Syairmu Bumerangmu - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 22 April 2018

Syairmu Bumerangmu

Doc. Istimewa

Araaita.com - Akhir-akhir ini publik geger karena sebuah puisi. Puisi yang dibaca oleh putri dari mendiang tokoh  terkemuka, serta terhormat di mata masyarakat Indonesia. Kini, masyarakat tak lagi memandang putri itu dengan hormat. Putri tersebut tak lain adalah Sukmawati Soekarnoputri.

Di atas luasnya panggung, sesosok wanita bergaun kebaya putih dan dibalut dengan kain coklat yang diselempangkan di pundaknya tengah berdiri di tengah-tengah mata audien. Rambut yang berhiaskan bunga putih serta kalung putih yang melekat dilehernya. Ia berdiri dengan tegap namun tetap anggun hingga tak ada seorangpun yang dapat meremehkannya. Matanya tajam menatap audien. Dengan sebuah kertas putih kecil yang ia selipkan di tangannya. Ia mulai bersuara. Suara yang lantang dan tegas. Suara yang memecah keheningan saat itu. Mata audien terfokus kepadanya. 

Tanpa sedikit pun rasa takut, ia lanjutkan ucapannya. Ia bacakan sebuah puisi. Puisi yang berjudul Ibu Indonesia. Ia bacakan puisi itu dengan sebuah microphone. Microphone yang tergenggam erat di tangan kanan nya. “Aku tak tahu Syariat Islam”. “Yang kutahu, sari konde Ibu Indonesia sangatlah Indah, lebih cantik dari cadar dirimu”. Itu sepenggal dari bait pertama puisi yang ia sampaikan. “Aku tak tahu Syariat Islam”. “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia sangatlah Indah, sangatlah elok”. “Lebih merdu dari alunan adzanmu”. Sepenggal lain dari puisi Ibu Indonesia yang ia lontarkan dengan lantang di panggung yang luas itu.

Puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri dalam acara peringatan “29 tahun Anne Avantie Berkarya Indonesia Fashion Week” banyak kontroversi yang terjadi. Puisi yang memiliki judul “Ibu Indonesia” itu merupakan originalitas dari pemikirannya, jadi puisi tersebut asli buatannya.

Tak hanya di dunia nyata, dunia maya pun tak mau kalah dalam mengomentari puisi tersebut. Banyak masyarakat yang mengecam dan merasa tak suka. Banyak komentar negatif yang dilontarkan secara frontal di publik dunia maya. Bahkan banyak yang beranggapan bahwasannya Sukmawati Soekarnoputri bukanlah seorang muslim, melainkan seorang atheis. Banyak pula yang menganggap bahwa ia tak tahu apapun soal syariat-syariat Islam.

Dalam puisi tersebut, banyak sekali bait-bait serta syair yang dirasakan kurang pantas dipakai. Hal tersebut dapat langsung didengar di bait pertama dari puisi tersebut. Bait pertama tersebut berisikan “Aku tak tahu Syariat Islam”. Dari bait pertama saja telah dapat menarik perhatian karena dinilai mangandung unsur SARA.

Selain bait pertama, hal yang sangat menarik perhatian adalah baik yang mengisyaratkan bahwa sebuah cadar tak lebih baik dari sebuah konde atau gelung rambut yang biasa dipakai kalangan wanita jawa. Hal lain yang menjadi sorotan publik adalah ungkapannya “Yang kutahu suara kidung ibu indonesia sangatlah Indah, sangatlah elok” “Lebih merdu dari alunan adzanmu”. Ia menganggap bahwa suara dari sebuah kidung (tembang jawa) dapat lebih indah dari sebuah suara azan.

Banyak warganet yang merasa kesal dan tak suka dengan ungkapan tersebut. Tak sedikit dari mereka yang membalas puisi tersebut dengan puisi pula. Banyak pula yang memperbincangkan mengenai kontroversi dalam puisi tersebut. Dan tak sedikit pula yang membuat parodi dari puisi tersebut.

Dalam sebuah wawancara yang telah dilakukan oleh salah satu stasiun televisi swasta yang ada di Indonesia, Sukmawati Soekarnoputri telah memainta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh umat Islam dan masyarakat di Indonesia.

Sukmawati memberi klarifikasi bahwasannya ia membuat puisi tersebut sesuai dengan tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut. Ia membuat puisi tersebut diambil dari sudut pandang seorang seniman, bukan dari sudut pandang seseorang yang agamis.

Sebelum puisi itu dilontarkan pun, ia mengatakan bahwa puisi tersebut terdapat di dalam sebuah bukunya yang berjudul Kumpulan Puisi Ibu Indonesia. Buku tersebut telah terbut pada tahun 2016, sedangkan kontroversi puisi tersebut baru saja terjadi di 2018. Lalu, dimanakah para pengecam selama dua tahun ini? Buku yang telah diterbitkan selama dua tahun dan berisi puisi tersebut tidak mendapat sebuah kecaman. Sedangkan saat baru dibacakan, barulah menuai berbagai kecaman.

Puisi yang sebelumnya ia buat agar ia lebih dapat memahami Ibu Indonesia kini malah membuatnya menjadi sorotan publik. Hal tersebut malah berbalik menjadi sebuah bom baginya. Ibu Indonesia malah tak sedikit yang membalas ungkapannya dengan sebuah puisi yang mana mereka tak terima bahwa sebuah konde dapat disandingkan dengan cadar, dan sebuah nyanyian dapat disandingkan dengan lantunan azan. (Dimas)


No comments:

Post a Comment