An Interview With God: Menelisik Siapa Tuhan - Araaita.com

Breaking News

Friday, 23 November 2018

An Interview With God: Menelisik Siapa Tuhan


Dok.Google


Judul film : An Interview With God
Sutradara : Perry Lang
Penulis    : Ken Aguano
Pemain  : Brenton Thwaites, David Strathairin, dan Yael Grobglas
Rilis         : 21 Agustus 2018
Genre      : Drama, Misteri
Durasi       : 97  menit
Peresensi : Nurul Isma Rahayu

Paul Asher, seorang wartawan muda yang bekerja di The Herald, divisi online yang menuliskan tentang keyakinan dan teologi. Ia mendapat banyak pengalaman dari hasil liputannya di Afghanistan yang sedang terjadi peperangan. Namun, sepulangnya dari Afghanistan, ia mulai meragukan adanya Tuhan. Paul Asher yang diperankan oleh Brenton Thwaites ini mempertanyakan apa yang diajarkan oleh agama yang dipeluknya, Kristiani. 

Awalnya Paul beranggapan bahwa menyaksikan perang dapat membuatnya lebih dekat dengan Tuhan. Nyatanya, semakin berdoa ia merasa doanya semakin kosong dan sunyi. Setelah meninggalkan Afghanistan, Paul tidak hanya mulai meragukan Tuhan, namun ia juga harus menerima kenyataan tentang perselingkuhan istrinya, Sarah yang diperankan oleh Yael Grobglas. 

Sejak kepulangannya dari Afghanistan, Paul dipertemukan oleh seorang narasumber yang mengaku sebagai Tuhan. Ia melakukan tiga wawancara dengan durasi 30 menit tiap wawancara dengan lokasi yang berbeda. 

Awalnya, saya pikir film ini akan menggiring penonton tentang aktivitas-aktivitas yang tidak jauh dari kegiatan jurnalistik seperti hasil laporan saat bertugas di Afghanistan dan kelanjutan dari laporan tersebut misalnya. Namun ternyata Ken Aguano, penulis naskah lebih memusatkan cerita pada proses wawancara kepada Tuhan. Walaupun terdapat tiga babak wawancara yang dilakukan Paul bersama Tuhan, namun konteks yang tersampaikan hanya seputar hakikat Tuhan yang ingin menolong dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi hamba-Nya, yakni retaknya pernikahan Paul dan Sarah. 

Dari setiap sesi wawancara tersebut selalu memiliki hal unik yang membuat saya penasaran dan tertarik untuk menonton film ini sampai usai. Sesi wawancara yang dilakukan pertama kali, Paul menemui Tuhan di sebuah taman. Namun yang mengherankan, Paul mengetahui lokasi Tuhan melalui penutup saluran air yang terdapat gambar anak panah.  Berlanjut di wawancara kedua berlokasi di sebuah panggung teater yang didalamnya hanya ada Paul dan Tuhan. Sedangkan wawancara terakhir dilakukan di sebuah ruangan kosong. Hal yang membuat saya bertanya-tanya, setiap pertemuan itu tidak ada visualisasi dimana mereka akan melakukan kegiatan wawancara selanjutnya, baik via telepon ataupun di akhir wawancara. Namun semua kebingungan itu terungkap di akhir cerita.

Setelah wawancara kedua, Paul meminta temannya yang bernama Matt untuk menyelidiki identitas Tuhan yang ia wawancarai. Paul mengirim foto lelaki yang mengaku Tuhan yang diambilnya ketika wawancara pertama. Dan di wawancara ketiga, ketika Paul sudah merasa wawancara selama tiga hari bersama Tuhan yang tidak membuahkan hasil, ia memutuskan untuk mengakhiri dengan rasa jengkel. Bersamaan dengan itu, handphone Paul berdering karena Matt mengirim pesan yang mengungkapkan bahwa Tuhan yang ditemui Paul ialah orang yang sudah meninggal 12 tahun yang lalu di Afghanistan. 

Paul yang telah menuruni anak tangga memutuskan untuk kembali ke ruangan itu. Namun sebelum ia masuk ke ruangan itu, Paul berpapasan dengan seorang pekerja dan bertanya perihal ruangan itu. Namun pekerja itu mengakatakan bahwa ruangan itu adalah gudang. Anehnya, ruangan tersebut didorong oleh sang pekerja dan tidak terbuka. Namun ketika  pekerja tersebut telah pergi, Paul mencoba membuka pintu itu dan ternyata pintu itu dapat terbuka. Perdebatan antara Paul dan Tuhan pun dimulai. Di sinilah terungkapnya sosok yang mengaku sebagai Tuhan. Ia mengaku datang karena Paul yang memanggilnya, Paul berdoa dan Tuhan menemui.

Film ini sangat menarik untuk ditonton. Banyak sekali misteri dari alur cerita yang disajikan. Selain itu, pesan-pesan non verbal pun menimbulkan sensasi magis tersendiri, terutama bagi penonton penyuka genre film misteri. Namun, ibarat bumerang, meskipun pesan non verbal di kisah ini mampu menghasilkan efek magis dan mosterius namun di beberapa bagian justru membuat saya gagal paham. Seperti pada adegan Paul yang berhenti tepat di depan sepedanya setelah melakukan wawancara pertama dengan Tuhan. Di sana tergambar ia sedang memandangi sekitar, namun tiba-tiba seperti ada butiran-butiran salju turun, tetapi ketika ia pergi dari taman itu butiran-butiran salju tersebut sudah tidak ada. 

Selain itu, film ini juga mengajarkan cara kerja dan penerapan kode etik yang baik sebagai seorang wartawan. Jadi sangat disayangkan jika orang-orang yang ingin berkecimpung di dunia jurnalistik melewatkan film ini. Namun, film ini akan terlihat membosankan bagi orang-orang yang tidak tertarik dengan dunia jurnalistik, karena film An interview With God ini menyita banyak durasi untuk adegan duduk berhadapan saat wawancara.

No comments:

Post a Comment