UINSA Kukuhkan Guru Besar Bidang Pendidikan Islam - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 8 March 2018

UINSA Kukuhkan Guru Besar Bidang Pendidikan Islam

Doc. Istimewa

Araaita.com
 - Bertambah satu Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam  pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya. Setelah menempuh panjangnya proses pendidikan, kini tibalah bagi wanita yang lebih akrab dipanggil Titik ini mendapatkan gelar pendidikan tingginya yakni Prof. Dr. Hj. Husniyah Salamah Zainiyati, M.Ag. Prosesi pengukuhan Guru Besar ke 57 ini  pun berlangsung di Gedung Sport Center and Multipurpose pada pukul 08.00 - 11.30 WIB.
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. H. Abd. A’la, M.Ag., menyampaikan rasa syukurnya atas pengukuhan Guru Besar tersebut. Prof. A’la menganggap hal itu sebagai sebuah anugerah yang diperoleh UIN Sunan Ampel Surabaya.
 “Alhamdulillah Guru Besar UINSA bertambah satu lagi, saudari Husniyah Salamah adalah yang ke 57,” ujarnya. 
Ia pun berpesan bagi calon Guru Besar lainnya agar dapat segera menyusul. “Sepertinya para pimpinan harus mendorong para doctor untuk segera menjadi profesor,” ujarnya dalam amanat Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ilmu pendidikan menurut Prof. A’la adalah ilmu yang sangat diperlukan untuk Indonesia saat ini. Lebih-lebih jika ilmu yang dikembangkan tersebut adalah mengenai Third Way Consept

Ia pun menyayangkan jika Third Way Consept sebagai corak pemikiran pada generasi ketiga ini lebih dulu dikembangkan oleh Negara Eropa. 

The real third way consept firstly come from islam, lagi-lagi kita ketinggalan, janganlah kita hanya sebagai pengikut,” tuturnya penuh sesal.

Sementara itu Prof. Husniyah dalam pidato Guru Besarnya menyampaikan terkait ‘Integrasi Identitas-Etik Pendidikan Islam’, tema tersebut diusung berangkat dari problema yang dialami para stakeholder pendidikan dewasa ini. 

“Dalam karya ini saya ingin menggugah para stakeholder pendidikan supaya lebih melihat aspek pemahaman guru dari pada melihat apa yang diajarkan,” tandasnya.

Integrasi identitas etik yang dibuatnya ini adalah dengan menggunakan pendekatan third way consept, yakni sebuah pemikiran yang sudah berkembang sebelumnya. Adapun kajian utama dalam third way consept yakni integrasi ilmu, kemanusiaan paripurna, dan pembentukan citizenship skills. Model integrasi ilmu yang dibentuknya tersebut memiliki dua prinsip dan banyak tampilan. 

“Yang pertama cenderung mendahulukan integrasi keilmuan. Lalu yang kedua integrasi kelembagaan yang tidak memandang sumber ontologis, epistimologis, serta aksiologis ilmu pengetahuan tersebut,” terangnya.  

Profesor  yang diangkat per tanggal 1 Januari 2018 oleh Kemenristekdikti ini juga memberikan contoh integrasi pendidikan islam di perguruan tinggi. Di antaranya integrasi interkoneksi atau jarring laba-laba yang diterapkan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Integrasi roda ilmu di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, integrasi pohon ilmu di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Integrasi sei cemara ilmu di UIN Alauddin Makassar, dan Integrasi menara kembar yang diterapkan di UIN Sunan Ampel Surabaya.

“Pada prinsipnya sama, hanya saja mereka diwajibkan untuk membuat distingsi agar tidak kehilangan identitas aslinya,” jelasnya. (Luluk)

No comments:

Post a Comment