MADRE - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 10 March 2019

MADRE



Oleh: Mamluatul Jamilah


“Aku berdiri disini
Di tempat dimana dulu
Pertama kita bertemu
Pertama kau memandangku…”

Lagu itu masih terus mengalun berulang- ulang. Mengiringi langkahku menyimak kenangan-kenangan yang tersimpan di sepanjang jalanan kampung yang kudatangi setiap tahunnya, mengikuti kenangan-kenangan yang pernah kulalui bersama dia di jalan ini.

Ya, dia. Seseorang yang sungguh tak setitik pun hilang dari pikiranku. Detail wajah dia yang masih utuh, lembut suara dia yang terus terngiang, dan senyum teduh dia yang selalu menarik ingatanku kembali ke masa bersama dia.


***

Ini musim kemarau, saat pagi menjelang matahari sudah terasa terik, tapi entah malam ini begitu dingin membuat tulang- tulang terasa ngilu. Gigi-gigi yang belum lengkap itu bergemeletuk, menciptakan irama yang sumbang. Dingin, lapar, ngilu, pening.

Kaki mungil itu terus melangkah, menggigil mencari tempat bermalam, menyusuri emperan toko-toko yang telah dipenuhi para tuna wisma. Dia terus berjalan, hingga sampai pada perbatasan belakang pertokoan yang penuh semak dan ilalang. Gelap, hanya bayang-bayang ilalang yang tampak di depan matanya. Tapi,  dia tahu di seberang padang ilalang sana ada sebuah perkampungan kecil yang tenang tentram. Mungkin di situ ada makanan dan tempat tidur. Pikirnya. Tapi di sana terlalu gelap.

Setelah sekian menit berdebat dengan hati dan pikirannya, akhirnya dia teguhkan hatinya. Dengan mantap kaki kecilnya melangkah, memberanikan diri melewati padang ilalang gelap demi dua hal, makanan dan tempat bermalam.

3 hari sudah dia hanya makan angin. Minum di kran tempat wudhu masjid, itupun jika tidak diusir marbot masjid dengan dituding mengotori masjid. Dan malam ini badan kecilnya berontak. Lelah dan lapar. Jika dia pergi ke kampung itu mungkin dia akan mendapati sebuah pintu yang berbaik hati memberikan kehangatan meski sekejap.
Tapi siapa yang tahu apa yang ada di dalam semak ilalang dan apa yang akan terjadi. Dia tak tahu ada sepasang mata menyalang tajam mengintainya dari kejauhan di balik semak-semak.


*

“Tolooong! Tolooong! Tolooong!!!” perempuan paruh baya itu terus berteriak, hingga suaranya serak, yang lambat laun makin hilang di telan kesunyian. Dia tergopoh-gopoh lari ke tengah kampung. Di sana ada pos ronda dan balai kampung. Sambil mengendong tubuh mungil yang sudah tak berdaya berlumuran darah.

Di pintu kampung sana tempat dimana dia menemukan gadis mungil di gendongannya itu tergeletak seekor anjing yang kepalanya juga berlumuran darah sebab dihantam benda tumpul. Dia mendapati anjing itu sedang menyerang gadis mungil itu yang sudah tak punya daya.

Bersyukur, di pos ronda masih ada beberapa orang. Mereka berlari mengerumuni perempuan itu.

“Anak siapa itu, Madre?“ tanya seorang peduduk.

“Saya tak tahu, Cak. Saya menemukannya di gerbang sana.” jawabnya penuh cemas.

“Cepat bawa ke pos kesehatan!” ujar penduduk lainnya.

Mereka berpencar, ada yang menuju pos kesehatan bersama Madre,  ada yang menuju gerbang kampung untuk memeriksa bangkai anjing di sana.


*

Matanya mengerjap-kerjap terasa silau. Ini dimana?. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, ruang yang sederhana tapi baru.

“Oh! Kau sudah siuman, selamat pagi.” sapa Madre dengan senyuman khasnya Sambil menyodorkan segelas air hangat kepada gadis mungil itu.

Dia tak tahu siapa perempuan di hadapannya saat ini, tapi senyuman yang terus menempel di wajahnya itu benar-benar membuatnya merasa nyaman.

“Siapa namamu, Nak? “ tanya Madre. Suaranya begitu lembut dan halus.

Dia hanya menggeleng dengan jawaban singkat. “Tidak tahu.”

“Baiklah, perkenalkan namaku Ariana. Aku biasa di panggil Madre. Dan kau, karna kau tak punya nama maka aku akan memberimu nama...emmm....” Madre berpikir keras, mata gadis kecil itu semakin membulat menggemaskan dipenuhi rasa penasaran.

“Muli!” ucap Madre spontan. 

“Muli?” tanyanya bingung.

“Iya, Muli. Muli dari bahasa Sumatra yang artinya anak perempuan.”

“ Terima kasih.” Senyum pertama yang muncul dari wajah lelahnya. Wajah yang mulai berbinar kala mendengar bahwa dia kini memiliki sebuah nama.


***

Namanya Ariana, orang yang menyelamatkanku dan mengangkatku sebagai anaknya. Wanita yang hidup sendiri di rumahnya, tanpa orang tua, tanpa keluarga, wanita yang tak pernah memiliki ikatan  apapun sampai usianya habis dimakan kanker.
Satu windu aku menghabiskan waktu bersamanya, aku tak pernah tahu mengapa ia di panggil Madre –aku tahu Madre yang berarti ‘Ibu’ setelah aku masuk SMA-. Yang kutahu saat itu adalah aku harus selalu di sisinya, mematuhi perintahnya, dan mendengarkan nasihatnya. Sampai pada waktu dimana kanker itu menggerogoti tubuh kurusnya, sebelum takdir menjemputnya, ia memintaku untuk pergi ke Ibukota usai upacara pemakamannya dengan tabungan yang ia sisihkan bertahun-tahun.

“Muli, pergilah. Bangun cita-citamu mulai sekarang, bersekolah lah di ibukota sampai ke perguruan tinggi. Terima kasih telah menemaniku sampai waktuku habis.” mulutnya tak berhenti tersenyum di wajah sayu itu. 

Wanita yang mengajariku baca tulis dan bagaimana hidup yang baik, wanita yang tak pernah meninggikan suaranya kepada siapapun dan selalu tersenyum. Wanita itu suaranya semakin lirih dan nafasnya semakin tipis.

“Tidak, Ma. Aku akan tetap tinggal di kampung ini dan merawat rumahmu.”

“ Pergilah, itu adalah permintaan terakhirku dan kebahagiaanku telah membesarkanmu.” Tangan dinginnya menggenggam tanganku, lalu perlahan ia memejamkan mata.

Disini aku hanya ingin menceritakan tentang wanita hebat yang pernah ada di hidupku. Wanita tangguh yang merubah hidupku. Wanita berjiwa besar yang menuntunku melihat indahnya dunia.

“Ingatkah kau saat itu
Kau tersenyum kepadaku
Lewat senyuman itu
Kujalani hidup.”

No comments:

Post a Comment