Teater Q: Dua Naskah dalam Satu Padang Bulan - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 29 March 2018

Teater Q: Dua Naskah dalam Satu Padang Bulan

KIRI: Mbah Jabrik murka ketika wedhusnya dicuri. lakon naskah "Kamit" dari Teater Q

Araaita.com - Padang bulan 28 Maret, sebagian tertutup awan dan terangnyapun tidak begitu merambat sampai jalan masuk Fakultas Psikologi seperti biasanya. Anehnya, 10 oncor (baca: Lampu minyak tanah) berjejer dibawah pohon-pohon, memancarkan cahaya. Menuntun ke parkiran sebelah utara gedung Pesantren Mahasiswa (PESMA).
Jika bangunan hijau tiga lantai itu biasanya terisi sepeda motor dan mobil, malam itu kain hitam selebar 6x4 meter persegi terlihat membentangi empat tiang dilantai bawah. Ditambah lagi empat buah lampu  (lighting) yang memadukan warna antara merah dan kuning menambah kontras cahaya menjadi jingga.
Pada saat itu, sekitar 120 pasang mata penonton dari dalam maupun luar kampus, tertuju pada panggung sederhana itu. Duduk beralaskan tikar, mereka menikmati sembilan lakon yang berdiri di depan mereka. Kedut (Amin) dengan perut gemuknya terbungkus kaos hitam dan mengikatnya hingga terlihat pusarnya. Memakai helm putih-biru tanpa kaca, membawa sebatang kayu yang ia yakini sebagai bedil (baca:pistol)
Ia berlari-lari sembari  ngedumel kepada Mbah Jabrik (Edi). “Mbah! Wedhusmu!” gupuh Amin. “Piye, Le, piye? Wedhusku piye?” resah Mbah Jabrik. “Wedhusmu ora papa Mbah. Isih ana kandang! Sehat… Hahaha…” sambung Kedut sambil kabur dan tertawa.
Pembawaan teaterikal angkatan 17 yang ber-genre komedi, sukses membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Pengambilan naskah Gusmel Riyadh yang berjudul “Kamit” menceritakan realita kehidupan masyarakat Jawa Timur yang suka mengutamakan gengsi ketimbang ikhlas.
“Saat budaya ‘buwoh’ (membantu tetangga yang sedang mengadakan acara), mereka itu akan malu jika tidak bisa membalas atau memberi lebih sehingga terlihat mampu,” tutur Hendri, pemeran Kamit.
Tak hanya selesai pada naskah Riyadh, angkatan 16 melanjutkan dengan setting gelap dan hanya menyebar cahaya merah. Dimulai dari Kehormatan yang diperankan Zainal, berjongkok di bangku dan terlihat cemas dengan sebuah bingkai. Dua orang perempuan dan empat orang pria menjadi lakon pembantu dalam naskah berjudul “Tempat” itu.

“Memang, disini belum bergerak, buat apa yang teringin, mungkin akan . . .mungkin tidak . . Memang, disini belum bergerak, buat apa yang teringin, mungkin akan . . .mungkin tidak . .” lantang Fakri sebagai lakon Batas Kematian 1.

HARU: Kehormatan (Zainal) dan tiga pemain di adegan terakhir
Diakhir adegan, latar lebih bersinar ketimbang sebelumnya. Meski tabir kain putih menutupi penonton. Dari bayangan yang disentrong cahaya, satu persatu para lakon menampakkan bayang dibalik tabir. Sebuah wujud suasana Surealis (Absurd-realis) dengan gerak simbolik membuat hanyut para penonton. Sebelum penutup, pesan dari naskah itu mereka perjelas diakhir improvisasi.
“Sebuah harapan disana sangat cerah dan begitu menyilaui hati ini, serta memanggil juga mengajak kita ke sana, ayo kita mendekat, lebih dekat, lebih dekat lagi...” pungkas Zainal pada teater naskah karya Rudi Remakong.
Teaterikal oleh sekelompok yang tergabung dalam “Teater Q”, dari Fakultas Syariah dan Hukum itu membuat Andre bangga. Ia berharap dalam setiap proses, para anggotanya diharapkan terus giat berlatih dan pantang menyerah dalam berkarya. “Nikmati setiap proses yang kalian dapatkan,” akhir kata sang Ketua Teater Q. (Amj/Lul/Zid)

No comments:

Post a Comment