cadar diterapkan di UINSA, mereka bahkan entah dari dasar apa mengatakan bahwa cadar adalah budaya, dan tidak seharusnya digunakan di Indonesia. Coba kita fahami jika memang cadar adalah budaya, budaya sendiri bermakna turun temurun, karenanya maka sebelum Allah  menurunkan ayat tentang kewajiban berhijab maka orang arab sudah memakai hijab/cadar. Karena cadar adalah budaya yang turun temurun, namun faktanya? Hingga saat ini saja tidak semua orang arab menggunakan hijab.
Ulama memang berbeda pendapat namun yang jelas tidak ada pelarangan dalam penggunaan cadar.
Dilihat dari segi lembaga pendidikan sebagian petinggi kampus berpendapat, salah satunya Prof Akh. Muzakki, M.Ag, Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D yang merupakan pengamat terorisme dan juga merupakan bakal calon Rektor UINSA yang telah menyelesaikan PhD di Universitas Quensland Australia  menegaskan bahwa jika memang cadar dilarang maka pemakaian celana pensil/ketat juga harus dilarang. Harus seimbang antara keduanya. Beliau juga menegaskan bahwa semua itu diatur oleh petinggi kampus yang berwenang yaitu Rektor di dalam kode etik mahasiswa (KEM) terkait busana mahasiswa, bukankah penutup muka juga tidak dianjurkan dalam KEM.
Namun melihat pada kode etik mahasiswa bab 5 pasal 7 tentang busana mahasiswa point B nomor 1 yang tertera pada buku  pedoman akademik UINSA tahun 2016/2017 tertulis 'menutup seluruh tubuh mulai dari kepala sampai dengan mata kaki dan pergelangan tangan, kecuali muka'  memang secara tersirat kecuali muka adalah kecuali cadar, Namun pelanggaran memakai cadar di UINSA saja masih dalam ungkapan lisan bukan surat keputusan Rektor seperti yang telah terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Toh memang itu hanya secara tidak tersirat saja, jika memang ingin benar-benar dilarang maka KEM harus diperjelas dan diseimbangkan juga tentang larangan memakai celana pensil/ketat. Bahkan mengapa hanya wanita bercadar yang menjadi sorotan hingga ada sebagian yang diwanti-wanti untuk cepat  melepas cadarnya. Lalu peraturan yang secara tersurat (dilarang memakai celana pensil/ketat) tidak dipermasalahkan ataupun menjadi sorotan.
Di UINSA sendiri sering terlihat pemandangan serba ketat walau tidak banyak, lalu sehelai kain sebagai penutup muka guna menjaga maruah, dan menjaga pandangan laki-laki dari syahwat sungguh dipermasalahkan hingga akarnya. Pantaskah?
Dengan alasan radikalisme pelarangan cadar diterapkan, dengan alasan menganggu komunikasi cadar tidak boleh dipakai di kampus. Bercadar adalah kebebasan berekspresi, jika kebebasan berekspresi dilarang jangan harap ada kebebasan berpendapat. Tidak ada solusi yang tepat untuk penangkalan radikalisme karena itu adalah tugas kita bersama, sebenarnya di UINSA sendiri sudah ada solusinya yaitu penambahan matakuliah tentang islam nusantara yang dicanangkan oleh Prof Muzakki saat pengalihan dari IAIN ke UIN. Namun entah sampai sekarang program tersebut belum terjalankan sama sekali.
Jika memang tidak diperbolehkan di kelas, ya lepas di kelas saja (bisa memakai masker) keluar kelas dipakai lagi, so simple kan? Karena itu sudah hak pribadi mau dia pake cadar atau tidak, jika masih saja ada yang mengatakan tidak cocok dipakai di Indonesia (pakek nada ngotot) toh yang make cadar nyaman-nyaman bae, kok di permasalahkan.  LUCUNYA NEGERI INI. Berusaha menjaga pandangan lelaki dari syahwat kecantikan wanita disorot, yang menggoda dengan pakaian rok mini ala barat baik-baik saja berseliweran bahkan hampir diseluruh televisi.  Bukankah rok mini adalah budaya barat? tidak cocok dipakai di Indonesia dengan negara mayoritas muslim. Ya selamat datang negeri wkkwk, mari kita kuatkan iman hadapi islamophobia.
Wallahu a'lam bisshawab
Sungguh kebenaran hanya milik Allah Tuhan semesta alam-

Oleh: Ayu Kamalia Khoirun Nisa'

No comments:

Post a Comment