KARTINI SI POLYGLOT - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 22 April 2018

KARTINI SI POLYGLOT



Desiran angin menghembus kencang dedaunan gugur berhamburan, senja masih malu-malu melirik dunia, abu-abu membelah langit. Tini beranjak pulang dari geothe institut, sebuah instansi kursus bahasa jerman di indonesia.

Tini kali ini pulang sendiri, karena temannya  tidak masuk kelas, biasanya tini selalu bersama teman setianya itu, haura. Tini menelusuri jalan, menghirup udara segar tampaknya hujan akan jatuh dari langit, Tini mempercepat langkah kakinya. Jarak dari rumahnya menuju kursus lumayan jauh setiap hari dia tempuh dengan jalan bersama temannnya.
*****
Ketika telah tiba di rumah tercintanya dia segera menyiapkan beberapa berkas untuk pertukaran pelajar di Turki. Yah Tini wanita cerdas dengan julukan polyglot, dan tidak bisa terpisahkan dengan tumpukan lembaran (buku), sejak sekolah dasar dia memang sangat menyukai pelajaran bahasa asing, dan bahasa tersebut dia kembangkan dengan belajar melalui media sosial hingga kursus. Tini paling suka dengan bahasa turki, katanya unik dan pelafadannya tidak sesusah bahasa inggris, bahasa Turki  juga ada sejarahnya karena dahulunya bahasa Turki adalah bahasa Arab namun semenjak pemerintahan Mustafa Kemal Attaturk, ada penambahan dan perubahan abjad.

Sesampainya di kamar, Tini mengambil beberapa berkas, mencatatnya mana yang belum dan sudah. Seketika itu ibunya datang menghampiri kamarnya.

"Tini,  jangan sibuk berkas ayo makan dulu," sahut ibunya
Tini selalu telat makan, dia sering mendahulukan kegiatannya  daripada harus makan dulu
"Iya bu, bentar lagi, bentarr ini harus kelar besok," tambah tini

Tumpukan kertas, ribuan kata menyatu dalam satu map bernama berkas. Warna warni hati dalam hidup tini rasanya semakin bertambah mimpinya seperti ada di depan mata. Turki
Usaha, letih, di rendahkan, cemooh sudah pernah Tini rasakan, berkali-kali mendaftar dia gagal, dan dia menghabiskan jatah kegagalannya. Tampaknya jatah kegagalannya telah pada puncaknya. Saatnya menghabiskan jatah kebahagiaan mimpi yang terwujud.

Alhamdulillah ala kulli hal, gumam tini
Allah punya cara yang beda memgabulkan doa hambanya," gumamnya lagi

Tini merebahkan tubuhnya pada sepoi angin kencang dengan aliran listrik, kipas angin, lalu memandang langit kamarnya sebohlam lampu hidup menerangi seisi kamar. Tini menengok kanan, ada peta dunia terpampang disisi kanan kamarnya. Menjadi penyemangat setiap hari setiap saat dan detik

Keluar jendela, tini menengok sisa-sisa hujan tadi siang bersama embun yang menyejukkan. Senja yang mulai muncul dan beralih pada kegelapan. Betapa luas langit Allah, seluas kasih sayangNya. Allahu Akbar.

"Ah iya, waktunya makan, ibu pasti sudah menungguku," Ingatnya

Tini dengan cepat langsung bergegas ke ruang dapur, mengambil makanan dan memakannya dengan lahap. Dia setelah ini harus membuat surat-surat untuk keperluannya, besok masih ada kuliah dan masih ada tugas menanti.
*****
Pukul 03:00 WIB Tini terbangun dari nyenyak tidurnya, sepertinya dia mendpaat kode dari Allah, bergegas melaksanakan sholat malam, tak ayal setelah sholat subuh Tini tertidur dalam kondisi masih memakai rukuh, alarm berbunyi pukul 06:00 menandakan dirinya harus segera berangkat kuliah

Brrrrr.. Dingin pagi menusuk jiwa namun Tini dia tak peduli,  segera bergegas menuju kampusnya, salah satu kampus ternama di kotanya. Tini diterima sebagai mahasiswa penerima beasiswa atas kecerdasannya dalam bidang bahasa.
*****
TURKI DI DEPAN MATA
Terik panas menggeliat di sekujur tubuh, kota tempat Tini tinggal memang dipenuhi asap pabrik dan polusi, hari itu tini sudah menyiapkan seluruh koper dan keperluan selama satu bulan di Turki, tak lupa doa dan restu orang tua. Tini berharap dapat membawa perubahan setelah kembali dari Turki perubahan besar terutama bagi kaum wanita yang masih mempunyai mindseat bahwa wanita kembalinya akan ke dapur jadi untuk apa sekolah tinggi?
Keesokan harinya Tini bangun pagi sekali, keberangkatan di bandara pukul 09:00 WIB bersama teman-teman seperjuangan lainnya, tak lupa tangis haru sosok ibu melepas kepergian Tini untuk sementara di Negara orang.
****
Selama Keberangkatan Indonesia-Turki Tini tidak bisa tidur, bibirnya terus melafadzkan asma Allah bahwa betapa indahnya ciptaanNya awan tersenyum, langit biru cerah menyapa Tini. Awan melayang-layang di angkasa seperti kapas yang berterbangan. Dinginya AC menusuk jiwa, matanya tak mampu terpejam melihat kebahagiaan yang dia rasakan, hingga dia tidak mendengar sapaan dari pramugari yang menawarkan makan siang.

"Selamat siang nona, mau makan apa? Ini menunya," sodor pramugari
Tini terdiam memandang langit
"Maaf nona, mau pesan apa?," tanyanya sambil mencolek punggung Tini
Tini mulai berhenri melamun
"Eh iya mbak, saya pesan nasi goreng saja," pesan tini
Nasi goreng adalah makanan faforitnya yang tak tertandingi, apalagi nasi goreng buatan ibunya
*****
WELCOME TURKI
Tini, gadis dengan paras yang lembut wajah merona mempunyai sifat malas merapikan kamar saking sibuknya berorganisasi dan mengajari adik-adik yang lain untuk mempelajari bahasa asing, detik ini juga berada dan menginjak tanah Turki, negeri penuh sejarah negeri konstantinopel, dan ada hal yang membuat Tini sempat tidak kuat, suhu Turki kala itu mencapai -1 derajat celcius Turki sedang musim dingin salju manis bertebar menyapa kehadiran Tini gadis cerdas yang mencintai bahasa.

Tini mendapat pertukaran pelajar di İstanbul University salah satu universitas tertua di Turki, bayangan Tini sudah di luar nalar kebahagiannya untuk pertama kali ke Luar negeri, tini pun juga mendapat kursus Bahasa Turki gratis selama sebulan disana.
*****
Setelah beristirahat selama 3 jam di asramanya, tini nampak sekali kelelahan namun dia ingin langsung menjelajah İstanbul dia ingin mengelilingi negeri para utsmani. Namun salah satu pebimbingnya selama di Turki mengatakan dia harus beristirahat satu hari karena perubahan cuaca yang ekstrem dari Indonesia ke Türkî akan menyebabkan sakit jika langsung keluar menghirup salju secara langsung.

"Ayuk temen-temen jalan-jalan sebelum masuk perkuliahan," ajak tini sembari tiduran dengan selimut hangat setelah beberapa waktu dirinya pingsan
"Jangan dulu tin, kamu harus istirahat untuk satu hari ini, cuaca tidak baik untuk pendatang pemula seperti kamu," sahut bu isna, pembimbing yang akan mengawasi pertukaran pelajar di Turki
"Tapi bu, Tini pingin banget menghirup udara turki, insyallah Tini baik aja kok cuma kedinginan dikit," tambah Tini sembari menggerutu
Nak Tini, ayolah ikuti apakata ibu kamu kan sudah mahasiswa, tau bagaimana akibatnya jika kondisi dari cuaca panas menuju dingin ekstrem seperti ini,” celetuk bu isna
Tini terdiam, masih ada waktu besok dan kebahagiaan belum selesai

******
Fajar menyongsong cahaya pagi di Turki, earth of Al Fatih Negeri para penakluk konstatinopel , lembutnya salju menyambut mata Tini di pagi itu tini merasakan suasana pagi di Turki, tenang, bebas asap dan penuh sejarah di setiap sudutnya Tini terus bersyukur, bibirnya tak henti mengucap alhamdulillah ala kulli hal, sembari memandang suasana pagi di Turki

Tin, gimana perasaanmu, sudah sampai sini? So bahagia banget kan ya?,” tanya Revi, teman seperjuangan Tini

Ga bisa diungkapkan dengan kata, Turki is beautiful with history, jawab Tini dengan senyuman

Pagi itu seluruh peserta dikumpulkan dan akan mendapatkan binaan, arahan serta apa saja yang akan dia lakukan selama program pertukaran pelajar, acara tersebut di pimpin oleh KBRI Turki

******
Jam sudah menunjukkan pukul 12 waktu Turki, namun dingin tetap mencekam relung jiwa. Mereka dijamu makan oleh KBRI Istanbul dengan berbagai makanan khas turki, seperti biasa lidah orang Indonesia tetap saja tidak cocok dengan makanan khas Negara lain. Setelah sesi itu, seluruh mahasiswa diajak untuk mengunjungi Istanbul dan beberapa sejarah  keindahan Turki lainnya, 

Tini senang bukan main, Istanbul yang dulu hanya bisa dilihatnya di instagram, sekarang dengan nyata ada di depan mata, berkat bahasa Tini mampu mengunjungi Negara impiannya. Tini sadar bahwa wanita memang harus memperbanyak belajar bukan hanya di Negara sendiri namun juga di Negara orang. Tini banyak berkenalan dengan mahasiswa dari berbagai Negara, dia tidak kesulitan dalam berbahasa, karena tini menguasai hampir 5 bahasa diantaranya Inggris, Jerman Turki, Belanda dan Prancis. Wajar jika julukan polyglot menempel dalam diri Tini

*****
Beberapa rangkaian telah terlewati, hari pertama memasuki Istanbul University dimulai. Dengan mata bebinar Tini memasuki gedung megah yang tampaknya sudah tua, dan terpasang bendera Turki.
Pagi itu salju masih membalut Istanbul dan sekitarnya, Tini duduk di kursi sendiri dengan ditemani satu buku disampingnya,

Merhaba, günaydın Endonezyalı mısınız, (halo, selamat pagi apakah kamu orang Indonesia)” sapa seorang lelaki asal Turki yang juga merupakan mahasiswa Istanbul University

Dengan sigap tini lansung menjawab, dia sudah faham bahwa wajah orang Indonesia dengan mudah ditebak oleh orang dari Negeri manapun.

Evet ben Endonezyalıyım, (benar, saya orang Indonesia)” jawab tini dengang senyum

Adınız ne? (siapa namamu),”

 Adım tini, Senin adın ne? (Namaku Tini, siapa namamu?)” tanya Tini

Benim adım Ali, (nama saya ali)”

Percakapan berlangsung hangat, Ali sempat kaget mengapa tini bisa berbahasa turki sedangkan mayoritas orang Indonesia di Turki masih berbahasa Inggris.
Percakapan itu berlangsung hingga via chatting...

******
Tak terasa perjalanan selama di Turki sudah sampai 28 hari, dua hari lagi kepulangan menuju Indonesia banyak sekali yang akan Tini bagikan nantinya di Indonesia. Terutama perihal Ali,  dan bagaimana wanita Turki memandang pendidikan sebagai hal yang paling penting untuk bekal membangun generasi berperadaban.

Maka habis gelap terbitlah terang –Kartini-


Oleh : Ayu Kamalia Khoirunnisa
Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam

No comments:

Post a Comment