Waspada! Modus Seminar Gratis, Penipu Berkedok Rektor UINSA. - Araaita.com

Breaking News

Monday, 7 May 2018

Waspada! Modus Seminar Gratis, Penipu Berkedok Rektor UINSA.

Doc. Istimewa

Araaita.com - Sabtu (5/5) telah terjadi penipuan dengan modus pengakuan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) Abd A'la. Penipu berdalih akan memberikan beasiswa dan membiayai seminar gratis selama di Jakarta yang akan dibina dan ditanggung oleh kampus, penipu juga meminta nomor rekening korban.

Salah satu korban dari penipuan tersebut adalah LM, salah satu mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam yang telah diwisuda pada bulan Februari lalu. Korban mengatakan awal ditelfon yaitu saat siang hari sekitar pukul 13:00 WIB dengan modus awal meminta nomor seorang lelaki bernama Rijal, namun korban tidak punya dan mengira telfon tersebut salah sambung, namun selanjutnya korban digiring ke pembicaraan dan mengatakan bahwa telfon ini tidak salah sambung dan penelfon mengaku dirinya adalah Abd A'la sebagaimana Rektor UINSA saat ini. Disela pembicaraan tersebut korban tidak percaya jika itu Rektor UINSA, karena dari logat suara sangat berbeda.

"Logatnya bukan seperti Rektor UINSA, dia itu halus gitu suaranya, sopan, susunan katanya disusun dan mulai dari situ saya curiga," tuturnya.

LM  juga dimintai nomor rekening namun dirinya tak memberi dengan berbagai alasan.

"Saya bilang sedang ga ada di rumah, ada di rumah sakit ga bawa dompet," cetusnya.

Nahasnya sang penipu tetap memaksa dengan mengatakan bahwa telfon ini direkam dan didengarkan oleh pusat, jika tidak bisa akan dilempar ke mahasiswa lain.

"Saya juga tanya soal siapa saja yang mendapatkan seminar gratis ini, tapi ya belum dijawab katanya untuk datanya dia ga megang karena setiap orang megang satu mahasiswa," jelas LM.

"Saya ustad lo, saya pak A'la ga mungkin saya bohong. Dia juga meyakinkan seperti itu kepada saya," tambahnya kepada wartawan araaita.com.

LM juga dipaksa untuk pulang mengambil rekeningnya.

"Saya disuruh pulang, katanya ngurus ini butuh waktu tapi saya bilang sedang nunggu di rumah sakit dan disini ga ada orang, saya mencari alasan," cetusnya.

Lalu diakhir dari telefon tersebut, sang penipu menyerah dan memberi pesan terakhir kepada LM bahwasanya untuk mengetahui keterangan lanjut bisa menemui Ali Nurdin (wakil Dekan 3 Fakuktas Dakwah dan Komunikasi) dan Suhartini (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi).

"Pesan terakhirnya itu katanya kalo sudah pulang jangan lupa kirim rekening nanti bisa diproses, terus juga bilang kalo mau keterangan lebih lanjut silahkan besok datang ke Fakultas untuk menemui Ali Nurdin dan Suhartini," jelas LM.

Mengaku mengenal Ali Nurdin, selaku wakil Dekan 3 bidang Akademik dan Kemahasiswaan kepada LM. Pemimpin Umum LPM Ara Aita mencoba mengklarifikasi terkait hal itu kepada Ali Nurdin, namun beliau justru mengatakan untuk waspada dan selalu hati-hati dengan penipuan.

"Sepertinya itu tidak mungkin kalo pak Rektor, mungkin ada indikasi penipuan dan harap hati-hati," singkatnya.

Setelah dicari dari berbagai sumber, wartawan araaita.com menemukan di instagram @kongresmahasiswastpt bahwa nomor penipu tersebut sebelumnya juga pernah melakukan penipuan di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.

Tidak hanya pada satu mahasiswa, dengan nomor berbeda mahasiswa dengan inisial FR prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam semester 6 juga menjadi korban, dengan modus mengaku wakil Rektor tiga UINSA, Ali Mufrodi, dengan alasan yang sama yaitu untuk mengikuti seminar gratis di Jakarta dimana semuanya akan dibiayai oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI, red).

"Awalnya nelfon sampai tiga kali, ditelfon pertama tanya tentang HMP KPI, tanya siapa ketuanya sekarang, dan disitu saya masih belum curiga karena dia ngomong dengan menggebu-gebu," jelas FR.

"Pada saat telfon kedua, langsung nyebut nama saya  dan tanya apakah saya sudah dapat pemberitahuan dari Dekan bahwa akan ada kegiatan seminar gratis,  yang akan dilaksanakan pada tanggal 13-14 Mei dan itu gratis tanpa biaya dan akan didanai oleh DIKTI sebesar 3 juta rupiah dimana saya harus mengirim nomor rekening untuk pengiriman dananya dan disitu saya mulai curiga,"  terangnya.

"Disitu saya disuruh memberi nomor rekening, tapi saya bilang sedang tidak ada di kampus, posisi sedang ada kegiatan di Mojokerto, dan akhirnya suruh mendikte nomor ATM disitu saya dengan refleks mendikte namun saya bohongan," ungkap FR.

Setelah ditelusuri juga di laman rekrimum.polri.go.id, nomor yang menipu sejumlah mahasiswa UINSA tersebut juga pernah melakukan penipuan di Universitas Jendral Soedirman (UNSOED, red) dengan modus yang sama pada tanggal 25 April 2018. Dan naasnya korban kehilangan uang di ATM nya setelah memberikan nomor rekening.

Ironisnya, penipuan sejenis ini juga telah terjadi sejak dua tahun yang lalu pada mahasiswa UINSA dengan modus yang sama yakni mengaku sebagai wakil Dekan 3 FDK Ali Nurdin. Korban merupakan mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam berinisal M, kejadian terjadi saat dirinya duduk pada semester 4 pada tahun 2016.

"Dulu saat semester 4 kejadian bermula ketika bersama teman di warung makan, tiba-tiba saya mendapatkan telefon yang mengaku pak Ali Nurdin, disitu juga dijelaskan saya akan mendapatkan seminar gratis, dan ditanya apakah punya ATM mandiri? saya jawab tidak punya dan disuruh meminjam ATM teman," ungkapnya.

M pun meminjam ATM temannya dan menghiraukan himbauan dari temannya agar tidak terus mencari ATM terdekat, M tetap mengikuti intruksi dari penipu tersebut.

"Dari situ saya di suruh cari ATM terdekat, dan tidak diberi waktu untuk berfikir, saya sempat meninggalkan makan siang yang belum selesai dan pergi mencari ATM, temanpun sudah mengingatkan tapi saya tidak kefikiran apapun, tidak mendengarkan teman saya dan ibu-ibu disekitar yang juga mengingatkan," tambahnya.

M juga seakan seperti dihipnotis, banyak faktor  yang terjadi dibalik penipuan tersebut.

"Seperti dihipnotis sih iya, faktornya sih dari sifat saya juga yaitu apabila mengerjakan sesuatu sebisa mungkin  saya segerakan, yang ke dua saat semester 1-3 saya hampir tidak pernah menyentuh ruang akademik bahkan yang namanya Ali Nurdin di bayangan saya belum ada, yang terakhir yang buat saya yakin yaitu saat paginya Kosma itu minta data ke anak-anak dan tidak disebutkan untuk apa, jadi saat siangnya ada yang nelfon saya kira ada koneksi sama kejadian paginya," jelas M.

"Saat saya didepan ATM  dan dilayar sudah ada tulisannya sudah transfer sebesar satu juta sekian, baru disitu saya ada rasa menyesal," terang mahasiswa asal Kediri tersebut. (Run)

No comments:

Post a Comment