Lamaran Penghilang Kemunafikan - Araaita.com

Breaking News

Friday, 6 April 2018

Lamaran Penghilang Kemunafikan

Doc. Internet

Pada zaman dahulu ada seorang Kiai yang masyhur di daerahnya sampai daerah-daerah sekitarnyapun mengenalnya sebagai Kiai yang amat dihormati. Selain karena ahli dalam agama, ia juga bijak dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi di sekitarnya. Terlepas dari itu, ia adalah orang yang sangat menyayangi keluarganya, terutama anak-anaknya, terlebih lagi anak gadis satu-satunya yang ia miliki.


Gadis ini merupakan anak terakhir Sang Kiai. Gadis yang sangat cantik, cerdas, dan tentunya sholehah yang membuat dirinya menjadi idaman para lelaki disana.

Suatu hari, ada seorang pemuda yang datang ke rumah Kiai dan berniat ingin menemui sang Kiai. Ternyata pemuda pemberani ini bermaksud ingin melamar gadis kesayangan kiai itu.


“Kiai, anak anda cantik, sangat menarik bagiku. Aku ingin melamarnya,” celotehnya di hadapan Sang Kiai dan seluruh kerabatnya yang kebetulan sedang berkunjung.

Anak muda itu, terlihat dari rupa dan gayanya, menunjukan ia masih awam dalam urusan agama. Hal tersebut dibuktikan dengan pengakuan dirinya, terutama sholatnya yang belum bisa dijaga dengan baik.


Sang Kiai tidak terburu-buru dalam membuat keputusan. Kebetulan Kiai ini punya masjid di dekat rumahnya, Kyai ini juga menjadi imam di masjid tersebut. Sang Kiai punya cara tersendiri untuk memberi pelajaran kepada anak muda tadi.

“Kalau kamu mau saya terima lamaranmu, saya mau lihat kamu empat puluh hari di masjid ini, dibelakang saya ketika saya sholat. Takbiratul Ihram pertama tidak boleh ketinggalan, harus tepat waktu,” ucap Kiai memberi persyaratan.


Semua kerabatnya terheran-heran, pemuda brutal seperti itu masih dipertimbangkan oleh Kiai. Untuk pertama kalinya, seluruh kerabat kompak meragukan keputusan Kiai.

“Megapa Kiai tidak tolak saja lamarannya? Mengapa harus diberi syarat?” tanya salah satu diantara mereka karena sudah tak tahan ingin mengetahui alasan Sang Kiai.

“Tenang, saya juga sama dengan pemikiran kalian mengenai pemuda brandalan itu,” jawab Kiai sambil tersenyum kecil.

“Lantas, mengapa tak ditolak?” tanya lagi dengan nada tinggi.

“Pemuda ini ingin melamar anakku, anak kesayanganku. Santai saja, aku tahu apa yang harus ku lakukan,” Kiai menjawabnya dengan santai.


Meski masih diliputi rasa geram, semua kerabat Kiai akhirnya sepakat untuk tak menghawatirkan dan memikirkannya lagi. Anak muda ini juga belum paham maksud dari syarat yang diberikan oleh Kiai tersebut.Dia melakukan itu semua semata-mata karena ingin menikahi gadis anak Kiai. Saat itu, tujuannya menunaikan persyaratan Kiai masih karena hal-hal duniawi, yaitu ingin menikahi anak gadisnnya.

Tetapi, pemuda ini sangat bersungguh-sungguh mengerjakannya. Dengan bermodal alarm yang dibawanya kemana-mana, ia selalu mengerjakan sholat tepat waktu seperti apa yang disyaratkan Kiai.


Selang 40 hari, Sang Kiai mengundang pemuda itu dan seluruh kerabatnya untuk makan malam di rumahnya. Serta mengatakan akan mengumumkan keputusannya mengenai lamaran pemuda itu.

Acara pun dimulai, Kiai sendiri yang membuka acara tersebut. Ia mempersilahkan semuanya untuk mengambil makanan yang tersedia. Di saat itu juga Kiai berdiri.

“Saya terima lamarannya,” ucap Kiai lirih.

Sontak semua yang ada disana terkejut mendengar Kiai menerima lamaran pemuda itu. Mereka masih belum mengerti tujuan syarat yang diberikan Kiai, sampai akhirnya pemuda ini bercerita.

“Subhanallah.. Dulu saya ini malas sholat. Tetapi setelah empat puluh hari saya kerjakan di masjid tepat waktu, sekarang saya merasa tidak enak saat ingin meninggalkan sholat,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.

Anak muda itu telah berubah, munafiknya sudah hilang, munafik dalam konteks ini adalah malas jika ingin mengerjakan sholat.

Ole : Dede
Mahasiswa aktif Fakultas Dakwah dan Komunikasi


No comments:

Post a Comment