BAGIAN JIWA - Araaita.com

Breaking News

Friday, 6 April 2018

BAGIAN JIWA

Doc. Internet

Aku merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Namaku Mahendri, seorang kakak dari anak laki-laki berumur dua belas tahun. Ayahku yang hampir berkepala lima merupakan pekerja serabutan, dimana hampir setiap harinya ia bekerja di tempat yang berbeda. Lain halnya dengan ibuku yang merupakan wanita berkepala empat, ia merupakan sorang penjual bahan sembako di pasar desa. Biasanya dari jam tiga pagi ia sudah bersiap dan menata bahan-bahan pokok yang akan dijualnya.


Ibuku, ia segalanya bagiku. Sesosok teman yang selalu memahamiku, seorang panutan dalam hidupku dan salah satu bagian terpenting dalam diriku. Kala aku susah, senang, sedih ataupun bahagia, dia selalu ada di sisiku. Entah bagaimana jadinya kalau ibu pergi dari hidupku, dan pastinya akupun takkan mau membayangkan itu.


Tapi hal yang ku takutkan itu akhirnya terjadi, dimana aku ditinggalkan oleh ibuku. Menjadi seorang anak pertama yang harus bertanggung jawab kepada adikku, juga sebagai seorang anak yang harus menemani bapakku. Ya, ibuku sudah pergi, pergi untuk selama-lamanya dan takkan pernah bisa kembali ke dunia ini. Sebelum itu terjadi, ibuku selalu mengeluh, mengeluhkan sakit dikepalanya yang sangat mngganggunya. Sakit yang membuatnya tak bisa tidur di malam hari dan selalu meminta dipijit oleh bapakku setiap waktu.


Saat ku ingat waku itu, aku selalu merasa bersalah, dimana aku kala itu tak memperhatikan sakit yang diderita ibuku dan berkata bahwa “Ah mungkin itu hanya karna ibu kelelahan, besok juga sembuh.” Itu merupakan kata-kata yang selalu terngiang di telingaku, betapa aku mengecuhkan ibuku dan menyepelekan sakit yang ia derita.


Selang beberapa waktu, keadaan ibuku semakin parah. Jangankan berjalan ke kamar mandi, duduk di atas kasur saja harus di bantu oleh aku dan bapakku. Setelah satu bulan berlalu, akhirnya ibuku meregang nyawa akibat sakit yang dideritanya. Saat itu, aku dan bapakku hanya bisa pasrah pada tuhan dan berusaha tak menitihkan air mata demi adikku. Tetapi adikku, dia selalu bertanya pada hari itu “Mbak, ibu dimana? Kok belum pulang?”, di saat itu aku mulai menangis, menangis sejadi-jadinya dan hampir tak bisa berhenti.

Di saat aku menangis dan memejamkan mata, aku mendengar suara yang mulai memanggilku “Hen, Mahen, Hen,” suara itu terus memanggilku. Semakin lama semakin keras saja, akhirnya aku membuka kedua mataku. Dan saat aku mengusap airmataku, aku melihat sekelilingku dan ternyata aku sudah dikelilingi teman-teman ku, aku berusaha mengingat dimana ini? Dimana aku sekarang?. Aku baru ingat bahwasanya sekarang aku sedang berada di pondok pesantren. Ternyata, semua yang terjadi itu hanya bunga tidur saja, aku merasa lega sekali dan aku mengucapkan “Alhamdulillah Ya Allah, Aku masih bisa bertemu dengan ibuku, dan Aku berjanji akan selalu merawatnya dengan baik.”

Oleh : Mahendri Evi 
Mahasiswi aktif semester 4 Komunikasi dan Penyiaran Islam

No comments:

Post a Comment