Berhentilah Menjadi Mahasiswa Yang Berpikir Utopis - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 21 February 2019

Berhentilah Menjadi Mahasiswa Yang Berpikir Utopis

Dok. Google

Araaita.com - Seringkali kita memikirkan sesuatu yang indah, enak, dan pokoknya tidak ingin terlibat dalam keribetan. Kebiasaan macam ini sebenarnya yang perlahan menggerogoti mental dan akal sehat kita. Wabil khusus mahasiswa dan mahasiswi. Terkadang segudang imajinasi yang indah bertebaran di alam pikiran kita. Apalagi anak muda yang baru saja selesai masa puber. Mengkhayal sana-sini, menginginkan sesuatu ini dan itu. Gaada yang ngelarang sih, elo mau mengkhayal sampai setinggi langit ketujuh pun. Tapi, kalo khayalan elo itu cuma jadi kumpulan gambaran yang menyesakkan pikiran, pusing tujuh keliling juga kan? Haddeeh.

Pernah gak, kalian ngalamin hal macam ini? tiba-tiba aja ada pikiran aneh bin ajaib lewat di saat sedang ada peristiwa tertentu. Gua yakin sih, hampir rata-rata pernah ngalamin. Misalnya, elo lagi asyiknya selancaran di gadget, eh liat komentar yang tidak sopan dan akhirnya malah kepikiran sesuatu. “Suatu saat, gua mau menciptakan alat penetralisir komentar netizen. Biar masyarakat Indonesia ramah bersosial media.” Nah, yang kaya gini nih, namanya utopis. Iya sih, gambaran yang elo utarakan itu lumayan bagus. Hanya saja, gambaran itu sulit untuk dikembangkan apabila diwujudkan. Jadi, cuma bagus dalam gambaran saja. Kalau dipikir-pikir, mau sampai kapanpun, netizen di negara ber-flower ini akan terus melanjutkan eksistensinya sebagai aktivis sosial media kok. Yaitu, berkomentar dengan merasa paling benar.

Biasanya kalau sudah menjadi mahasiswa, nalar berpikirnya mulai terangsang. Tidak heran kalau seorang mahasiswa mempunyai banyak khayalan dalam hidupnya dan terkadang terjebak dalam pikiran utopis. Mahasiswa seringkali banyak menelurkan ide atau gagasan yang menyangkut kehidupannya. Kalau semakin banyak ide disertai aksi nyata, itu bagus. Lah kalau semakin banyak khayalan tapi minim aksi? Pergi aja ke laut sana. Sebab kenyataan seringkali tak sesuai ekspektasi. 

Belakangan ini, masyarakat kita sedang gaduh pasca debat capres dan cawapres 2019 menyoal tentang kata ‘unicorn’ yang dilontarkan capres 01 kepada capres 02. Akibat tragedi tersebut pembahasan unicorn menjadi sangat akrab di telinga kita. Tapi, topik kali ini bukan membahas tentang, apa itu unicorn? Gua cuma mau ngasih tau, kalau utopis dengan unicorn adalah dua hal yang berbeda. Yang mau gua bahas itu tentang, apa itu utopis? Ada apa dengan istilah itu? 

Seperti yang gua singgung diatas, utopis itu hanya bagus dalam gambaran saja. Namun, ketika ingin diwujudkan itu sangat sulit atau bahkan tidak mungkin terwujud karena saking sempurnanya khayalan itu. Ketahuilah, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Asyiiaapp. Ingat, kita ini bukan hidup di negeri kayangan. Oleh karena itu, mending pikiran utopis itu jangan dideketin. Bagi yang jomblo mending deketin si dia aja.

Nah, biasakan mulai dari sekarang ya untuk tidak berpikiran utopis. Kalau mau mengkhayal, lebih baik yang sekiranya bisa elo wujudkan. Supaya waktu yang elo punya gak kebuang sia-sia dan cuma bikin sumpek pikiran. Kaya mantan. Gimana caranya biar gak berpikiran utopis? Semua punya cara terbaik versi masing-masing. Sebab yang mengerti diri sendiri, kan elo. Pastikan saja kalau tidak terlalu berutopis dalam berpikir. Berat. Kamu gak akan kuat. 
(Aew)

No comments:

Post a Comment