Jujur Saja - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 21 February 2019

Jujur Saja

berbagiremaja.wordpress.com

Oleh: Yosi Meliawati

Namaku Raina, orang tua dan teman-temanku biasa memanggilku Rain. Ayahku pernah bercerita padaku, namaku menggambarkan suasana saat aku pertama kali menghirup udara di dunia ini. Aku dilahirkan saat hujan deras di awal bulan Juni. Aku adalah anak terakhir di antara tiga bersaudara.

Aku tinggal bersama keluarga sederhanaku sejak dilahirkan hingga sekarang berada di bangku kuliah semester tiga. Kakak pertamaku sudah menikah dan tinggal bersama keluarganya sendiri. Kakak perempuanku baru saja menikah seminggu yang lalu dan juga sudah diboyong suaminya. Dari ketiga anak ayah dan bunda, mereka bilang aku yang paling lincah dan yang paling manja.

Dalam bidang intelektual aku tidak terlalu memiliki prestasi yang bagus. Hal ini sangat berbeda dengan kedua kakakku yang latar belakang intelektualnya sangat baik dan memiliki banyak prestasi gemilang, sangat berbeda denganku yang bisa dibilang tidak terlalu ambisius dalam hal-hal yang berkaitan dengan intelektual dan hanya menjalani dengan biasa-biasa saja. Aku lebih menyukai sesuatu yang dipraktikkan secara langsung daripada teori-teori yang menurutku sangat rumit. Aku sangat tidak menyukai matematika, bahkan kalau akan mendapatkan materi tentang matematika aku  harus minum obat pusing dulu.

Di kampus aku mengikuti unit kegiatan mahasiswa seni teater dan musik. Selain itu aku juga suka membuat video-video perjalanan yang inspiratif. Aku sering sekali pulang telat karena melakuakn kegiatan itu dan sering mendapat teguran dari orang tua.

Jujur saja aku tidak menceritakan kegiatan tambahan selain jam kuliah kepada orang tuaku dan hal itulah yang menjadi pertanyaan orang tuaku mengapa aku sering pulang telat. Untuk menjawab pertanyaan mereka aku hanya mengatakan kalau aku menyelesaikan tugas kuliah.

Kebohongan pada orang tua tidak sekali atau dua kali aku lakukan, aku sering sekali melakukannya karena saat aku membuat video, aku sering lupa waktu. Aku tidak menceritakannya pada ayah dan bunda karena aku takut mereka menyuruhku berhenti melakukannya. Maka dari itu selagi aku bisa akan kututupi dengan kebohongan yang sebenarnya aku tahu itu tidak baik.

Kisah ini dimulai saat aku dalam proses perekaman video inspiratif di sebuah kampung di pinggiran ibu kota. Di bawah kolong jembatan dimana anak-anak kampung pinggiran berkumpul. Mereka dikumpulkan oleh seorang relawan yang mengajari anak-anak kampung pinggiran belajar menulis dan membaca, sungguh mengharukan.

Para relawan muda itu dengan penuh keikhlasan mengajari anak-anak mengeja kata demi kata dan mengajarkan satu per satu huruf abjad dan angka-angka. Tidak terlihat sedikitpun rasa terpaksa di raut wajah mereka. Anak-anak pinggiran itu belajar dengan penuh antusias.

Seperti video-video sebelumnya, aku selalu menelusuri orang-orang inspiratif dan mendalami tentang latar belakang mereka. Dalam pembuatan video ini aku berkenalan dengan salah satu relawan muda yang penuh semangat dalam mengajari anak-anak kampung pinggiran, namanya Auliana. Auliana menceritakan bahwa orang tuanya bukanlah orang berada namun selalu mendukung niat baiknya di tengah kekurangan mereka. Auliana selalu mengatakan segalanya pada orang tuanya.

“Orang tua adalah fondasi kekuatan bagi segala sesuatu yang aku lakukan,” jelasnya.

Lalu dia menanyakan sesuatu yang tidak bisa aku jawab,

“Bukankah mbak juga begitu?” tanya Auliana kepadaku.

Seketika aku terdiam dan hanya menjawabnya dengan senyuman.

Sepulang dari pembuatan video, aku terenung oleh pertanyaan Auliana yang tak bisa ku jawab. Aku terus memikirkannya dan terpikir olehku untuk menceritakan kegiatanku pada orang tuaku, namun rasa takut akan larangan orang tua masih memberatkanku untuk menceritakan semuanya. Aku sangat bingung, hingga aku tak bisa tidur semalaman.

Kedua mata ini terus terbuka hingga cahaya matahari pagi menembus cendela kamarku dan aku langsung membuka selimut yang menutupi badanku lalu melangkah keluar kamar. Aku mencari keberadaan ayah dan bunda di ruang makan dan benar saja mereka ada disana. Tanpa berpikir lagi aku mengatakannya,

“Ayah.. bunda aku mau mengatakan sesuatu”, ucapku seraya merundukkan kepala.

Lalu tiba-tiba ayah mengatakan sesuatu,

“Ayah dan bunda sudah tau Rain, kamu tidak perlu takut,”

Seketika aku terkejut seraya melempar pandanganku kepada ayah dan bunda. Mereka hanya tersenyum kepadaku.

Melihat senyuman ayah dan bunda membuat air mataku tak terbendung lagi, aku merasa bersalah kepada ayah dan bunda dan aku menyesal telah berbohong. Aku terlalu jahat telah berperasangka buruk pada ayah dan bunda.

“Ayah dan bunda akan selalu mendukung apapun yang kamu lakukan Rain, selagi itu positif,” kata Ayah menenangkanku.

“Teriama kasih ayah... bunda,” ucapku dengan penuh rasa lega.

Semenjak orang tuaku mengetahui segala aktivitas yang aku lakukan aku menjadi lebih semangat dalam menjalani segala aktivitasku tanpa ada kebohongan untuk menutupinya.

No comments:

Post a Comment