Refleksi Film “Mau Jadi Apa?” #Part 1: Jadi Mahasiswa atau Calon Tenaga Kerja, Hayo? - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 13 March 2019

Refleksi Film “Mau Jadi Apa?” #Part 1: Jadi Mahasiswa atau Calon Tenaga Kerja, Hayo?

Ilustrasi: Afis/Araaita
Oleh: Mohammad Afis


“Saya kuliah gak bawa tas, bawa semangat”- Soleh Solihun

Araaita.com - Siapa yang sudah pernah nonton film “Mau Jadi Apa?” karya Soleh Solihun? Jika kamu seorang  mahasiswa pastinya kamu bakalan terpingkal-pingkal dan berdecak kagum ketika menontonnya. Bagaimana tidak, Soleh yang lebih dikenal dengan seorang komika atau seorang yang punya bakat stand up comedian, dulunya adalah seorang pers mahasiswa di kampusnya. Apa jadinya jika seorang jurnalis kampus -yang katanya ahli menulis- juga merupakan ahli dalam melawak?

 Saya kira hal itu pun terjawab dengan sebuah buku karyanya yang berjudul “Mau Jadi Apa?” yang ditulis berdasarkan kisah nyatanya-kurang lebih. Lalu pada akhir tahun 2017, karyanya itu dilirik salah satu prusahaan produser film ‘Starvision Plus’ untuk dijadikan sebuah karya film yang menghibur. Dalam tulisan-tulisan yang nanti kamu baca ini, saya sebagai penulis bukan hendak menceritakan siapa Soleh, meresensi, ataupun mencoba menceritakan kembali film ini. Akan tetapi, saya hanya me-interpretasikan film ini yang nantinya akan saya tulis secara berkala atau berseri dengan sub topik yang berbeda.

Dalam film ini diceritakan Soleh dan kelima temannya mempunyai satu kesamaan, yakni mereka belum tau sebenarnya ‘mau jadi apa?’ setelah lulus kuliah nanti. Katanya sih, mau jadi Atlet; tetapi skill dan napas pas-pasan. Mau jadi anak rohis (rohani islam); gampang tiduran saat pengajian. Mau jadi pencinta alam; takut ketinggian. Mau jadi aktivis; tapi beda prioritas. 

Sebelum masuk dunia kampus, apakah kamu berpikir mau jadi apa? Dengan kemampuan Cuma-cuma itu aja, kira-kira apa yang kamu tempuh untuk mau jadi ini-itu? Cukupkah dengan hanya belajar di kelas dan besok ketika lulus menjamin kita untuk sukses? Belum lagi beberapa masalah kecil di kampus yang terasa agak menyebalkan. Seperti ngebut tugas, menunggu dosen dikelas yang akhirnya bilang ada keperluan ke luar kota, sampai minimnya hubungan sosial antara mahasiswa dengan mahasiswa, ataupun mahasiswa dengan dosen. 

Banyak dari kita yang khawatir tentang masa depan dan mungkin ada juga yang bersikap biasa-biasa saja serta bergumam “ngapain dipikir, kan masih lama juga”. Meminjam quote-nya mbah Tedjo, “Manusia punya bayangan, tapi Tuhan punya kenyataan.” Tidak ada yang bisa memastikan masa depan. Bisa saja, misalnya kita lulusan S1, Ilmu Komunikasi dan setelah lulus kita menjadi arsitek. Ataupun ada seorang reporter yang dari lulusan Manajemen Perbankan, atau pada selama kuliah, ia hanya fokus pada pengkajian sastra bahasa arab dan kemudian hari ia menjadi psikiater.

Problematika diatas bukanlah suatu barang baru dalam dunia praktik pendidikan. Benarkah kita setiap jam perkuliahan duduk menunggu kepastian datangnya dosen dan menghabiskan uang selama perkuliahan untuk nge-print makalah, pada nantinya hanya sekedar mempersiapkan diri masuk ke tenaga kerja? Dalam bahasa sederhananya “apa benar kita ini kuliah buat bersaing mencari pekerjaan?” saya rasa−semoga tidak− jika ada yang berpikir demikian, maka sia-sialah Soekarno berkoar-koar mencari 10 pemuda untuk mengguncangkan dunia.

Kekhawatiran saya −jika kita hanya nyaman dengan zona “Kupu-Kupu (kuliah pulang-kuliah pulang)− dunia yang kamu lalui sekarang akan membosankan, dan tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan bagi anak-anak cucu pada masa yang akan datang.

Saran saya, seperti kalau dalam salah satu prinsip ‘Mens sana in corpore sano’ kemudian dalam film ini diplesetkan oleh bapak si Soleh menjadi ‘Mensana in prosesano’ dan diartikan: meskipun prosesnya kesana tapi hasilnya kesono, tidak apa-apa, yang terpenting adalah prosesnya. Kesimpulannya yang perlu kita cari adalah bekal untuk menghadapi masalah-masalah yang akan menghantam seperti meteor pada suatu saat nanti. Kita perlu belajar menghadapi masalah tanpa mengeluh yang berlebihan. Seperti kata si Soleh “Saya kuliah gak bawa tas, bawa semangat” yang kalau saya tafsirkan sendiri menjadi “biarpun orang menganggap seperti apa, kita tidak boleh merasa selalu terbebani oleh masalah. Kita harus tetap tegap dan semangat dalam menyelsaikannya dengan cara kita.”

Sampai disini, saya ingin mengatakan bahwa dunia kampus itu cukup unik bagi kita. Hidup kita haruslah ada warna tentang kepedihan dan penderitaan untuk memperoleh kebahagiaan. Saya menyarankan, kita harus tentukan jalan dan mencari tempat pengembangan diri sesuai kemampuan. Toh, organisasi intra maupun ekstra kampus sudah banyak. Cobalah hal- hal baru, sebelum hal-hal baru itu dilebur dalam sejarah. 

Bersambung...

No comments:

Post a Comment