Menengok Hakikat Tuhan Dan Pluralisme Ala Sujiwo Tejo - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 13 September 2018

Menengok Hakikat Tuhan Dan Pluralisme Ala Sujiwo Tejo

Doc. Rurun / Araaita

Araaita.com - Peserta membludak, antrian sudah terjadi sejak pukul delapan. Peserta seminar memenuhi seantero ruang auditorium, kalimat-kalimat humor yang diberi Sujiwo Tejo menghadirkan tawa renyah bagi peserta yang hadir di auditorium. 

Seminar dengan model diskusi dan tanya jawab tersebut diadakan dalam rangka ulang tahun Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universits Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya  (UINSA) dengan tema “Pluralisme Masyarakat Untuk Indonesia Satu”. Acara yang berlangsung pada hari Kamis (13/9) telah berhasil membius peserta.

Diskusi diawali dengan cerita Sujiwo tentang tasawuf, bahwasanya Indonesia ini butuh ilmu tasawuf, pendidikan agama agar sesungguhnya  yang disembah itu dzatnya Tuhan bukan sekedar kata-kata.

“Jangan memberhalakan kata-kata.Tuhan itu dzat yang kita sembah seharusnya dzat itu bukan sekedar kata dan segala sesuatu yang bisa dibayangkan itu sudah bukan Tuhan. Kapan dimana bukan pertanyaan untuk Tuhan, itu untuk makhluk,” jelasnya dengan gamblang.

Lelaki kelahiran 31 Agustus 1962 tersebut memberi kesimpulan tentang Tuhan bahwasanya dia melihat Tuhan dalam tanda kutip Tuhan yang sama dengan penghayatan yang sama.

“Intinya, aku melihat Tuhan yang sama dengan penghayatan seperti pada hindu pada budha siapa tau  mungkin itu,” tambah lelaki berambut panjang tersebut.

Salah satu peserta ada yang mempertanyakan mengapa kita tidak boleh menyembah nama namun harus menyembah dzat dan bahwasanya Tuhan tidak pantas disandingkan oleh kalimat kotor.

Sujiwo lalu menerangkan bahwa setiap kegitannya dia terus menggaungkan asmaul husna dan Al-Fatihah tidak pernah lepas dari fikirannya, walau Tuhan dihina seperti apa jika hanya menyembah dzatnya bukan sekedar kata. Tidak akan berpengaruh, yang kotor sebenarnya adalah fikiran kita.

“Terus aku gaungkan asmaul husna dan Al-Fatihah, setiap apa yang aku angankan ada. Sampai aku ngeri sendiri ketika baca Al-Fatihah. Anakku dua kupanggil memek. Memek kotornya dimana? Sebenarnya yang kotor adalah fikiran kita,” jelasnya.

Sujiwo juga menambahkan bahwa dia menyuruh anaknya untuk mendoakan pelacur ketika makan.

“Setiap selesai makan kusuruh anakku mendoakan pelacur. Kenapa? Tanpa pelacur kita ga dapat ayat qauniyah. Tanpa dia kita tak dapat ayat tentang betapa sakitnya menjadi pelacur,” ungkap lelaki bersarung putih tersebut.

Sujiwo juga berkata bahwa dia tidak pernah tersinggung dikatakan apapun.
”Asal jangan ditolak untuk nyembah gusti Allah aku akan nego sampai berdarah-darah,” cetus lelaki penulis Kelakar Madura Buat Gus Dur.

Selanjutnya penjelasan diteruskan dengan menjawab beberapa pertanyaan tentang pluralisme, pertanyaan yang masing-masing dijawab dengan lugas oleh Sujiwo.

Lelaki kelahiran Jember tersebut menjelaskan bahwa mengandalkan yang sudah tidak ada dan upaya menghidupkan kembali itu pluralisme.

“Seperti menghidupkan hanacaraka (aksara jawa)  yang sudah hampir mati. Tapi kalau sedang bicara biasa kita masih tetap pakai bahasa jawa, seperti kata Bu Risma agar bahasa daerah tak punah,” terang lelaki yang memakai kaos hitam dengan bertuliskan aksara jawa.

Beberapa saat kemudian agar tidak tegang Sujiwo mengajak nyanyi peserta, dengan memanggil paduan suara, dan bersama-sama menyanyikan lagu jancuk sekaligus menghibur peserta dengan lagu tersebut. Tak hanya itu Sujiwo juga menjelaskan bahwa jancuk itu bukan makian.

Jancuk itu bukan makian. Jika dengan jancuk aku tak bisa menjumpaimu maka dengan airmata mana lagi kubisa menggapaimu,” terangnya sembari tersenyum disambut tepuk tangan meriah peserta.

Selanjutnya Sujiwo juga menambahkan bahwa pluralitas harus dipertahankan dengan pluralisme.

Pluralitas harus dipertahankan dengan pluralisme. Semuanya sudah ada genetiknya. Padang tradisi intelektual, Jawa tradisi perenungan, mistis di Bali. Mungkin karena itu pluralitas harus ada, kalau mati harus dihidupkan kembali,” tambahnya.

Sujiwo menerangkan bahwa tujuan pluralisme bukan untuk mencegah perang.
”Karena perang itu sudah rahasia Tuhan, pluralitas kita jaga dengan pluralisme,” pungkasnya.

Seminar diakhiri dengan menyanyikan lagu pada suatu ketika, lagu Sujiwo yang dibuat pada tahun 1998 dan pernah meraih penghargaan Internasional. (Run)



1 comment: