Being Normal is Abnormal - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 18 November 2018

Being Normal is Abnormal

Dok.Google

Oleh: Anita Karolina

Apakah yang akan terjadi jika kau seringkali dihujat karena kekuranganmu? Menangis? Apakah menangis adalah pilihan? Menyalahkan Tuhan? Ataukah, kau akan terus melanjutkan hidup dan tak peduli akan sekitar yang memuakkan?

Namaku Alani, dan aku suka berenang. Berenang dalam sajak-sajak puisi yang kuciptakan dan kucari di berbagai pelosok buku-buku sastra. Aku menyukai kesendirian.

Ayahku seorang guru dan ibuku adalah penjahit profesional, menurutku. Tentu saja penilaianku didasarkan karena semua baju kami, Ibu yang menjahitnya.

Di sekolah, Aku tak punya banyak teman. Barangkali karena aku adalah anak yang diken introvert dan terkesan autis. Padahal sebenarnya tidak begitu.

Aku tidak pendiam namun aku juga tidak terlalu ramah dan aku tak merasa memiliki dunia yang berbeda dari anak-anak seusiaku.

Bahkan hingga kini, aku duduk di bangku kuliah semester 3, hampir seluruh teman-temanku beranggapan bahwa aku adalah anak yang tidak normal. Baiklah, tak apa. Prinsipku, being normal is abnormal. Jadi, bisa disimpulkan jika aku bertingkah yang menurut mereka normal maka sesungguhnya aku tidak normal.

Sebenarnya, aku ingin sekali menjelaskan beberapa hal kepada mereka. Mereka yang dengan mudahnya mengatakan aku tidak normal, aku yang autis, dan aku yang tidak sesempurna dengan mereka.

Aku lahir prematur kata ibuku. Sejak lahir, aku memang selalu mendapatkan perlakuan khusus. Maksudku, aku harus selalu di check up oleh bidan, diberi vitamin, dan tidak boleh telat minum susu. Bahkan, susu yang kuminum sebagai pengganti asi berbeda dari bayi-bayi yang lahir dengan normal.

Tahun berjalan, dan Aku tumbuh menjadi anak-anak pada umumnya. Dan tepat saat usiaku 4 tahun peristiwa itu terjadi.

Aku bermain di dekat tangga dan tak sengaja sebelah kakiku terpeleset. Aku terjatuh. Dan inilah awal dari julukan ketidaknormalan yang dikatakan banyak orang kepadaku.

Syarafku terganggu dan aku lebih lambat dalam menerima respon. Lambat dalam berfikir, bertindak, bahkan memberikan timbal balik saat berbicara dengan orang lain. Dan parahnya kata dokter, ini semua bersifat permanen. Kedua orang tuaku telah mencoba berbagai alternatif pengobatan untukku. Namun, hasilnya nihil.

Hingga kini Ibuku sering kali menangis. Aku anak tunggal dan aku mendapatkan ketidak normalan dalam hidupku untuk selamanya.

Padahal sebenarnya tidak begitu. Aku normal, hanya saja sedikit berbeda. Aku hanya lebih lambat. Dan, bukankah sedikit perbedaan bukan berarti kita tidak normal bukan?

Menurutku, banyak manusia yang sering kali merasa harus selalu bertemu dengan banyak orang yang sepemahaman dan sepadan dengan mereka.

Mereka tidak mengerti, bahwa untuk bersama bukan kesamaan lah yang menyatukan mereka namun komitmen untuk bersama. 

Namun, ya beginilah aku. Aku tetap bisa menjalani hidupku walau dengan kalimat-kalimat hujatan banyak orang. Karena bagiku, hidup bukan perihal kau bisa bersama dengan siapa, namun hidup adalah perihal kau memberi apa kepada dunia. Namun sebaliknya

No comments:

Post a Comment