Aku Siapa? - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 7 November 2018

Aku Siapa?

Dok.google



Kemarin hari Sabtu, tepat 100 hari kepergian ayahku. Sosok yang sangat kubanggakan dan kuinginkan berjumpa dengannya. 

Tepat Sabtu kemarin, ayahku berjanji berkeliling kota menggunakan sepeda motor bututnya dengan bunyi teng..teng..teng.. di bagian knalpotnya. Tanda memang sudah saatnya menyervis mesin hingga baik kembali.

Namun dia tak menepatinya. Dia bukanlah orang yang suka mengingkari janji, namun tak apa. Aku tak merasakan kecewa. 
Takdir memang suka begitu. Takdir selalu suka memainkan emosi banyak orang, tak terkecuali aku. 

Suatu ketika tbanyak orang berkata mereka semua adalah milikmu, namun takdir meluluh lantakkan semuanya dan menumpas yang katanya milikku.

Lalu, aku siapa?
 Aku hanyalah gadis berusia 7 tahun yang tak memiliki ibu sejak usiaku menginjak 1 bulan, dan aku juga tidak memiliki sosok pahlawan hidup. Saudara sedarah yang lebih tua pun aku tak punya, apalagi adik yang lebih muda dariku. Aku adalah sendiri di mata orang lain.

Aku yang selalu dikasihani, aku yang selalu menjadi pusat perhatian, aku yang menjadi alasan bagi orang lain untuk beramal. Dan inilah aku. Anak  perempuan yang belum genap berumur 10 tahun, namun harus bisa menjadi setegar wanita 29 tahun.

Aku selalu menerima hadirnya orang baru, karena takdirlah yang melakukan itu.
Sekali lagi, aku tak kecewa.

“Kau mau bermain?” ucap seorang gadis berkepang dua. Risa namanya.

Aku menggeleng pelan. Lalu tersenyum padanya. Aku harap dia mengerti, aku sedang ingin sendiri.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Aku bisa melihat garis kekecewaan dalam nadanya saat berbicara. Tapi sungguh, aku tak bisa memaksakan diriku untuk bermain saat ini.

Aku melangkahkan kaki menuju sebuah makam kecil tepat di sebelah bekas bangunan yang dulunya bengkel motor. Dulu, aku sering bermain-main di sana bersama anak pemilik bengkel. Sembari menunggu ayahku bekerja.

Namun, lagi-lagi karena takdir mengingkan aku untuk tidak bermain dengan gadis itu, takdir mengambilnya secara paksa.

Aku duduk di sebelah pusara bertuliskan nama ayahku di batu nisannya. Aku sedang tidak ingin menangis saat ini, tetapi bulir air mataku terasa sangat perih jika kutahan. Aku terisak.

Pertama kalinya aku kecewa terhadap takdir. Aku kecewa terhadap Tuhan. Dia mengambil semuanya dariku secara paksa. Dan aku, lagi-lagi harus merasakan kehilangan.

Ibu, ayah, keluargaku, semuanya telah dirampas. Lalu kini, aku dengan siapa?
 Aku juga ingin memiliki ayah yang bisa mengajakku bermain saat pulang kerja. Aku ingin sarapan di pagi hari sembari disuapi Ibu.

Aku menangis semakin terisak. Lalu sekarang, aku harus bagaimana? Rumah tak ada, keluargapun tak punya. Aku sebatang kara. 

Dengan punggung tanganku, aku menghapus air mata sembari berdiri

Hari akan malam, senja seakan menjadi tanda pamit bahwa dia akan berpedar mengitari bumi di belahan lain. 

Aku berjalan menuju kolong jembatan tempat biasa aku merebahkan tubuh dan bermain dengan anak usiaku yang tanpa sadar dipermainkan oleh takdir. Lagi-lagi, layaknya aku.

Aku melihat teman-temanku bermain. Mereka tersenyum tanpa beban. Memang seharusnya begitu. Aku memaksakan seulas senyum. Barangkali memang harus begini. Barangkali memang aku harus sendiri.

No comments:

Post a Comment