Kebingungan Membawaku ke Rumah Tuhan - Araaita.com

Breaking News

Friday, 19 October 2018

Kebingungan Membawaku ke Rumah Tuhan

Dok. Sofi arta
Araaita.com - Sore itu bermula di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (Uinsa), saya melangkahkan kaki mengitari bangunan-bangunan hijau itu.

Hampir setengah jam saya berjalan tidak memiliki tujuan, saya terus melihat disekeliling kampus, melihat mereka (mahasiswa) sibuk dengan kegitannya masing-masing.

Hingga akhirnya saya meninggalkan bangunan itu, saya memutuskan untuk memesan kendaraan online dan beranjak dari tempat tersebut. Begitu keluar dari tempat itu, saya disuguhi suasana perkotaan: suasana bising kendaraan, macet, dan udara bercampur asap.

Saya berkendara sembari melihat pemandangan kota Surabaya dan bangunannya yang tinggi itu. Namun pandangan saya tertuju pada satu bangunan disana, yaitu rumah Tuhan atau masjid Al-Akbar Surabaya.

Hati ini tertarik untuk bertamu pada-Nya, saya kagum melihat bangunan itu. Akhirnya saya memutuskan singgah di masjid tersebut.

 “Dek, ini acara apa? Kapan?,” tanya bapak berkaos itu.

Ya.. terlihat disana banyak orang sibuk menyiapkan panggung dan menggotong sound untuk keperluan sebuah acara. Masjid Al-Akbar ini adalah masjid terbesar nomer dua di Indonesia yang terletak di Surabaya, didalamnya ada beberapa ruangan yang digunakan sejumlah kegiatan. Seperti Madrasah Ibtidaiyah, radio SAS FM, dll.

Gambar demi gambar saya ambil menggunakan handphone, sangat indah pemandangan senja di antara kubah masjid itu. Bangunan megah dengan kubah besar dan empat kubah kecil di sekelilingnya, menara menjulang tinggi ke langit menambah kemewahan masjid tersebut.

Saya melangkah masuk dalam bangunan itu, lagi-lagi saya kagum dan tertegun melihat pemandangan di sana. Kenapa begitu? Saya terenyuh mendengar suara anak kecil mengaji, orang membaca kitab, dan bershalawat terdengar di telinga saya. “Ternyata masih banyak orang yang ingin mengenal Tuhan,” ucap dalam hati saya.

Tidak hanya anak kecil, remaja, bahkan lanjut usiapun belajar mengaji ditempat itu. Suara yang terbata-bata melafalkan ayat al-Qur’an, sambil melihat  dengan wajah malu kearah saya, saya balas dengan senyum ramah di bibir. 

Setiap titik tempat itu saya bertemu orang beribadah, hingga saya sendiri terdiam dan duduk menyendiri menunggu kumandang adzan. Saya melihat mimbar, dinding, dan pintu yang berwana kuning keemasan. Tak lama kemudian saya disapa oleh ibu-ibu yang juga menunggu waktu shalat.

“Mbak sini, ini jeruk makan,” ucap ibu itu sambil 
melempar jeruk.

Saya menghampiri dan mengajak berkenalan, “Ulfa mbak,” ucapnya sambil tersenyum. “Saya ibu Kholifah,” sambung ibu disamping Ulfa.

Saat itu saya dengan ibu-ibu itu duduk berdampingan, Ia teringat putrinya ketika melihat saya.

Ia juga bercerita perihal kehidupannya yang dulu di masa sulit. Hidup bersama delapan bersaudara  dengan ekonomi pas-pasan membuatnya harus bekerja keras berdagang.

“Saya dulu pagi-pagi udah bantu orang tua, sampai putus sekolah karena ga  sanggup,” lanjutnya sambil memakan jeruk.

Menurut Ulfa, kita tidak tau kehidupan seseorang nantinya akan seperti apa. Yang ia ketahui, ketika seseorang terus berkerja keras di masa muda, ia akan menikmati masa tuanya nanti.

“Apapun yang kamu kerjakan saat ini jalani penuh semangat dan ikhlas,” tutur Ulfa sambil menghela nafas dan tersenyum.

“Usaha aja juga tidak cukup mbak,” ucapnya.

Disaat susah jangan sampai kita jauh dengan Tuhan, serahkan semua kepada-Nya. Apapun itu demi kebaikan manusia itu sendiri, “Khusnudzon yah nak”, sambil mengelus pipi saya.  

Karena asyiknya bercerita, waktu terasa cepat dan adzanpun telah berkumandang. Tak disangka orang yang tidak saya kenal baru saja menceritakan hidupnya kepada saya.

Saya bersyukur, karena langkah kebingungan saya ini berbuah manis seperti halnya wejangan Ulfa tersebut. Ternyata kebingunganku sore tadi membawa langkahku menemui ibu-ibu pembawa arti kehidupan di rumah Tuhan. (Sofi H)

No comments:

Post a Comment