Debat Kandidat DEMA-U 2018; Pertanyaan Paslon No. 2 dianggap Tak Relevan - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 2 May 2018

Debat Kandidat DEMA-U 2018; Pertanyaan Paslon No. 2 dianggap Tak Relevan


Doc. Ning/Arta

Araaita. com - Debat kandidat calon ketua dan wakil ketua dema Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dengan tema ‘Membangun UINSA yang Berkompetensi dan Agamis’. Hadir dalam debat Pasangan Calon (paslon) no urut 1, yakni Achmad Fatkhurrozi dan Moh Rizal Adityawan dan Pasangan Calon (paslon) no urut 2, yakni Afif Ghulam Irfani dan M. Hasan Basri. Acara tersebut berlangsung di salah satu gedung, yaitu gedung Self Access Center (SAC) lantai 3 pada hari kamis (30/04/18).


Tepat pada pukul 13.00 WIB beberapa partisipan dalam debat kandidat melemparkan pertanyaan pada paslon.  Pertanyaan terkait bagaimana memanajemen sistem yang baik.

Paslon no urut 1 dengan singkat dan tegas menjawab, UINSA haruslah bersinergi dan mengatur dengan sistem manajemen Planning, Organizing, Actuating, dan, Controlling (POAC).


“Bersatu, berbhakti, dan bersinergi dengan melibatkan seluruh elemen kampus, seperti SEMA, DEMA, dan mahasiswa, serta membangun UINSA kedepannya dengan solusi tepat, yaitu berbasis sistem manajemen yang baik dengan perencanaan yang matang dalam membuat kebijakan-kebijakan di kampus. Mengatur seluruh program yang ada di kampus, menjalankan program sesuai dengan diharapkan, dan mengawas program sesuai dengan yang diharapkan,” jelasnya saat diwawancarai oleh wartawan Araaita.com.


Sedang dengan lugas paslon no urut 2 menjawab, melakukan program-program dengan baik, prinsip kelembagaan, dan DEMA-U bersih, yaitu melakukan pemeriksaan dan pembukuan tentang keuangan.


“Tata kerja dengan prinsip kelembagaan sebab ini suatu organisasi bukan paguyuban yang memiliki aturan dan struktural. Justru, tugas SEMA harusnya mengawasi jalannya program-program yang dilakukan DEMA,” ungkapnya kepada wartawan Araaita saat usai debat.


Lanjut, ia mengatakan bila nanti dirinya terpilih. Kemudian, terdapat kesalahan yang diperbuat. Maka, SEMA dapat melakukan tindak tegas, seperti mengkritik dan mengingatkan. Bahkan, bila kesalahan itu fatal. SEMA dapat mengadakan sidang istimewa pergantian presiden.


Pertanyaan dari partisipan tersebut, kini berlanjut pada sesi pengajuan pertanyaan antar sesama paslon. Diawali dengan pertanyaan yang dilempar oleh paslon no urut 1 kepada paslon no urut 2. Pertanyaan tersebut perihal bagaimana mengatur Dana Pengembangan Pembangunan (DPP) yang memang sering kali terjadi konflik, seperti halnya dana yang tak kunjung cair.


Pasangan Afif Ghulam Irfani dan M. Hasan Basri dengan tenang menjawab, mengatur DPP dengan memberi masukan kepada rektorat dan sistem kerja yang mandiri dan solid dengan prinsip terbuka dan transparan.


“Kami akan menyampaikan kendala dan kesulitan yang terjadi di lapangan serta kebutuhan yang dibutuhkan oleh organisasi atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), serta sistem kelola keuangan yang terbuka. Organisasi mahasiswa ataupun UKM diperbolehkan untuk melakukan pemeriksaan terkait keuangan sesuai dengan prosedur,” jelas Afif.


Afif juga mengatakan bila dirinya nanti terpilih menjadi DEMA-U dan saat kepemimpinannya terjadi permasalahan terkait DPP yang tak kunjung cair, ia akan melakukan advokasi dan mencari tahu apa sebab terjadinya permasalahan tersebut secara objektif. Sebab, hal itu memang permasalahan sebab-akibat yang tentu memiliki alasan atau sebab terjadinya. Kemudian, memberi penjelasan kepada rektorat bahwa organisasi dan UKM membutuhkan dana juga untuk menjalankan program.


Pertanyaan selanjutnya, diajukan paslon no urut 2 kepada paslon no urut 1. Pertanyaan tersebut mengenai demokrasi yang ideal yang dapat diterapkan di UINSA. Pasangan Achmad Fatkhurrozi dan Moh Rizal Adityawan tanpa membuang waktu lama paslon no urut 1 menjawab, demokrasi yang ideal ialah  pentingnya melibatkan seluruh elemen kampus, misalnya dalam debat kandidat ini. Selain, melibatkan seluruh elemen tentu juga bersinergi, membuat kebijakan yang berlandaskan hukum, dan mengedepankan kesepakatan bersama.


“Demokrasi yang sebenarnya, yaitu tidak mementingkan sebelah pihak. Keputusan diambil dari semua pihak dan mengambil kebijakan-kebijakan berlandaskan hukum yang sesuai dengan sosok negara. Tanpa mengambil hukum-hukum yang menguntungkan. Oleh karena itu, mengambil hukum-hukum yang berasaskan keadilan,” jelas Rozi.


Berdasarkan data absensi panitia, daftar partisipan-partisipan yang hadir dan terlibat dalam debat kandidat DEMA-U 2018, yaitu Dewan Eskutif Mahasiswa- Fakultas (DEMA-F), Senat Mahasiswa (SEMA), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMAPRODI), dan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).


Paslon no urut 1 mengajak UINSA untuk bersinergi dan berbhakti atau tidak sama sekali tanpa meminta imbalan, menjadikan suatu bentuk aktualisasi diri mahasiswa yang merupakan agent of change dan agent of control social dengan bersinergi dan berbhakti dengan hati nurani.


Namun, pertanyaan yang diajukan paslon no urut 2 kepada paslon no urut 1 tersebut ditanggapi oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum Raya Mahasiswa (KOPURWA) Holili, baginya pertanyaan dari paslon no urut 2 sangat tidak tepat sebab dirasa tak bisa membaca mekanisme prasyarat dalam demokrasi.


“Demokrasi kali ini adalah demokrasi yang ideal. Dalam hal pertanyaan tentu semua memiliki hak untuk bertanya mengenai demokrasi yang ideal. Tapi, pertanyaan tersebut lebih tepatnya diajukan ke KOPURWA, MUSEMA, atau ke kepemimpinan,” ucapnya.


Khoirun nisadiah fitri dianti mahasiswi semester 4 prodi Pemberdayaan Mahasiswa Islam (PMI) juga mengatakan, seluruh pertanyaan yang diajukan paslon tidak jelas dan juga pertanyaan yang diajukan paslon no urut 2 kepada paslon no urut 1 mengenai bagaimana demokrasi yang ideal di kampus, yang mana harusnya pertanyaan tersebut lebih tepatnya ditanyakan kepada KOPURWA.


“Seharusnya paslon itu mengajukan pertanyaan antara sesama dengan bentuk pertanyaan terkait bagaimana visi dan misi mereka, program apa saja yang akan direalisasikan kedepannya bila paslon terpilih, dan bagaimana sistem kerja program-program yang ada atau dibentuk dengan sesuai kondisi di kampus bila terpilih,” pungkasnya. (Ning)


No comments:

Post a Comment