Sepenggal Sajak Untuk Ibu - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 29 March 2018

Sepenggal Sajak Untuk Ibu


Dok. Internet

Sepanjang jalan, lajur kereta kupandangi lekat-lekat,  ada sepasang merpati putih tengah bermesraan. Kupandangi seorang mahasiswa sedang menggandeng Ibunya memasuki pintu masuk universitas. Aku berjalan dibelakangnya kupandangi mereka saling bercerita tentang kisah selama di bangku kuliah, mencium tangan Ibunya dengan hormat.

Aku terpaku, memori fikiranku kembali pada masa SMA saat ibu selalu berpesan padaku bahwa sebelum berangkat sekolah ucapkanlah "bismillahi tawakkaltu alallah" pesan ibu yang sampai saat ini aku terapkan. Allahu rabbi. Ibu aku benar belum bisa mengikhlaskan segala yang ada. Mengikhlaskan hidup tanpa seorang yang tulus kasih sayangnya.

Tiba-tiba ada air jatuh dari kelopak mata, menetes begitu deras aku segera mengusapnya perlahan. Terus menyusuri jalan kampus.

Aku adalah hilya wanita yang umurnya terlalu muda untuk memasuki dunia perkuliahan.  Mentalku tak sekuat baja menghadapi karakter yang berbeda-beda disetiap organisasi yang aku ikuti, tangisku sering kali pecah karena hal-hal kecil, ah hanya pundak ibu yang mampu menyelaraskan kesedihan yang bergantian hadir. Kesedihan yang setiap hari datang, bahu siapa lagi yang mampu aku sandari tanpa ikut jatuh? Pasangan? Belum saatnya untuk menikah. Rasanya umurku masih muda, dan saatnya untuk berkarya dan menebar manfaat.

Beberapa waktu yang lalu di sepanjang jalan kampus, aku melihat banyak mahasiswa baru diantar kedua orangtuanya memulai pendaftaran, wawancara hingga mencari kos. Ah dulu semasa awal kuliah aku memgurusnya sendiri, Allahu hidupku ditakdirkan untuk mandiri. Ikhlas,  ishbir  ya hilya, innallaha ma'asshabirin.

Semenjak kepergian ibu, rasanya sangat berbeda aku menjalani kehidupanku dengan terus berfikir, adakah seorang yang dapat menggantikan ibu, rasanya kasih ibu tak terganti sepanjang masa, aku terus menenangkan diri. Mencoba menata hidup kembali, memulai hal baru. Menjalin banyak relasi melakukan banyak kegiatan. Agar ibu tak selalu terngiang dalam benakku.

Benar, aku berhasil mampu tersenyum dihadapan teman-temanku, haduh hilya batinmu tak pernah berbohong, kau tetap saja mengingat ibu saat teman-temanmu sudah pergi. Ibu, siapa saja yg bercerita tentang ibunya padaku, rasanya batinku ingin menangis.

"Hilya, ini makan, buatan ibuku loh enakk," sodor eka memberikan sepasang makanan lezat

"Iya," jawabku singkat

Dalam batin, terus bergejolak oh ibu, aku rindu masakanmu, batinku menangis betapa bahagia mereka di usia yang sudah dewasa namun ibu tetap menemani, tak seperti ku, semua serba mandiri.

"Semoga waktu memeberikan kabar baik," lirihku dalam hati

"Bu, aku janji kan kupasang mahkota untukmu di syurga nanti:')," lirihku kedua kalinya

Waktu masih terus berjalan, kepergian ibu sudah semakin berlarut-larut namun ya Rabb rindu belum pernah bisa terobati. Rindu yang di ambang batas, rindu yang menggebu.

Aku mencoba menetralisir rindu dengan menulis sajak teruntuk malaikat tanpa sayapku, ibu. Pada sebuah kertas abadi bertinta emas. Iya sajak memang tidak berarti apa-apa namun doa lah yang menguatkan hingga menghubungkan dua orang yang pernah dekat dan sekarang ditakdirkan jauh dengan batas yang tidak bisa dihitung

Iya dan inilah aku Hilya masih menjadi gadis yang merindu tanpa pernah berhenti, kepada ibu yang sudah menantinya di syurga.

Teruntuk perempuanku, Ibu

Langit sudah mendung

Rinduku tak dapat kubendung

Sampai kapan rindu ini tak berpenghujung

Guratan senyumku selalu termenung...

Oleh : Ayu kamalia khoirun nisa
Ditulis dengan hati yang merindu pada jam-jam kerinduan. 0;55 WIB
Surabaya, 29/03/18






No comments:

Post a Comment