Empat Naskah, Empat Penampilan, Satu Malam Kenangan - Araaita.com

Breaking News

Friday, 2 November 2018

Empat Naskah, Empat Penampilan, Satu Malam Kenangan

Dok.Arta/Zidny

Araaita.com - Rabu malam (31/10) ada yang berbeda dari penampakan parkiran motor yang terletak bersebelahan dengan gedung Pesantren Mahasiswa (Pesma). Terlihat dari kejauhan ramai manusia berkumpul menikmati pertunjukan teater yang bertajuk Pentas Padang Bulan. Pementasan ini merupakan persembahan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Q, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Pementasan tersebut menampilkan empat judul sekaligus, dan semua pemerannya adalah angkatan 2018 atau anggota baru Teater Q. Di awal pertunjukan ditampilkan naskah ‘Luntung Lupa Pakai Sarung’ adaptasi dari naskah ‘Luntung Kasarung’. Dengan unsur komedi yang cukup kuat membuat penonton lebih antusias menikmati jalannya alur cerita. Dilanjut penampilan kedua dengan judul ‘Kursi Putih’ adaptasi naskah Pemimpin Tua. Walaupun berbeda genre namun unsur komedi masih terasa sepanjang jalannya cerita.

Layaknya seperti lari maraton, pementasan dilanjut dengan judul ketiga lalu keempat tanpa ada jeda panjang. Nampak beberapa stage crew dan property crew bekerja cukup extra, memindahkan beberapa properti dan menata panggung secepat mungkin. Mereka bekerja dengan keadaan hampir gelap gulita, cahaya lampu sengaja dimatikan untuk menyamarkan persiapan crew, “crew kita terbatas, jadi harus extra kerjanya,” ujar Alvin selaku penanggung jawab acara.

Untuk cerita pementasan ketiga merupakan adaptasi juga dari naskah ‘Lisa Manyun’ lalu keempat berjudul ‘Algojo’ yang di sutradarai oleh Eko Guduk. Algojo sendiri menceritakan tentang seorang anak yang menjadi algojo atas ibunya sendiri, karena divonis bersalah dan dihukum mati. Gejolak lahir dari dalam diri sang anak, di satu sisi ia harus menjalankan tugasnya sebagai konsekuensi atas pekerjaannya, dilain sisi yang dieksekusi adalah ibu kandungnya sendiri. 

Akhir cerita waktu eksekusi berlangsung, pedang yang dipegang si anak untuk menumpas ibunya, justru diarahkan ke bagian perutnya sendiri dan memilih bunuh diri ketimbang membunuh ibu kandungnya sendiri. Visualisasi yang ditampilkan dengan adegan-adegan didalamnya sukses memukau puluhan manusia yang hadir malam itu. Alvin menambahkan jika dirinya dan segenap team yang bertugas merasa cukup puas dengan apa yang sudah ditampilkan, namun masih ada beberapa catatan evaluasi yang harus dibenahi, “ya semoga teater Q berkembang lebih baik lagi nantinya,” harapnya. (zid/dim) 

No comments:

Post a Comment