Literasi Sastra dan Pemuda - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 13 September 2018

Literasi Sastra dan Pemuda

Dok. Istimewa

Tiada kisah paling indah kisah kasih di sekolah, nyanyian itu sedikit menggambarkan betapa indahnya masa muda. Namun sayangnya banyak sekali remaja zaman sekarang yang menyia-nyiakan masa indah tersebut dengan berhura-hura. Tak ayal memang masa remaja identik dengan masa alay namun sekarang bukan saatnya, zaman telah berubah pemikiran lamapun juga harus diubah.

Berbicara soal masa muda, kita pasti akrab dengan masa depan Indonesia karena merekalah pundak masa depan Indonesia bagaimana kita mencetak generasi muda agar melek pendidikan dan digital. Tidak  berhenti sampai disitu pendidikan tanpa membaca maka nilainya 0.

Karena suatu Negara yang menempatkan buku ditempat paling atas maka disitulah puncak kemajuan negaranya. Namun naasnya, Indonesia berada diposisi terbawah tingkat membaca dan menulis paling rendah sedunia yaitu 0,001 persen versi UNESCO pada risetnya tahun 2011, itu menunjukkan bahwa diantara 1.000 penduduk hanya ada 1 orang yang masih mau membaca dengan serius. Bahkan, Most Literate Nations In The World pada Maret 2016 merilis tingkat Literasi International yang menempatkan Indonesia berada di urutan ke- 60 dari total 61 Negara.  Miris bukan?

Mengandalkan retorika tanpa mau membaca maka itu hanyalah omong kosong belaka. Membaca merupakan jendela dunia yang dapat mengubah pemikiran seorang. Bagaimana bisa mencintai dunia menulis jika membaca saja enggan, menulis khususnya sastra pada era saat ini sering dikaitkan dengan kalimat atau kiasan indah saja. Namun sastra tidak berhenti sampai disitu sastra tidak sekedar kalimat indah yang dirangkai.

Sebuah karya sastra mengandung kalimat yang begitu dalam disetiap katanya hingga hurufnya, hanya orang yang mempunyai tingkat membaca dan imajinasi tinggi mampu membuat sebuah karya sastra yang begitu indah dan mudah dimaknai oleh khalayak karena sastra tidak sekedar kalimat kiasan yang hanya mampu dipahami penulis sendiri.

Tak dapat dipungkiri banyak kasus yang terjadi karena kesalahan memaknai sebuah karya sastra, dimana khalayak menilai itu bermakna tidak baik namun penulisnya bermaksut untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan baik.

Seperti contoh kasus puisi ibu pertiwi yang membandingkan antara cadar dan konde, syair dan kalimatnya menuai kontroversi dan menyebabkan banyak kebencian apalagi Indonesia saat ini sedang sensitif dengan hal yang berbau agama.

Maka disinilah manfaat sastra yang tidak hanya kiasan namun juga menginspirasi khalayak. Pemuda lah yang seharunya banyak berkontribusi di dunia sastra Indonesia, melihat sangat sedikit sastrawan muda Indonesia rata-rata yang terkenal hanya sastrawan yang sudah tua seperti Emha Ainun Madjib, Sujiwo Tejo dan pemudalah yang akan menggantikan mereka nanti. Tanpa pemuda lantas siapa lagi?

Saat ini sudah banyak pemuda yang menggemari novel dengan bahasa sastra ringan, apalagi yang bergenre romance maka akan cepat laris dipasaran.

Namun sedikit yang menyukai sastra berat seperti karya-karya sastra Pramodya Ananta Toer, namun menyukai sastra novel remaja itu saja sudah point plus karena setidaknya mereka masih suka membaca dan dapat terinspirasi dari bacaan tersebut untuk berubah menjadi lebih baik dan memiliki imajinasi untuk menulis.

Dengan adanya sastra inspiratif maka banyak pemuda yang semakin produktif, menciptakan karya-karya sastra memperbaiki tingkat membaca dan menulis Indonesia, maka dengan sastralah kunci menarik perhatian para pemuda karena satu tulisan dapat mengubah banyak kepala.

Sangatbaik jika sastra tersebut menginspirasi hingga mengubah dunia. Karena kunci yang paling tepat untuk mengubah dunia adalah dengan menulis dan membaca.

Memang pada hakikatnya Sastrawan tidak bisa dijadikan sebagai pekerjaan, karena mencintai sastra adalah hobi bukan pekerjaan, mencintai sastra harus dengan cinta karena rasa tersebutlah yang akan melahirkan karya sastra yang menawan dan berkesan dihati para pembacanya. 

Pemuda dizaman ini sudah seharusnya mencoba untuk mencintai menulis apapun itu bentuk tulisannya, karena para cendekia yang pandai berbicarapun juga menulis. Tidak ada yang bisa sukses tanpa menulis.

Menjadi produktif diusia muda sangat mudah jika kita mengasah hobi kita, apapun hobi yang kita miliki membaca dan menulis seolah tak bisa lepas dari kehidupan kita, itulah kunci pendidikan dunia.

Keduanya seperti paket dari pendidikan dan tak bisa lepas dari kurikulum manapun. Apalagi teruntuk kalian yang memang mencintai dunia menulis sastra, Indonesia butuh kontribusi kalian untuk memajukan bangsa melalui karya-karya indahmu. Karya sastramu.

Mulailah dari sekarang, jadilah yang menginspirasi dikeluargamu lalu temanmu, daerahmu hingga Negaramu. Banyak-banyaklah bergaul dengan teman yang juga meningkatkan hobimu, meningkatkan kecintaanmu pada menulis sastra.

Bagi remaja sastra sangat erat dengan kalimat indah di novel namun tak berhenti sampai disitu sastra mempunyai sisi bermakna lainnya, maka remaja berperan untuk memajukan dunia sastra Indonesia. Melalui karya yang menginspirasi tersebut, sorang remaja bisa turut andil menghidupkan, meramaikan dunia sastra di Indonesia yang sepi peminat, menunjukkan bahwa sastra tidak sekedar kiasan indah untuk rayuan jatuh cinta. Sastra lebih dalam dari itu, sastra tentang makna dari sebuah kata secara dalam. 

Mengapa harus remaja? Karena banyak ide kreatif banyak bertebaran di otak mereka yang masih fresh, ide-ide yang belum pernah ada bahkan mereka tau karenanya betapa berperan penting remaja bagi dunia sastra di Indonesia ini.

Sajak, kiasan yang belum pernah tertulis mereka bisa menciptakannya karena mereka yang masih segar dalam pemikiran. Karena ide kreatif memang banyak lahir dari remaja. Tapi sayangnya tak semua remaja seperti itu.

Masih banyak remaja yang menyia-nyiakan masa indah itu, masa yang seharusnya digunakan belajar dan belajar untuk memperbaiki Negara mereka. Malah digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat seperti terus bermain game, pacaran berlebihan.

Mereka lupa dengan tanggung jawab dan seolah tak punya tanggung jawab. Biasanya hal tersebut akan terasa nanti ketika mereka memasuki dunia perkuliahan yang dimana mereka akan dipertemukan dengan dunia pendidikan sesungguhnya.

Siapa yang berhak kita salahkan? Sistem pendidikan Indonesia sejak tingkat dasar? Sepertinya tidak boleh untuk saling menyalahkan karena itu sudah menjadi tugas kita bersama mencetak generasi penerus yang cerdas. Menyalahkanpun tak akan mengubah keadaan dan sistem yang sudah ada.

Maka kitalah yang berperan sangat penting untuk keberlangsungan dunia pendidikan terutama dunia sastra bagi remaja. Hingga mereka tak mengecilkam sastra yang dibilang hanya sekedar kiasan indah dengan sajak.  Menciptakan sastra tak semudah membalikkan telapak tangan, karena itu adalah permainan imajinasi.

Pesannya adalah, jangan lupa untuk terus menggoreskan pena demi perubahan. 

Oleh : Ayu Kamalia Khoirunnisa
penulis adalah mahasiswa semester III Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment