“Cerdas Melayani” Tertunda Karena Kurang Fasilitas - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 19 February 2019

“Cerdas Melayani” Tertunda Karena Kurang Fasilitas

Dok. Afis/Arta

Araaita.com - Program Cerdas Melayani dalam meningkatkan sistem layanan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Sunan Ampel, (UINSA) Surabaya, masih belum beroperasi. Program ini awalnya, diharapkan untuk mempermudah layanan surat-menyurat oleh institusi fakultas kepada mahasiswa, dosen, alumni, wali mahasiswa, serta mitra kerja. 

Abdul Halim, Dekan FDK, menerangkan belum berjalannya front desk tersebut dikarenakan beberapa fasilitas pendukung yang belum ada. Seperti komputer, printer, kursi, serta kabel penghubung ke monitor. 

“Ini semua karena terkendala keadaan yang itu di luar kewenangan kami,” tuturnya saat ditemui kru Araaita.com kemarin (18/02).

Hal tersebutlah bagi Halim yang menyebakan ketidakpastiannya kapan program tersebut dapat dimulai. Ia sendiri juga menginginkan agar program ini segera terealisasikan.

“Jadi resepsionis One Day Service (ODS) bisa dimulai setelah adanya fasilitas. Kami ingin segera. Untuk tanggal pastinya kami belum bisa memastikan,” papar Halim.


Program cerdas melayani merupakan pengembangan dari sistem ODS. ODS  sendiri merupakan sistem layanan akademik yang disediakan oleh Sistem Informasi dan Integrasi UINSA, guna mempermudah dalam urusan surat-menyurat dengan mengisi form yang disediakan secara online.   

Dibalik Makna "Cerdas Melayani"

Dengan membawa nama “CERDAS MELAYANI” dalam program One Day Service, melibatkan beberapa mahasiswa untuk menjadi volunteer (relawan) penjaga front desk. Agus Santoso, menuturkan bahwa Cerdas mempunyai makna lain yang akan menjadi semangat baru dalam pelayanan FDK. 

“Jadi itu C: Cepat, E: Efisien, R: Ringkas, D: Dedikasi, A: Amanah, S: Santun,” terang wakil dekan III tersebut.

Dalam pelibatan mahasiswa ini, Agus menjelaskan  tidak ada syarat dan ketentuan untuk menjadi valunteer penjaga front desk. Ia hanya menginginkan bagi mahasiswa yang akan menjadi valunteer mempunyai prinsip ketulusan untuk mengabdi tanpa mengharap imbalan materi. 

“ya gak ada (persyaratan dan ketentuan). Siapapun bisa Yang penting ketulusan. Nanti lihat saja,” tuturnya.

Sedikit berbeda dengan Agus, Abdul Halim, Dekan FDK, menyebutkan tiga syarat dan ketentuan yang akan direkrut nanti.

“Ada beberapa, seperti IPK minimal tiga koma keatas, terus merupakan mahasiswa beasiswa, rekam jejak (integritas atau akhlak),” Paparnya

 Halim juga menerangkan alasan mengambil volunter dari mahasiswa karena sebagai media pembelajaran dan terkait program mentor student.

Mentor student itu adalah seluruh mahasiswa yang memperoleh beasiswa, terutama kontribusi kepada lembaga,” jelasnya.
(Sip)

No comments:

Post a Comment