Deforestasi dan Keanekaragaman Hayati di Indonesia - Araaita.com

Breaking News

Friday, 25 May 2018

Deforestasi dan Keanekaragaman Hayati di Indonesia




Deforestasi atau yang kerap kali dikenal dengan penghilangan atau penggundulan hutan merupakan suatu perilaku menyimpang yang berpengaruh negatif pada kesejahteraan masyarakat dan keberlangsungan hidup manusia. Sayangnya, deforestasi tanpa disadari atau tidak di Indonesia saat ini kian terus meningkat.
Berdasarkan data statistik Kementerian Kehutanan tahun 2011, laju deforestasi di Indonesia pada periode 2000-2010 melejit hingga 1,2  juta hektar hutan alam  setiap tahun. Sedang, 2013 – 2016 menjadi 240 ribu hektar. Walaupun angka ini telah menunjukkan penurunan,  bahaya deforestasi masih mengancam dari pola produksi dan konsumsi yang tidak bertanggung jawab.  
Perilaku tersebut demikian juga dapat mengancam kelestariaan keanekaragaman hayati yang ada. Keanekaragaman hayati yang kerap dikenal sebagai kebanggaan Indonesia. Aneka ragam tumbuhan yang dimiliki Indonesia sudah tak dapat dipungkiri lagi. Dengan flora dari Malesiana 25 persen dari spesies tumbuhan berbunga dan 40 persen tumbuhan endemik atau asli Indonesia.
Kanekaragaman tumbuhan di Indonesia terbilang cukup lah besar, dengan 38.000 jenis tumbuhan, 3.000 jenis lumut, 4.000 jenis paku, dan 20.000 jenis tumbuhan biji (8 persen dari dunia) yang telah diselidiki hanya saja 10 persen yang telah dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan, tanaman hias, obat-obatan, bahan bangunan, bahan industri, dan sebagainya. Hal ini disebabkan bukan karena tak dapat dimanfaatkan, tapi karena banyak sekali jenis tumbuhan yang belum diteliti dan diyakini berpotensi sebagai sumber obat, gizi, atau plasma nutfah oleh generasi muda.
Tumbuhan langka berdasarkan hasil uji ilmiah diketahui dan dinyatakan terdapat beberapa tumbuhan yang berpotensi sebagai sumber obat, yakni:
1.       Centella Asiatica atau pegagan, untuk mempercepat penyembuhan luka, eksim, melancarkan ASI, sari rapat untuk wanita, dan untuk menambah konsentrasi dan daya ingat.
2.      Eclipta Prostata (L) atau Urang – aring, untuk menumbuhkan rambut bayi, pewarna dan pencegah uban.
3.      Euchreta Horsfieldii atau Ki Jiwo, untuk obat sakit pinggang dan aprodisiak.
4.      Ficus Deltoidea Jack atau Tabat Barito, untuk peningkat gairah seksual.
5.      Graptophyillum Pictum Griff atau Handeuleum, untuk obat wasir dan mengeluarkan batu empedu.
Sejalan dengan ini, Generasi muda yang merupakan agent perubahan hendaknya memiliki daya untuk menciptakan terobosan baru dengan menemukan temuan dari berbagai keanekaragaman tumbuhan, hingga tumbuhan terbukti dapat dimanfaatkan. Misalnya, sebagai sumber obat ataupun gizi.
Selain keanekaragaman hayati terancam, lingkungan sekitar hutan pun juga ikut terkena dampak negatif dari deforestasi, seperti halnya banjir, tanah longsor, penggurunan, dan kekeringan. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia memiliki tanggung jawab dalam menjaga hutan yang ada hingga mampu terjaga kelesetariannya dan dampak – dampak negati tak dapat terjadi.
Indonesia memiliki kekayaan hutan yang cukup besar. Dengan  10 persen hutan tropis dunia yang masih tersisa. Ironisnya, luas hutan alam asli Indonesia kini menyusut. Indonesia kehilangan hutan aslinya lebih dari 75 persen. Bahkan, penebangan hutan di Indonesia tak lagi terkendali selama sepuluh tahun.
Deforestasi tersebut terjadi lantaran disebabkan oleh banyak faktor, seperti penyelewengan kuasa pemerintah, ketidaktahuan nilai hakiki menjaga dan melestarikan hutan, kurangnya nilai arif dan bijaksana dalam menjaga kelestarian hutan, dan kelengahan pada pengelolaan hutan dan hukum lingkungan yang kurang memadai.
Tumbuhan yang paling tinggi terletak di hutan hujan primer dataran rendah di Kalimantan dengan sekitar 10.000 tumbuhan biji, 34% diantaranya adalah tumbuhan endemik. Serta hutan di Sumatra dan Irian jaya kaya akan jenis tumbuhan.
Tumbuhan endemik adalah jenis–jenis yang sebarannya terbatas, hanya dapat ditemukan secara alami di daerah tertentu saja. Salah satu jenis tumbuhan endemik di Indonesia yang terkenal adalah berbagai bunga rafflesia, misalnya rafflesia arnoldi (endemik di Sumatra Barat), R. Borneensis (kalimantan), R Ciliata (Kaltim), R. Horsfilldi (Jawa), R. Patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. Rochussenii (Jawa Barat), dan R. Contleyi (Sumatra bagian Timur).
Sayangnya, meski keanekaragaman tumbuhan yang ada di Indonesia begitu beragam dan besar. Indonesia masih melakukan impor sumber daya hayati, misalnya kentang, singkong, wortel, kopi, karet, dan kelapa sawit.
Di sisi lain, perlu diketahui juga bahwa Indonesia memiliki banyak tumbuhan langka dan punah. Dengan 393 jenis tumbuhan terancam punah berdasarkan data yang diungkapkan International Union For Conservation of Nature (IUCN).
Tumbuhan itu dapat punah demikian karena disebabkan oleh banyak faktor, yaitu adanya alih fungsi lahan, eksploitasi lahan, pencemaran ekosistem baik darat dan perairan, pengaruh tanaman luar yang bersifat invasif, dan penebangan tanaman yang dilindungi, serta perburuan hewan langka, seperti bedali, putat, kepuh, klowak, bendo, mundu, sawo kevik, winong, bayur, gaharu, dan cendana.
Hutan hujan tropis yang diperkirakan mengandung 50 persen – 90 persen keanekaragaman hayati dunia. Maka, memiliki upaya pembabatan hutan tropis yang menyebabkan pada hilangnya 15 persen spesies hidup. Dimana hutan dan keanekaragaman hayati merupakan satu – kesatuan yang tak dapat dipisahkan.
Selain itu, Indonesia kaya akan keanekaragaman hewan, banyak diantaranya hewan endemik. Hewan endemik misalnya harimau jawa, jalak bali putih di Bali, badak bercula satu di Ujung Kulon (Jawa Barat), bikturong, monyet, tarsius di Sulawesi Utara, kukang dan maleo di Sulawesi, dan komodo ddi pulau Komodo. Sedangkan, hewan langka, seperti babi rusa,harimau Jawa, macan Kumbang, harimau tutul, orang utan, badak Sumatra, tapir, gajah, bekanton, komodo, benteng, elang, trolek Jawa, cendrawasih, kanguru pohon, maleo, kakatua raja, rangkung, kasuari, buaya muara, buaya irian, penyu hijau, dan ular sanca.
Potensi keanekaragaman hayati akan terjaga dan terlestari, bila masyarakat bergerak bersama dalam menjaga dan melestarikan hutan dan keanekaragaman hayati yang ada hingga nantinya dapat membawa kesejahteran pada masyarakat dan membantu dalam keberlangsungan hidup manusia, sebab keanekaragaman hayati memiliki potensi besar dan bermanfaat dalam berbagai macam aspek,
  1. Ekonomi
       Sumber pendapatan masyarakat dan devisa negara dengan berbagai macam potensi, baik dari tumbuhan ataupun hewan.
  1. Biologis
       Penunjang keberlangsungan hidup semua makhluk hidup, sebab manusia membutuhkan tumbuhan untuk tetap dapat bernafas, hewan membutuhkan biji tumbuhan, dan demikian keseluruhan saling membutuhkan.
  1. Ekologis
       Menjaga keseimbangan alam
       Menjaga kestabilan iklim global
       Membantu mengurangi tingkat pencemaran udara
  1. Sosial
       Bagian sistem dan budaya setempat
       Tempat rekreasi, olahraga, hiburan, dan pendidikan
Pelestariaan sumber daya alam menjadi hal terpenting untuk tetap menjaga kebermanfaatan yang dimiliki. Namun, pemanfaatan yang dapat mengancam kelestarian mestinya dapat dipertimbangkan kembali secara arif dan bijaksana sebelum bertindak. Misalnya, pemanfaatan kayu hutan secara berlebihan.
 Di sisi lain perlunya melihat pada peningkatan jumlah penduduk Indonesia dan kemajuan ilmu tekhnologi, yang juga mendorong tindakan eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA), yang perlu dipahami dalam hal ini penduduk demikian harus dapat mengerti dan memahami bahwa hutan dan keanekaragaman hayati yang ada memiliki banyak manfaat.
 Oleh karena itu, seluruh masyarakat mestinya menanamkan sikap arif dan bijaksana dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati dengan selalu mempertimbangkan aspek manfaat dan aspek kelestariaan pada setiap eksplorasi sumber daya alam. Pemerintahan juga harus bersikap tegas dengan membuat kebijakan terhadap perbuatan deforestasi yang kian terus meningkat. Hukum mengenai deforestasi dan keberlindungan keanekaragaman hayati juga terus dijunjung tinggi dan ditegakkan demi kesejahteraan masyarakat dan keberlangsungan kehidupan manusia. Integristas masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, serta badan pemangku hukum bergerak bersama dalam satu tujuan, yakni menjaga dan memelihara hutan dan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Oleh Ning Izmi Nugraheni
Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam


No comments:

Post a Comment