Penyesalan 'Dam' Meragukan Sang Ayah - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 13 November 2018

Penyesalan 'Dam' Meragukan Sang Ayah

Dok.Google

Judul buku: Ayahku (bukan) Pembohong
Tahun                   : 2018
Cetakan               : ke-22
Jumlah halaman: 304 halaman
Penerbit               : Gramendia
Penulis                 : Tere Liye
Peresensi             : Arum Putriani


Dam, anak semata wayang yang dibesarkan dengan kesederhanaan dan kasih sayang. Ayahnya termasuk orang yang mampu, walaupun tidak bisa dibilang kaya. Dalam kesederhanaan itu Dam hanya menggunakan sepeda tua untuk pergi ke sekolah. Bukan suatu masalah bagi Dam, apalagi dia selalu diberi suntikan semangat dari cerita-cerita ayahnya. 

Suku penguasa angin, apel emas lembah bukhara, dan pertemanan ayahnya dengan pemain sepak bola idolanya adalah cerita-cerita ajaib yang mampu mendidik Dam hingga menjadi pemuda yang baik, santun, optimis, mandiri dan selalu positif. Sungguh sebuah keluarga yang harmonis dengan segala kesederhanaannya.

Namun, semua berubah ketika Dam beranjak dewasa, ketika dia menemukan buku cerita tentang lembah bukhara dan suku penguasa angin. Dam mulai meragukan cerita petualangan ayahnya di lembah bukhara, tentang pertemuannya dengan suku penguasa angin, tentang petemanan ayahnya dengan pesepak bola idolanya. 

Hingga suatu saat Dam memberanikan diri menanyakan kebenaran cerita ayahnya, yang akhirnya membuat hubungan ayah dan anak itu berubah, dingin, dan tidak dekat seperti dulu. Dam semakin membenci ayahnya setelah kematian ibunya. Baktinya sudah tidak seperti dulu lagi, Dam membenci ayahnya, pahlawannya selama ini. 

Sampai saat ayahnya meninggal, Dam sadar bahwa ayahnya bukan pembohong. Dam tak menyangka bahwa seluruh tokoh dalam cerita ayahnya yang ia anggap fiksi hadir di pemakaman ayahnya. 

Si nomor sepuluh, pemain bola idolanya datang kepemakaman ayahnya, menceritakan kebenaran persahabatan mereka. Dam juga melihat sembilan formasi layang-layang besar berjejer di langit, Dam menyadari itu adalah layang-layang milik suku penguasa angin.

Dam sadar ayahnya adalah orang yang paling hebat dan jujur yang pernah ada. Sudah terlambat bagi Dam untuk mengatakan bahwa dirinya mempercayai ayahnya. semuanya benar, tidak ada yang keliru sedikitpun hanya saja ayahnya terlalu sederhana untuk mengakuinya. Sebuah novel keluarga yang luar biasa, penuh dengan pesan moral dan teladan kehidupan. 

Dari novel ini kita dapat belajar tentang betapa pentingnya hormat dan patuh terhadap orang tua. Bagaimana bisa satu pertanyaan Dam bisa merusak hubungan harmonisnya dengan sang ayah selama ini. Itu karena satu pertanyaan yang diajukan Dam yang melukai hati ayahnya. Ayahnya merasa tidak dihormati. Kita juga dapat mengambil hikmah bahwa seburuk apapun orang tua kita, tidak sepatutnya kita membencinya. Apalagi kalau kita belum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. 

Alur ceritanya yang maju-mundur mungkin akan sedikit membingungkan pembaca. Namun secara keseluruhan novel ini sangat recomended untuk semua kalangan. Karena banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari novel Tere Liye yang satu ini.

No comments:

Post a Comment