Realitas Pelaku penghina Tuhan - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 24 October 2018

Realitas Pelaku penghina Tuhan

Ilustrator Arta/Afis

“Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab-Nya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan.”- Sujiwo Tedjo

Video Pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang berdurasi 02.05 menit kini menjadi bahan perbincangan khalayak ramai, apalagi  kalangan muslim. Pasalnya, video yang tersebar di berbagai medsos (red: Media Sosial) tersebut dilakukan personel Barisan Ansor serbaguna (Banser)  Nahdlatul Ulama di Garut, Jawa Barat pada 21 Oktober 2018. 

Akibatnya beberapa pengguna medsos sontak langsung ikut terbakar emosi. Mereka saling membenarkan dan membela ormas (red: Organisasi Massa) yang mereka fanatikkan. Ironisnya, mereka saling unjuk kepandaian dalam cuitan kolom komentar unggahan video tersebut. 

Beberapa dari mereka yang emosi dan merasa terhina menganggap bahwa yang dibakar oleh personel Banser tersebut adalah tulisan kalimat tauhid. Kalimat yang seharusnya dimuliakan, diagungkan, dihormati bagi mereka seorang muslim menjadi sebuah penghinaan jika dibakar, apalagi diringi nyanyian dan bergembira-ria pada saat yang sama. Meski ketua Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Saiful Rahmat Dasuki, dan Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, telah memberikan klarifikasi melalui salahsatu media TV swasta dan media online, bahwasanya yang mereka bakar adalah bendera ormas terlarang di Indonesia, namun penjelasan demikian tetap  saja tak meredamkan emosi masyarakat yang sudah terbakar hingga ke jenggotnya -meski tak punya jenggot.

Melihat kritikan, kecaman, bahkan olokkan para netizen tersebut saya hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal. Melihat video pembakaran kalimat tauhid tersebut saya kembali diingatkan kelakuan lucu saya 10 tahun yang lalu. Kala itu, saya diberikan tips manjur oleh guru dan orang tua saya agar ilmu gampang masuk di kepala dengan tujuan saya bisa cerdas di sekolah. Yakni dengan mencari sedikit lembaran al-Qur’an yang sudah lepas dan robek, lalu di bakar dan meminum air putih yang sudah dicampur abunya, tanpa bernafas sedikitpun. Dengan pengecualian, saya tidak diperbolehkan untuk mengambil lembaran al-Qur’an yang masih utuh dengan lembaran yang lain. Karena saya begitu polosnya, saya lakukan hal tersebut. 

Setelah salat Maghrib, saya pun beranjak ke mushola tempat saya belajar mengaji bersama anak-anak kampung lain. Ketika sampai, saya bergerak ke arah tumpukan al-Qur’an dan saya ambil lembaran yang sudah kecoklatan dan sebagian sudah termakan rayap. Di rumah, saya langsung membakar sampai jadi abu. Setelah saya campur dengan segelas air putih, saya minum tanpa bernafas sedikitpun.

Beberapa minggu kemudian -entah ini dipercaya atau tidak- otak saya jadi encer, -seencer-encernya- ketika menangkap materi mata pelajaran di sekolah. Pelajaran apapun itu, baik umum maupun agama dengan begitu mudahnya terserap dikepala. Entah daya magis apa yang berada di saya kala itu, sehingga peribadatan saya pun juga tertunaikan dengan tepat waktu. Namun, ketika saya tak lagi melakukan ritual slengek-an itu, otak saya tak lagi encer seperti sedia kala. Yang jelas kepandaian tergantung seberapa yakin atas doa dan usaha kita. Wa Allahu a’lam. 

Bila peristiwa itu saya umumkan di masa sekarang, saya tidak tau lagi bagaimana respon khalayak muslim terhadap perilaku nyleneh saya itu. Namun, dalam otak saya masih terbayang bagaimana hukum membakar mushaf yang sudah sobek dan berserakan? Dan bagaimana juga dengan hukum membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid berserakan oleh oknum GP Ansor yang dalam klarifikasinya semata hanya ingin menyelamatkan agar tidak terinjak-injak? 

Dengan segala keterbatasan penggalian referensi, saya menemukan beberapa artikel terkait hukum membakar al-Qur’an yang sudah rusak. 

Dilansir dari konsultasiSyariah.com, beberapa hal tindakan yang harus dilakukan untuk merawat al-Qur'an  yang rusak, salahsatunya adalah membakarnya. As-Suyuthi, −ulama syafiiyah− (w-911 H) mengatakan “Jika dibutuhkan untuk membuang sebagian lembaran mushaf yang telah usang atau rusak, tidak boleh ditaruh di sela-sela tembok atau roster. Karena bisa jatuh dan terinjak. Juga tidak boleh disobek-sobek, karena akan memotong-motong hurufnya dan susunannya jadi tidak karuan. Dan semua itu menghinakan tulisan yang ada. Jika dibakar dengan api tidak masalah. Utsman R.A membakar beberapa mushaf yang di sana ada ayat dan bacaan yang telah mansukh dan tidak diingkari.” Cara tersebut guna usaha untuk menghormati nama Allah, firman Allah atau kalimat tayyibah lainnya, agar tidak sampai terinjak atau dihinakan.

Lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan kalimat Tauhid yang dibakar, seperti video viral yang dilakukan sejumlah oknum Banser? Seperti klarifikasi yang sudah saya nyatakan di atas, bahwa pembakaran tersebut motifnya bukan karena menghina kalimat Tauhid itu sendiri. Mereka hanya ingin menyelamatkan kalimat Tauhid itu agar tidak terinjak dari keramaian massa.

Meminjam pemikiran Said Nursi, ulama sufi dari Turki, dalam buku 
“Tuhan Kosmis, Perjalanan Pemikiran Said Nursi tentang makna Kalimat Tauhid” karya Ahsanul Anam, makna kalimat Tauhid “La ilaha illa Allah” ialah hasil ciptaan Tuhan, yakni alam semesta. Said Nursi memaknai rangkaian kalimat “La ilaha illa Allah” bagaikan rangkaian kepingan-kepingan bermakna yang memantulkan ke-Esaan Allah. Dengan mengetahui ciptaan-Nya, maka akan mudah untuk mengenal Tuhan. 

Dok.Google - Said Nursi, tokoh pembaharu Islam di Turki

Dari pernyataan Sang Sufi itulah, ketika melihat berbagai macam respon khalayak muslim yang saling menghina, menghujat, bahkan menjatuhkan lawan bicaranya membuat saya terpingkal-pingkal dan mules. Jika direlasikan antara pernyataan Said Nursi dengan realitas yang terjadi sekarang, bukankah dengan menghina ciptaan Tuhan kita juga secara tidak langsung menghina Tuhan. 

Saya juga teringat kembali ungkapan khas seorang Budayawan, Sujiwo Tedjo bahwa “Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab-Nya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghinaTuhan.” Sedemikian itukah kita sekarang yang sudah menjadi hamba yang sehina-hinanya? (Amj/dim)

*Penulis merupakan mahasiswa
Komunikasi dan penyiaran Islam, Semester 3

No comments:

Post a Comment