Bertemu Filsuf Kebahagiaan di Makam Sunan - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 3 June 2018

Bertemu Filsuf Kebahagiaan di Makam Sunan

Dok. Dimas arta
Araaita.com  -  Malam ini saya menyempatkan diri berkeliling di area wisata religi, Makam Sunan Ampel Surabaya. Perjalanan saya dimulai di jl. Sasak. Tepat di area parkir di depan lorong menuju makam.

Begitu memasuki lorong, nuansa Timur Tengah langsung kental terasa di sekeliling saya. Bagaimana tidak, sebagian penjual yang saya jumpai di sana banyak yang keturunan Arab. 

Memasuki lorong tersebut, saya disuguhi dengan jajaran para pedagang, mulai dari pedagang pernak-pernik, pakaian muslim, gamis, roti maryam, sampai peci dan tasbih. Bukan hanya itu, di kanan-kiri jalan dapat saya temui penjual kurma berjajar rapi. Dengan berbagai varian kurma, dari yang kecoklatan, sampai kehitaman.

Namun ada satu pedagang yang menarik perhatian saya. Di tengah-tengah banyaknya pedagang kurma, pedagang satu ini justru berjualan buah potong.

Adalah Ahmad. Lelaki berbaju batik hitam yang sedang sibuk memotong buah. Ketika saya tanya berapa usianya, ia mengaku sudah hampir lupa berapa usianya.

“Paling 60-an saya ini, Nak. Wong saya jualan di sini udah 40 tahun,” akunya.

Sedangkan saya hanya melongo, 40 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kemudian saya alihkan pandangan saya pada apa yang sedang berjajar di atas gerobak.

Ada semangka, papaya, melon, dan nanas. Buah-buahannya dihargai dua ribu rupiah tiap potongnya. Kemudian saya mengambil satu iris semangka merah yang tampak menggiurkan dan memakannya.

Wajah Ahmad tidak pernah kehilangan senyumnya. ia bercerita dengan semangat. Katanya, ia berasal dari Sampang, Madura. Merantau ke Surabaya sejak masih kecil bersama orang tuanya. Sambil mengupas papaya ia melanjutkan.

“Dulu saya ke sini pas semuanya masih murah. Masih jamannya Soeharto. Sampai sekarang anak saya sudah mateng semua. Hahaha,” kenangnya.

Setelah menyalakan sebatang rokok, ia melanjutkan ceritanya. Baginya, menjadi perantau bukanlah hal yang mudah. Ia juga sempat beberapa kali berganti pekerjaan. Lelaki berpeci putih ini mengaku bahwa dulunya, saat ia pertama kali di Surabaya, ia pernah menjadi buruh di pasar.

Belum lama menjadi buruh di pasar ia kemudian merasa kurang nyaman karena harus ikut orang.

“Ndak lama, Nak. Abis itu saya ganti jualan ayam,” ungkapnya berdiri di samping gerobaknya sembari mengingat-ingat.

Saya masih saja mendengarkan dengan antusias, mengambil semangka saya yang kedua. Sedangkan Ahmad, ia masih dengan sebatang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, ia melanjutkan bercerita.

Ternyata berjualan ayam juga bukan peruntungan yang baik baginya. Barulah kemudian ia memilih berjualan buah potong. Lantas saya bertanya kenapa memilih berjualan buah potong di Sunan Ampel, kenapa tidak ikut-ikutan jual kurma?

Sambil melayani pembeli ia bergumam. “Haha, ya saya coba-coba aja, Nak. Kan enak jual buah, seger,” kelakarnya.

Kemudian ia kembali mengupas buah, menambah stok buah yang siap dijual.

Seakan menjelma bagai seorang filsuf, Ahmad kemudian membahas tentang kebahagiaan. Katanya, kebahagiaan seseorang siapa yang tahu, tidak bisa diukur dari apa pekerjaannyam berapa penghasilannya. Kemudian ia membetulkan peci yang ia kenakan. 

“Tidak ada yang tahu, saya bahagia dengan pekerjaan sebagai tukang buah potong. Anak cucu saya sehat. Tiap hari juga bisa makan buah,” ungkapnya sambil tertawa, memperlihatkan giginya yang jarang-jarang.

Bekerja setiap hari di area makam sunan jurtru membuat sang filsuf kebahagiaan itu merasa senang, lantaran lokasi tempat ia berjualan selalu ramai. Ia juga senang karena setiap hari bisa bertemu dengan orang baru dan cerita baru. Bangganya sembari menata semangka di atas gerobak.

Saking asiknya berbincang, tanpa sadar ternyata sudah dua potong semangka saya lahap. Tidak menyangka di tengah kerumunan pedagang dan lalu-lalang pengunjung, di area makam sunan ampel, saya bertemu seorang filsuf kebahagiaan dalam diri seorang pedagang buah yang telah menua. (Dimas Ayuna)

No comments:

Post a Comment