Aku Bisa Apa? - Araaita.com

Breaking News

Friday, 30 November 2018

Aku Bisa Apa?

Dok.google

Oleh: Yosi Meliawati
Hujan semalam menyisakan genangan yang terparkir di kubangan jalan, aroma tanah yang tercium sangat pekat, dan udara dingin yang semilir. Di sudut taman kota duduk seorang remaja yang lesu dan sayu, mendekap erat kakinya yang dilipat, giginya yang gemertak menghasilkan bunyi yang bisa membuat orang yang mendengarnya merasa ngilu. 

Bajunya terlihat mamal, tidak kering dan tidak pula basah. Noda kusam melunturkan warna putih yang semula menjadi warna bajunya. Wajahnya terlihat sangat pucat, pandangannya tertuju pada setiap orang yang berlalu di depannya yang tanpa sedikit pun menghiraukan keberadaanya. Tersirat seberkas harapan pada pandangannya kepada orang-orang yang berlalu untuk memberi belas kasih padanya, secuil roti atau mungkin sisa teh hangat yang mereka minum.

Cukup lama ia terdiam dan menebar pandang, hingga dingin yang mendekap memaksanya untuk lekas beranjak dan mengambil sebuah langkah. Ia mulai berjalan perlahan menjauh dari taman kota yang ramai dengan orang-orang yang  penat bekerja selama sepekan. Ia berjalan dengan sedikit tertatih, tulang-tulang kakinya terasa ngilu karena udara dingin yang terasa sampai ke tulang.

Langkahnya tidak berarah, tidak ada tujuan mau kemana. Pandangannya membidik setiap sudut jalanan yang bisa memberinya harapan akan belas kasihan, namun Kosong. Tidak ada yang menaruh rasa iba kepadanya walau pun hanya sebatas pandangan. Ia tertunduk lalu memejamkan mata, tangannya mulai memegangi perutnya yang kerocongan karena kosong sembari terus berjalan. Hingga langkahnya terhenti, karena ada telapak tangan yang mendarat di pundaknya. Ia terkejut dan secara spontan membuka mata dan menengadahkan wajahnya.

Seorang laki-laki tua yang seluruh kulitnya sudah keriput dan membawa sebatang kayu yang menopang tubuhnya berdiri terbungkuk di depan anak remaja laki-laki itu. Terlihat jelas dalam raut wajahnya rasa prihatin yang mendalam kepada anak remaja itu. Lalu ia meraih tangan anak remaja itu dan menuntunnya berjalan. Si anak remaja terdiam tidak mampu berucap apa pun karena masih diselimuti rasa terkejut, ia mengikuti langkah si laki-laki tua.

Di tengah perjalanan si remaja mulai membuka pembicaraan, ia mencoba mencari tahu siapakah laki-laki tua yang menuntunnya itu. “Kek, kakek namanya siapa? dan kita mau kemana kek?” tanyanya dengan suara parau. Si kakek tidak membalas pertanyaan si remaja dan hanya memberi senyuman yang terlihat sangat tulus.

Tidak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah bangunan kecil tetapi unik, terlihat rapi dan terawat. Di sana banyak terdapat buku, lebih mirip seperti perpustakaan. Si anak remaja itu terpana melihatnya, karena belum pernah melihat buku yang sebanyak itu berada tepat di depan matanya. Jangankan menyentuh, membaca buku pun ia tidak pernah. Biasanya ia hanya melihat gambar orang-orang berdasi yang dipajang di lembaran-lembaran koran tanpa tahu apa maksud dari gambar itu, karena ia tidak bisa membaca.


‘’Namamu siapa nak?” tanya si kakek yang memecah lamunan anak remaja.
 “Hah... eh, aku Joni Kek, ” Jawab anak remaja terbata-bata karena sedikit terkejut.

Si kakek kemudian meninggalkan Joni dan tak lama kemudian kembali dengan membawa sepiring nasi dengan lauk tahu dan segelas air putih. Melihat apa yang dibawa si kakek, Joni langsung memegang perutnya seakan teringat akan rasa laparnya. “Ini, makanlah nak,” perintah si kakek kepada Joni. Joni langsung melahap makanan yang diberi kakek dengan sangat lahap, lalu si kakek melanjutkan bicara. “Nama Kakek Jono, dan ini adalah rumah singgah yang kakek bangun sendiri. Biasanya di sini ramai, tapi akhir-akhir ini sepi.” “Kenapa sepi Kek?” tanya Joni. Kakek Jono hanya menjawab dengan mengangkat kedua pundaknya.


Kakek Jono menceritakan semua kisah tentang rumah singgahnya itu dan memberi pesan kepada Joni untuk meneruskan merawat rumah singgah itu. “Apa Kek?, aku merawat rumah singgah ini? aku bisa apa kek?” jawab Joni dengan intonasi terkejut. “Kamu pasti bisa nak, dulu kakek juga sepertimu tidak punya rumah untuk pulang, namun itu lah yang menjadi alasan terbangunnya rumah ini,” jelas kakek Jono dengan penuh kepercayaan. “Tapi bagaimana caranya kek?” “Hanya satu kuncinya Jon,” “Apa itu kek?” “Membacalah,” jawab kakek dengan tegas.

Akhirnya Joni belajar membaca, ia sangat semangat dalam belajar. Ia terus membaca dan membaca. Dan seiring berjalannya waktu Joni sukses mengembangkan rumah singgahnya dengan  donasi yang diberikan oleh donatur untuk rumah singgah. Rumah singgah yang semula hanya bangunan yang sangat kecil, kini menjadi bangunan panti asuhan yang sangat besar dan banyak anak jalanan yang sudah ditampung di panti asuhan itu. 

Dengan keberhasilannya itu Joni sadar, tidak ada hal yang tidak mungkin asalkan ada niat dan kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. Dan membaca adalah salah satu kunci dari kesuksesannya. Seperti kata pepatah “Jika kamu ingin melihat dunia, maka membacalah dan jika kamu ingin dilihat dunia, maka menulislah.”

1 comment:

  1. Semangat berkarya gan๐Ÿ˜Ž
    Mantapp๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

    ReplyDelete